Widyantara

Apakah yang dimaksud dengan Widyantara? istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dari kata 'widya' dan kata 'antara'. Kata 'widya' artinya pengetahuan. Sedangkan kata 'antara' artinya hias, jarak, ruang, dan sebagainya. Jadi maksud dari istilah Widyantara adalah orang yang berilmu. Dapat diartikan juga bahwa orang yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk juga dalam hal seni. Dalam kesenian lebih lazim disebut dengan istilah ahli, pakar, atau orang yang propesiaonal dalam bidang ilmu tertentu.

Makna Widyantara sesuai ajaran agama Hindu diartikan bahwa seseorang itu hendaknya memiliki ilmu pengetahuan luas yaitu memiliki ilmu dalam berbagai bidang disiplin. Pengetahuan (widya) yang dimaksud setidaknya ada dua yaitu pengetahuan secara fisikal (wijnana) dan juga pengetahuan rohani (jnana). Kedua pengetahuan dimiliki oleh setiap orang, siapapun dia tanpa mengenal asal-usul kelahiran, tanpa mengenal dia itu berada atau miskin, apakah dia tinggal di pegunungan maupun di perkotaan. Singkatnya bahwa pengetahuan itu menjadi kesempatan emas bagi setiap orang untuk dapat menimbanya melalui belajar yang tekun, ulet, semangat, penuh dedikasi, dan penuh tanggung jawab.

Mengapa pengetahuan fisikal dan pengetahuan rohani sama-sama perlu ditimba? Hal ini tiada lain bermaksud untuk adanya keseimbangan hidup dan kehidupan bagi manusia. Bila ilmu pengetahuan fisikal saja yang diketahuai, maka orang itu menjadi konyol dalam hidupnya. Oleh karena itu tanpa agama menjadi buta, sebaliknya agama tanpa ilmu menjadi lumpuh. Keduanya itu saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Kedua ilmu pengetahuan itu tidak bisa berdiri sendiri. Pasti terjadi sinergi secara integral bagi kehidupan manusia.

Sering juga diistilahkan 'men sana in corparo sano' yang maksudnya adalah dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. Bahwa antara tuntutan fisikal dan rohani diperlukan adanya keseimbangan antara keharmonisan hidup (janman sundaram). Jadi manfaat widyantara adalah untuk menuju hidup yang seimbang lahir dan batin yakni anandam jnanam.

Dimana saja tempat yang baik untuk menuntut ilmu pengetahuan itu/ Dalam ajaran agama Hindu ada diajarkan mengenai empat fase atau empat dalam berguru yang disebut dengan catur ashrama. Sebagai tempat atau fase pertama adalah rajin belajar di usia muda yang disebut brahmacari. Masa brahmacari ini merupakan masa belajar secara tekun, ulet, dan penuh perhatian tanpa memikirkan kegiatan lainnya di luar aktivitas masa belajar.

Pada masa ini kesempatan emas untuk menimba ilmu pengetahuan seluas-luasnya, baik secara fisikal maupun secara rohani/spiritual. Keberhasilan dalam masa Brahmacari tersebut adalah sebagai jalan sukses menuju masa berikutnya yaitu masa Grahasta. Pada masa Grahasta ini juga sebagai tempat belajar untuk menambah pengalaman hidup. Ilmu pengetahuan yang didapatkan semasih masa Brahmacari terus ditingkatkan lagi menuju pengetahuan yang lebih sempurna, oleh karena pada masa Grahasta itu selain belajar, juga siap sebagai pengajar bagi keturunannya (santana).

Sangat aneh jika pada masa Grahasta ini kedudukan sebagai orang tua (guru rupaka) tidak bisa mendidik putra-putrinva. Saat di keluarga posisinya sebagai guru keluarga (guru kula) yang siap membina dan mendidik semua generasinya.

Pada masa berikutnya adalah masa Wanaprastha yaitu masa untuk memantapkan hidup dan kehidupan melalui belajar banyak dengan lingkungan atau di suatu tempat tertentu yang memiliki tempat belajar yang kondusif. Masa wanaprastha sesungguhnya adalah masa untuk menimba ilmu pengetahuan spirit yang lebih banyak di tempat yang tenang, nyaman, damai, suci, mulia dan indah. Dalam konteks ini dimetaforakan dengan hutan (wana), oleh karena di tempat itu sebagai tempat vang asri dan menunjang untuk terwujudnva ketenangan pikiran, sehingga pengetahuan spiritual menjadi lebih mantap, harmonis, dan penuh keikhlasan (lascarya).

Dalam kesempatan ini pula sebagai saat yang terbaik untuk melepasakan segala prilaku kotor (kasmalaca duskrta) menuju pada prilaku bersih (kanirmalan). Saat Wanaprastha adalah sebagai saat yang suci untuk memadu kan pengetahuan fisikal dan pengetahuan rohani, guna menumbuhkan ketenangan hidup lahir dan batin yakni santa jagad hita atau dikenal juga dengan nama sat cit ananda. Dalam ajaran Wrhaspati Tattwa diistilahkan dengan ajaran kelepasan atau kamoksan, yakni saat untuk penerapan ajaran astangga yoga yakni delapan step menuju kelepasan (mukti), anatara lain: yama (pengendalian diri tahap pertama), niyama (pengendalian diri tahap kedua), asana (bersikap yang baik), pranayama (tehnik pengaturan nafas yang baik), pratyahara (memusatkan pikiran), dharana (menarik pikiran menuju satu titik), dhyana (pikiran ada pada satu titik), Samadhi (terpusatnya pikiran atau penyatuan pikiran pada objeknya yakni bertemu pada Hyang Niskala).

Begitu step terlewati pada masa sebelumnya. Kemudian pada masa berikunya juga masih dalam tahap pengisian diri, bahwa belajar itu tidak pernah berhenti. Masa terakhir adalah masa Bhiksukha atau dikenal juga dengan nama Sanyasin. Masa Sanyasin ini adalah masa untuk meminta-minta, memohon hal-hal yang berguna bagi masyarakat luas. Masa ini bermakna untuk mengenal alam sekitar, mengenal lingkungan sekitar, serta mempelajari masyarakat luas baik fisikal/material dan spiritual yang sejati.

Masa meminta-minta tidak diartikan sebagai masa mengemis, atau masa sebagai gelandangan, tetapi lebih tepat dimaknai sebagai masa ujian hidup yang terakhir, apakah itu ilmu pengetahuan fisikal dan rohani, apakah betul-betul sudah teruji bagi dirinya dan bagi masyarakat di sekitanya. Pada masa ini merupakan jalan (marga) terakhir untuk mengetesnya selama masih hidup di alam nyata (jagad sakala).

Jadi dapat ditegaskan bahwa widyantara merupakan fase hidup manusia untuk menimba ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk juga seni yang bersifat fisikal dan pengetahuan rohani, yang harapannya agar hidup dan kehidupan manusia menjadi sempurna secara nyata (sakala) dan tidak nyata (niskala). Sebagai kata kunci, jika seseorang telah berilmu yang luas (purna widya) tidak lantas dijadikan medium untuk mencelakakan orang lain (bhaya sarva janma), tetapi untuk kebaikan dan kemuliaan bersama (hita sava janma).

Dalam ajaran catur marga yakni empat jalan menuju kemuliaan yaitu karma marga melalui cara kerja yang ulet, bhakti marga yaitu melalui jalan berbakti, hormat, serta mengabdi kepada agama, masyarakat, dan negara, jnana marga yaitu salah satu cara menimba pengetahuan dengan cara belajar yang tekun, ulet, serta mengabdi kepada ilmu pengetahuan dengan cara berguru kepada acarya atau guru, terutama catur kang sinanggah guru, dan yoga marga yakni cara relasi, komunikasi, kerjasama, serta kontak rohani dengan Hyang niskala atau Tuhan Yang Maha Esa.

Peran umat Hindu dalam mewujudkan Widyantara adalah dengan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui saktinya Dewi Saraswati, melaksanakn program pendidikan secara kontinyu baik di tingkat informal, formal, dan non formal, turut menyukseskan wajib belajar serta membantu umat yang kurang mampu dalam meraih kesuksesan pendidikan.

Usaha untuk widyantara adalah : 1) lakukan tahapan pendidikan (asrama) sesuai ajaran agama hindu seperti: Brahmacari, grahasta, wanaprastlu, biksuka/sanyasin, 2) patuhi segala ajaran guru (guru susrusa), 3) jangan menentang segala ajaran yang diberikan oleh guru (alpaka guru), 4) berbaktilah kepada empat jenis guru (catur guru) untuk mendapatkan pengetahuan rohani (jnana) dan pengetahuan duniawi (wijnana).

Widyantara sebagai bentuk dari pengamalan perayaan Saraswati, oleh karena umat yang berbakti kehadapan Tuhan Yang Mah Esa, terutama Dewi Saraswati, maka umat Hindu yang demikian dapat memaknai perayaan Saraswati tersebut dengan cara belajar yang tekun, tidak lalai dalam menimba ilmu pengetahuan, memanfaatkan segala pengetahuan dengan positif untuk mencapai tujuan hidup, serta menjadikan ilmu pengetahuan suci Weda dan pengetahuan lainnya secara positif menuju kesempurnaan hidup serta mencapai tujuan hidup yang sempurna lahir dan batin atau keberadaan-kesadaran-kebahagiaan mutlak (sat cit ananda swarupa).

Oleh: I Ketut Subagiasta
Source: Warta Hindu Dharma NO. 522 Juni 2010