Yama dan Maya

Di dalam Weda, Yama disebut sebagai Dewa Kematian. Yama juga disebut Dewa Dharma, yang menjadi ayah dari sang Dharma Wangsa. Nama lainnya adalah Mretyu, Antaka, Kratanta, Samana, Dandi, Pretaraja dan yang lain.

Sebagai penguasa Neraka beliau memiliki pasukan para Kingkara, yang akan menyiksa para pendosa dan atma-papa yang masuk neraka.Beliau adalah penegak Dharma atau kebenaran dan keadilan, karenanya beliau menghukum manusia yang berbuat kejahatan atau dosa. Yamabrata Dumanda Karmahala, artinya Dewa Yama bertindak dengan menghukum mereka yang berbuat kejahatan.

Namun demikian Yamabrata juga bermakna pengendalian diri. Inilah landasan ajaran kesusilaan yang terpenting. Dalam kitab Sarasamuccaya dinyatakan Hyang Brata ikang inaranan Yama, pratyekanyanihan, sepuluh kwehnya anresansya, ksama, satya, ahimsa, dama, arjaiva, priti, prasada, madurya, mardawa.

Kesepuluh hal tersebut biasa disebut Dasayama : Andresangsya artinya tenggang rasa dan tidak mementingkan diri sediri, Ksama artinya tahan terhadap suka duka dan suka memberi maaf; Satya artinya tidak ingkar pada kata-kata dan senantiasa menyenangkan orang lain; Dama artinya tekun dan sopan santun dan dapat menasehati diri sendiri; Arjawa artinya benar-benar jujur; Priti artinya sangat kasih sayang; Prasada artinya pikiran hening; Madhurya berpandangan dan bertutur kata manis; Mardawa artinya tidak tinggi hati.

Yamabrata ajaran dewa Yama atau Sang Hyang Dharma ini diyakini oleh penganutnya dapat menghindarkan diri dari maya atau ilusi, belenggu kepalsuan hidup. Maya menyebabkan manusia terbelenggu oleh Wisaya atau indria, sebagai sebab melakukan tindakan dosa, sehingga terjerumus ke dalam papa neraka. Dewa Yama mengingatkan kita untuk tidak dibelenggu oleh maya (sahananing maya silwnan) penyebab kesengsaraan dan terjerembab ke dalam kawah neraka.

Disisi lain, karena dharmawangsa adalah putra Yama (Dewi Kunti, Ibu Dharma Wangsa memuja Dewa Yama) maka para pemimpin seharusnya iiienjadikan Dharmawangsa sebagai tokoh panutan. Dharmawangsa adalah penegak hukum atau Dharma, penegak kebenaran dan keadilan, dan selalu berbuat bagi kerahayuan masyarakat (kaparahitan). Berbeda dengan Duryodhana yang dibelenggu oleh kepalsuan atau maya, yang berenang di lantai karena mengiranya kolam renang yang ingin memiliki istana yang dibuat oleh Mayadanaiva, dan ingin mendapatkan kekuasaan walaupun dengan melanggar norma-norma kesusilaan. Dan sudah pasti Dharmawangsa melaksanakan ajaran Yamabratha dan sebaliknya Duryodhana tidak melaksanakannya.

Yama dan Maya adalah kata penuh makna, patut mendapat perenungan yang mendalam. Dewa Yama menunggang kerbau (Mahisa), Gagah, tetapi juga tegas. Beliau pasti akan menghukum atma papa yang dalam hidupnya tidak melaksanakan Yamabratha, tetapi terbelenggu dan terseret oleh maya.

Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 518 Pebruari 2010