Wirata Parwa Lakon Wayang Kulit Parwa

Kerajaan Wirata, diperintah oleh raja bernama Matswapati atau Matsyapati. Permaisuri raja bernama Dewi Rekatawati. Adik ipar raja bernama Cecaka, pejabat angkatan bersenjata Wirata. Cecaka telah berhasil "memperluas kekuasaan Wirata sampai ke wilayah Trigata. Menyebabkan Sang Cecaka sangat disegani di Wirata. Para putra-putri raja, bernama Arya Seta, Arya Utara, Arya Wretsangka, dan Diah Utari.

Pandawa telah rampung melaksanakan hukuman pembuangan didalam hutan selama dua belas tahun lamanya, karena kalah main dadu. Sekarang Pandawa wajib melaksanakan hidup menyamar selama satu tahun, didalam sebuah kota kerjaan. Wirata, adalah tempat dipilih oleh para Pandawa untuk melaksanakan penyamaran selama satu tahun.

Para Pandawa datang menghadap raja Wirata secara bergilir, mengekan ciri busana penyamaran, dengan Via samaran masing-masing berbeda. Pertama-tama Sang Yudhistira datang menghadap raja, dengan ciri seorang brahmana berwawasan luas, ahli spiritual intelektual, bernama Dwijakangka. Bersedia menjadi teman raja, lawan berdiskusi wawasan ketatanegaraan, spiritual dan intelektual.

Kedua datang Sang Bima Sena menghadap raja Wirata, mengaku bernama Sang Blawa, ahli ilmu dan praktek masak-memasak, bersedia bekerja didapur kerajaan. Ketiga datang Sang Arjuna, menghadap raja Wirata dalam gaya hidup waria, dengan nama Wrehatnala, siap sedia menjadi pelatih tari kerajaan Wirata. Keempat Dewi Pancali atau Dropadi datang menghadap raja Wirata, mengaku bernama Sailandri, memohon menjadi perias para putri keraton Wirata. Kelima Sang Nakula menghadap, bergaya hidup seperti seorang ahli pemelihara kuda, mengaku bernama Grantika, memohon agar diperkenankan mengabdi di keraton Wirata, bertugas memelihara kuda kerajaan Wirata. Keenam yang terakhir, datang Sang Sahadewa, mengaku bernama Tantipala, ahli memelihara hewan ternak, memohon agar berkenan mengabdi kepada raja Wirata, mengurusi hewan ternak kerajaan.

Susunan kegiatan Seni Pertunjukan Wayang Kulit Bali

Seni pertunjukan Wayang Kulit Bali dengan lakon "Wirata Parwa", dimulai dengan kegiatan 'dalang nginang', memakan sirih, sambil menata letak sesaji, dan peralatan pertunjukan yang lain-lain, seperti : menyalakan 'swar' dan menyimping wayang pamurti di ujung kelir kiri dan ujung kelir kanan. Wayang pamurti dipertebal dengan wayang-wayang yang tidak akan ditampilkan dalam lakon pada pertunjukan.

Alat gamelan pengiring seni pertunjukan Wayang Kulit Parwa Bali, berlaras 'Selendro', terdiri dari empat buah Gender Wayang : Dua buah Gender Barung ukuran besar, dan dua buah gender barang ukuran lebih kecil. Gender Gendhing Petegak I, mengiringi kegiatan dalang nginang.

Wayang terpilih akan digunakan dalam pertunjukan, masih di dalam kotak wayang, ditindih dengan wayang Kekayonan. Setelah kegiatan 'dalang nginang' rampung. Dalang nebah tabing kotak wayang dengan tangan kiri, membangunkan wayang, Gender Gendhing Pemungkah. Dalang nyempala, Gender Batel. Dalang nyempala nirtir, Gender Gilak, solah Kekayon I, mensakralkan ruang pakeliran seni pertunjukan wayang. Kekayon ditancapkan oleh dalang diporos palemahan. Dalang mengayunkan swar. Dalang menyimping wayang kelompok kiri, disebelah kiri Kekayonan, wayang kelompok kanan, disimping disebelah kanan Kekayonan. Diiringi Gender Gendhing Petegak II s/d Pengarip. Bagian ini dikenal dengan istilah 'Laga Nidra', perang tidur.

Pada penghujung akhir Gending Pengarip, gendhing nyelinap menjadi Batel, ditanggapi dengan solah Kekayon II, tanpa bunyi cempala. Gebrak cempala, kekayonan silam; gender kebyar 'Alas Arum' menjadi gendhing pengawak Alas Arum, vokal dalang 'Rahina tatas kemantian' dendang dalang sealur dengan gender gendhing Alas Arum. Dalang menampilkan wayang raja Wirata dengan Dewi Rekatawati menari, ditancapkan disisi kiri mendekat ke poros palemahan. Disusul penampilan Patih Cecaka, ditancapkan dibelakang permaisuri. Dilanjutkan dengan penampilan : Dwijangkangka, Blawa, Wrehatnala, Sailandri, Grantika, Tantipala, masing-masing dalam gaya individu, memberi hormat kepada raja dan para pejabat kerajaan Wirata. Ditancapkan disisi kanan. Tidak ada, yang mengira bahwa mereka adalah para Pandawa di Wirata. Masing-masing diri mereka, menonjolkan sifat individu, dengan ciri-ciri satu sama lain sangat berbeda.

Untuk seni pertunjukan wayang kulit Bali, dua ponakawan Tuwalen dan Merdah wajib hadir dengan level lebih rendah, diujung belakang setiap sisi.

Gebrak Cempala - Penyahcah Parwa : Gender Slundingan Penyahcah Parwa - Dalang Pala Wakya

'Pira ta pinten gati kunang kalan ira' dst dsb diakhiri cempala

Pengalang : Gender Pengalang Bawak Dawa  s/d Sawenduk Samita - Gender Mati - (Pakem Wayang Kulit Bali sampai pada Sawenduk Samita) - Selanjutnya adalah sanggit aktif kreatif spontanitas dalang.

Percakapan Dalam Sidang Di Wirata

Raja Matsyapati membuka sidang, dengan melaksanakan 'Panganjali: OM, Swastyastu! Pertama, raja menyatakan terima kasih kepada segenap yang hadir. Kedua, mengucapkan terima kasih atas jasa maha patih Cecaka, atas jasanya telah memperluas wilayah kekuasaan Wirata, sampai ke Trigata. Trigata dijadikan wilayah pemeliharaan ternak kerajaan Wirata. Sang Tantipala, petugas pemelihara ternak, ditantang tugas semakin besar tanggung jawabnya. Ketiga, raja memuji Dwijangkangka, yang sangat luas wawasan ilmu ketatanegaraannya, sangat paham ilmu spiritual dan menghayati segala ilmu intelektual. Raja Wirata sangat beruntung karena setiap hari berdiskusi mengkaji ilmu bersama seorang berwawasan luas dan kaya pengalaman seperti Dwijakangka.

Permaisuri Dewi Rekatawati Nyeletuk : Keempat, hidangan yang disajikan Sang Blawa, sangat cocok bagi selera semua orang didalam lingkungan kraton Wirata. Kelima, Sailandri, si tukang dandan para putri, sangat kreatif mempercantik penampilan para wanita didalam kraton Wirata. Pujian besar bagi Sailandri. Sang Cecaka, menjawil memberi tanda kepada Permaisuri, agar Sailandri disuruh pindah duduk didekat ratu, agar Sailandri juga menjadi dekat bagi diri Cecaka. Dengan berwibawa, Dewi Rekatawati memberi wangsit bagi Sailandri, untuk memenuhi hasrat Patih Ceceka. Permaisuri: Laporan dari Diah Utari putri raja, mengatakan bahwa, si waria yang bernama Wrehatnala, berdisiplin tinggi, sangat cermat dalam melatih gerak-gerak tari tradisi dan tari kreasi. Sehingga Utari, selalu tampak sehat, segar bugar. Usai latihan menari, Diah Utari sering berlama-lama ada diruang salon kecantikan kraton, didandani sangat apik oleh Sailandri. Keenam, keadaan seluruh kuda di keraton semuanya menjadi baik dan sehat, sejak diurusi oleh Grantika. Raja Matswapati : 'Banyak butir-butir telah dikomunikaiskan pada pertemuan ini. Ada yang mengajukan pertanyaan/usul? Kalau tidak ada, mari kita tutup pertemuan ini, agar kita dapat menuju ke tempat kerja kita masing-masing. Kita tutup dengan memanjatkan do'a "Parama santhi : OM santhi, santhi, santhi OM' Pertemuan bubar Gender Gendhing Angkat-Angkat, Cempala nirtit, para tokoh menuju tempat, untuk melaksanakan tugas, dan kewajiban masing-masing.

Dialog Ponakawan Tuwalen Dan Merdah

Tuwalen : 'Ada beberapa butir-butir yang telah dibicarakan dalam pertemuan di Bale Rung, hendak Bapa kaji bersamamu Merdah!" Khususnva tentang komentar Permaisuri Dewi Rekatawati menyangkut waria Wrehatnala, dan Sailandri.

Wrehatnala
Wrehatnala sesungguhnya Sang Arjuna. Menyamar menjadi waria, adalah berkat 'kutukan' Dewi Urwasi, istri Dewa Indra di Indra Loka, dahulu. Dewi Urwasi, saat ketemu Arjuna tiba di Indra Loka, membujuk Arjuna, untuk memadu kasih. Arjuna menolak, karena Urwasi adalah istri Dewa Indra. Urwasi lalu mengutuk Arjuna menjadi waria. Kutukan Dewi Urwasi itu, oleh Arjuna dimanfaatkan secara efektif dan efisien, sekarang ketika menyamar di kraton Wirata ini.

Merdah : 'Bagaimana asal usul terciptanya Dewi Uruwasi, Babe, sehingga sangat ampuh mampu mengutuk Sang Arjuna, Be?' Tuwalen : 'Begini asal usulnya!' Dahulu Dewa Tandawa Siwa, sedang bertaga, brata yoga semadi, untuk keselamatan dunia. Kepada Siwa, datang Mohini, wanita cantik hendak menggoda Siwa. Siwa, mengencangkan sabuk pengikat perutnya. Kegiatan Siwa, mengencangan sabuk perut, menciptakan wujud wanita sangat cantik, lebih cantik dari Mohoni. Kata Uru, artinya 'perut'. Wanita cantik tercipta oleh kegiatan Siwa dengan mengencangkan perut/uru, dikenal dengan nama :Dewi Uruwasi. Mohini kabur dengan kehadiran Urwasi. Selanjutnya Uruwasi menjadi istri Dewa Indra tinggal bersama di Indra Loka.

Selama berada di Indra Loka, Arjuna banyak menonton kegiatan para Widiadara Widiadari melaksanakan kegiatan tari menari. Arjuna, sering dipaksa ikut melantih menari, bersama para Widiadara Widiadari di Indra Loka. Itulah yang Bapa dapat tuturkan untukmu, Merdah, tentang Wrehatnala! (Selanjutnya)

Source: Sangit Dalang : Wayan Diya l Warta Hindu Dharma NO. 486 Juni 2007