Wirata Parwa Lakon Wayang Kulit Parwa [2]

(Sebelumnya)

Sailandri
Tuwalen : 'Tentang Sailandri, Bapa merasa sangat prihatin!' Kau Merdah, telah mencermati kejadian tadi di Balai Rung. Patih Cecaka, dengan wangsit meminta agar Dewa Rekatawati, menyuruh Sailandri pindah tempat duduk. Agar Sailandri duduk disamping Dewi Rekatawati. Yang juga berarti Sailandri berada dekat dengan Patih Cecaka. Cecaka, tampaknya sangat gandrung untuk memadu kasih dengan Sailandri. Ini, sesungguhnya sebuah gelagak nekat yang buruk! Bapa sangat merasa prihatin!

Gebrak Cempala Kekayon Penyalit Cecaka Wada

Sejak kehadiran Sailandri di kraton kerajaan Wirata, Patih Cecaka adik ipar raja, penjabat angkatan bersenjata kerajaan, jatuh hati kepada Sailandri. Sekalipun Sailandri telah memberitahukan kepada Cecaka, bahwa Sailandri ialah istri lima orang Gardarwa, tetap saja Cecaka berwanti-wanti menggoda dan membujuk Sailandri agar bersedia menjadi istri Cecaka. Cecaka, pernah menyuruh Dewi Rekatawati, agar menugaskan Sailandri untuk mengantarkan minuman dengan dua buah gelas minum kosong, ketempat kerja Cecaka. (Kolusi, nepotisme jenis ini, menodai pemerintahan zaman mana saja!) Cecaka merancang kesempatan, untuk bisa berbincang-bincang empat mata dengan Sailandri, didalam satu ruang, untuk membahas tentang cinta kasih Cecaka terhadap Sailandri.

Kesempatan itu tercipta apik berkat usaha Dewi Rekatawati, sang ratu. Sailandri dengan bijaksana telah bersiap membela diri, dengan mengatakan bahwa pada saat itu Sailandri sedang datang bulan. Tidak pantas meladeni seorang perkasa seperti Cecaka. Bahkan Sailandri sempat menggeliat menyelamatkan diri, ketika hendak dirangkul oleh Cecaka diruang khusus, tertutup yang sepi itu. Cecaka dengan sigap lalu menghitung hari dan menjadwal mengajak Sailandri seorang diri, ketemu diruang studi tari kraton Wirata, pada satu malam hari. Jadwal ini dilaporkan oleh Sailandri kepada Sang Blawa.

Malam terjadwal pertemuan Sailandri dengan Cecaka di ruang studio tari tiba. Sang Blawa dengan mengenakan krudung bergaya wanita, telah berada didalam ruang studio tari. Duduk dipojok yang telah ditetapkan, menggantikan sosok Sailandri. Patih Cecaka, datang menyatakan maaf terlambat, langsung saja membuka busana. Memeluk sosok berkerudung yang sedang duduk dipojok ruang studi tari kraton. Sang Blawa tidak mau kehilangan kesempatan. Mencekik leher Cecaka yang merangkulnya dengan gemas sekuat tenaga. Sang Blawa menggenggam memelintir alat vital Cecaka. Patih Cecaka Wada, tewas sepi tanpa suara. Tulang belulang, otot darah gading Ceceka dibuat remuk luluh hancur, menyerupai onggokan lumpur daging. Dalam waktu sangat lama tidak ada pejabat kerajaan yang menganalisa untuk mengenal asal-muasal onggokan daging apa dan atau siapa. Tak ada yang tahu. Demikian Sang Blawa, telah menyelamatkan Sailandri, sekeligus telah mensiasati dengan baik masa penyamaran Pandawa di Wirata.

Gebrak Kekayon Penyalit

Gender Betel (Kekayon-vocal dalang, 'telah sangat lama berlangsung Ceceka Wada, patih terkuat di Wirata telah mati terbunuh. Berita ini sangat terlambat sampai kepada Korawa Seratus. Lebih baik terlambat ketimbang berita tidak sampai sama sekali!'. 'Duryodana menugaskan Patih Sengkuni, Adipati Karna untuk menyusun rencana strategi guna merampok binatang ternak dan harta benda kekayaan milik raja Wirata')

Kekayon Penyalit Gender Batel Menjadi Bapang Delem

Tari Ponakawan Delem dan Sangut. Mereka disela-sela tari, menggunjingkan rencana Korawa Seratus akan merampok kerajaan Wirata. Ada dua butir rencana yang siap akan dilaksanakan dengan mantap.

1. Merampok hewan piaraan di Trigata wilayah pinggiran Wirata.
2. Merampok harta kekayaan dipusat kota Wirata.

Seratus Korawa Pasukan Satu, langsung menuju Trigata, tempat pemeliharaan ternak Wirata. Dengan paksa agar segala jenis binatang piaraan Wirata di Trigata diambil paksa. Bila pasukan Wirata datang membela, agar semuanya ditawan.

Seratus Korawa Pasukan Dua, menuju arah pusat kota Wirata, merampok harta benda kekayaan kerajaan Wirata. Gebrak Cempala Geluran Suyodana Gender Batel, mengarahkan Delem dan Sangut, agar menyerahkan masyarakat mulai berangkat menuju Trigata dan Kota Wirata-Gender Gendhing Angkat-Angkat.

Perampokan di Trigata/Gender Batel Banyak binatang piaraan telah diambil dengan paksa oleh Seratus Korawa Pasukan Satu, di Trigata. Raja Wirata, yang datang mengamankan Trigata, bersama dua putra mahkkota : Arya Seta dan Arya Wretsangka ditawan oleh Korawa Seratus Pasukan Satu di Trigata. Dwijakangka, Blawa, Grantika, dan Tantipala, datang dapat membebaskan raja Matsyapati, Arya Seta dan Arya Wretsangka dari tawanan Seratus Korawa Pasukan Satu. Dan menghalau para perampok pulang kembali ke asal mereka.

Hewan peliharaan dirampok oleh Seratus Korawa Pasukan Satu, berhasil semuanya kembali kepada pihak raja Wirata dengan selamat. Matsyapati raja Wirata, bersama para putra mahkota, beserta rakyat semua pulang kembali menuju Wirata, meninggalkan Trigata dengan kemenangan gemilang.

Gebrak Cempala-Gender Batel-Kekayon Penyalit

Pusat Kota Wirata
Arya Utara, tinggal seorang diri, ditugaskan untuk mengamankan kota dan kraton Wirata. Selagi pasukan raja Wirata mengamankan Trigata, Si waria Wrethanala tetap tinggal di kraton, karena dianggap banci, tidak wajib ikut berperang ke Trigata. Studio Tari Kraton Wirata Raden Utara, hadir didalam studi kraton Wirata, meminta Wrehatnala memper-tunjukan tari putri bersama. Hiburan seni pertunjukan tari ditujukan bagi para pasukan pengaman ibu kota Wirata, yang dipimpin Arya Utara

Tari Putri Bersama Diiringi Gender Gendhing Rebong

Arya Utara sangat bangga menikmati seni pertunjukan tari Rebong disajikan bersama oleh para putri kraton Wirata termasuk Diah Utari, ditata apik arti oleh Wrehatnala. Arya Utara, bahkan bergerak ikut melantai menari bersama-sama. Gebrak Cempala-Kekayonan Penyalit-Teror Perampok Menyerang Wirata. Arya Utara mengetahui kota Wirata didatangi perampok menteror ibu kota. Arya Utara mengaku bahwa tidak punya kusir untuk mengendalikan kereta perangnya. Sailandri membujuk Arya Utara agar setuju dan mau menerima Waria Wrehatnala untuk menjadi kusir kereta perang Arya Utara. Arya Utara setuju!

Tiba dihadapan musuh, Arya Utara memerintahkan Wrehatnala membelokkan keretanya kembali ke kraton, karena takut melihat jumlah musuh sangat banyak. Waria Wrehatnala, mengikat Arya Utara erat-erat di tiang kereta perang. Agar Utara tidak bisa lari meninggalkan kereta perang itu. Wrehatnala, membelokkan kereta perang menuju tempat sebatang kayu besar. Dari rongga pohon kayu besar itu Wrehatnala mengambil banyak senjata yang telah disimpan dalam rongga kayu besar itu.

Kembali mengendarai kereta perang Arya Utara, Wrehatnala berhasil menghalau musuh jauh-jauh keluar dari kota Wirata. Para teroris perampok pergi ketakutan! Arya Utara terkagum-kagum menyaksikan ulah Wrehatnala menghalau musuh.

Matsyapati Dikraton Wirata

Raja Matsyapati, Arya Seta, Arya Wretsangka, diiring oleh Dwijakangka, Blawa, Grantika dan Tantipala, telah tiba didalam kraton Wirata, kembali dari Trigata. Raja sangat gembira mendapat laporan, bahwa Arya Utara, telah-berhasil dengan baik menghalau musuh jauh-jauh keluar ibu kota dan kraton Wirata. Dwijakangka menyangkal : "Yang berhasil menghalau musuh dari ibu kota Wirata, adalah waria Wrehatnala', tukas Dwijakangka. Pertengkaran kecil tak terelakan terjadi antara raja dengan Dwijakangka.

Arya Utara sendiri menuturkan langsung kepada raja Matsyapati tentang apa yang sesungguhnya telah terjadi. Bahwa Wrehatnalalah berhasil menghalau semua musuh Wirata jauh keluar dari kerajaan. Utara sendiri memuji kegemilangan Wrehatnala dihadapan raja Matsyapati. Raja menjadi kikuk disamping Dwijakangka.

Pandawa telah satu tahun lamanya menyamar, mengabdi di kerajaan Wirata. Raja Matsyapati dan para putra mahkota Wirata, berjanji akan berada dipihak Pandawa dalam perang Brata Yudha, yang segera akan akan berlangsung di Tegal Kuru Kshetra. Diah Utari, diserahkan raja untuk menjadi istri Arjuna. Arjuna menerima Diah Utari untuk menjadi istri putranya yang bernama Bimaniu.

Source: Wayan Diya l Warta Hindu Dharma NO. 488 Agustus 2007