Yama dan Maya

Ketika kita membaca kakawin Siwaratri kalpa pada malam Siwa atau Siwaratri yang baru lalu, selain Hyang Siwa ada tokoh lain yang menarik perhatian kita yaitu Bhatara Yama, disebut juga Bhatara Dharma. Dalam struktur kedewaan beliau berada di bawah Hyang Siwa, namun memiliki tugas penting yaitu untuk mengadili manusia. Ketika Lubdhaka mendapat perlindungan Hyang Siwa, karena ia melaksanakan Brata Siwaratri dengan tepat dan benar, maka Bhatara Yama datang menghadap Hyang Siwa menanyakan perihal yang satu itu. Karena biasanya siapapun yang berbuat kejahatan atau tidak melaksanakan dharma didunia, maka ketika dia meninggal pertama-tama ia harus menghadapi Kingkarabala, pasukan Bhatara Yama yang akan menghukumnya.

Bhatara Yama digambarkan begitu menakutkan bagi mereka yang berbuat dharma, namun ada perkecualian bagi si Lubdhaka yang juga disebut tidak pernah berbuat dharma, namun suatu kali, disaat yang tepat melaksanakan Brata Siwaratri. Lubdhaka sesungguhnya terbelenggu oleh objek indriyanya, sehingga ia disebut sebagai orang yang papa. Ia senantiasa memburu dan membunuh binatang, namun dalam penilaian Hyang Siwa ia telah melaksanakan dharma yang utama, berbeda penilaian yang diberikan oleh Bhatara Yama.

Agaknya Bhatara Yama memakai ukuran-ukuran apa yang disebut sebagai Yama Brata, salah satu diantaranya adalah Ahimsa artinya tidak menyakiti atau tidak membunuh. Ahimsa adalah ajaran terpenting dalam Yama Brata, karena inilah landasan yoga, praktek spiritual yang dilaksanakan oleh mereka yang menempuh jalan kerohanian. Namun demikian Lubdhaka dengan tidak sengaja berhasil melaksanakan Brata Siwaratri yang utama itu, sesuatu yang sangat sulit dilaksanakan oleh siapapun juga, termasuk dia yang tekun melatih Yama Brata.

Secara mendalam Kakawin Siwaratri Kalpa menguraikan betapa sesungguhnya kita harus terus menerus melaksanakan Yama Brata untuk dapat mencapai Siwa Loka. Diajarkan bahwa tidak mudah menemui jalan seperti Lubdhaka, karena brata adalah sebuah proses yang panjang yang dilakukan secara berkesinambungan. Secara tersirat juga dijelaskan bahwa dia yang dibelenggu oleh Maya atau objek indriya yang ilusif, sebagaimana juga disuratkan di dalam kakawin Arjuna Wiwaha (maya sahana hananing bhawa siluman) akan jatuh ke jurang kesengsaraan atau ke-papaan. Orang yang seperti itu digambarkan sebagai orang yang dihukum di dalam Candragohmuka atau neraka dibawah kekuasaan bhatara Yama.

Siwaratri mengajarkan bahwa pada hakikatnya manusia diikat oleh objek indriyanya (pasa) oleh karena itu ia menjadi papa. Dengan melaksanakan brata dengan fokus pikiran diarahkan kepada Hyang Siwa manusia dapat membebaskan dirinya dari ikatan tersebut, bagaikan memiliki senjata pasupati anugerah Hyang Siwa. Hyang Siwa akan memberikan anugrah pada dia yang melaksanakan brata, sementara Bhatara Yama akan menghukum dia yang dibelenggu oleh objek indriya atau maya.

Yama dan Maya menjadi bahan renungan kita karena ia menyangkut ajaran tattwa, ajaran tentang hakikat yang menjadi pegangan utama umat Hindu. Dengan membaca karya-karya sastra rohani kita memang dilatih untuk memberi makna terhadap hal-hal yang bersifat simbolis, sebagaimana kita lakukan di malam Siwa atau Siwaratri.

Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 481 Pebruari 2007