Widura Niti [3]

(Sebelumnya)

Telah terbukti di atas dunia ini, bahwa keluarga diselamatkan oleh keluarga, tetapi sebaliknya juga keluarga dihancurkan pula oleh keluarga. Mereka yang berkebajikan akan menyelamatkan keluarga dari bahaya, sedangkan mereka yang tak berkebajikan menjerumuskan ke dalam bahaya, Paduka Sri Maharaja adalah keturunan Kuru yang tertua. Kalau Pangeran Duryodhana melancarkan sesuatu yang buruk terhadap putera-putera Pandu, adalah tugas kewajiban Paduka Sri Maharaja untuk mencegah perbuatan itu. Benda hilang kalau dibuang ke dalam laut. Kata-kata hilang percuma kalau ditujukan kepada orang yang tidak suka mendengarkan. Tatwa-tatwa hilang percuma bagi mereka yang tidak waras jiwanya, orang lemah setiap waktu memberi ampun. Orang kuat harus memperlihatkan sifat pengam-punannya atas alasan kebajikan. Dan barang siapa merasakan sama keberhasilan dan kegagalan atas usahanya, sudah sewajarnya bertabiat mengampuni.

Mengejar kesenangan yang tidak merugikan kebajikan dan keuntungan orang lain, dengan sendirinya patut dikejar sampai mendapat kepuasan. Adapun buah dari Veda adalah upacara yang diseleng-garakan pada api Homa, hasil dari memahami isi Kitab-kitab suci adalah tingkah laku yang baik dan faedah wanita adalah menikmatinya dan untuk memperoleh keturunan. Orang yang mempunyai keteguhan iman tidak mengalami ketakutan, baik di tengah-tengah padang pasir, jauh di tengah-tengah hutan belantara, tatkala menjalankan puasa yang berat, di tengah-tengah segala macam bahaya dan kegentingan, maupun ketika berhadapan dengan orang yang memegang senjata terhunus yang hendak ditujukan kepadanya. Ketahuilah, bahwa usaha, menguasai diri sendiri, keakhlian, waspada, ketetapan hati, renungan batin, memulai suatu pekerjaan setelah terlebih dahulu dipertimbangkan masak-masak, adalah pangkal dari kemakmuran.

Kemakmuran patut dikalahkan oleh pengampunan, orang durjana patut dikalahkan oleh kehormatan, kesengsaraan patut dikalahkan oleh kemerdekaan, dan kepalsuan patut dikalahkan oleh kebenaran. Lelaki tanpa pengetahuan adalah disayangkan, rakyat dari negara yang tanpa makanan (kelaparan) adalah disayangkan, pergaulan yang tidak mendapatkan hasil (baik) adalah disayangkan. Sumber yang menjadi pangkal kepedihan dan kelemahan mahluk adalah: hujan, guguran bukit, dan gunung-gunung, tidak adanya kesenangan, dukacita wanita, panah kata-kata yang menusuk hati. Kekam dari veda adalah keinginan mempelajarinya, kerendahan hati dari wanita suci adalah bernafsu untuk mengetahui segala sesuatu, dan sampah-sampah dari wanita adalah hukuman keluar rumah.

Orang tidak dapat mengalahkan tidur dengan berbaring-baring, orang tidak dapat mengalahkan wanita dengan nafsu birahi, orang tidak dapat mengalahkan api dengan minyak, orang tidak dapat mengalahkan anggur dengan memi-numya, Seseorang berjaya atas sahabat-sahabatnya, karena dana-punya, mengalahkan musuh dalam peperangan, mengalahkan istrinya dengan makan dan minum, ia itulah hidup bermahkota hasil datang gemilang; merekalah yang mempunyai "ribuan" hidup, mereka yang juga mempunya "ratusan" hidup. Oleh karena itu aduhai Paduka Sri Maharaja, lepaskanlah keinginan itu. Padi, gandum, emas, ternak, wanita-wanita yang ada di dunia semuanya tidak dapat memuaskan hati satu orang manusiapun. Oleh karena itu orang yang bijaksana tidak pernah ' sedih dan tidak berhasrat untuk memiliki seluruh dunia. Aduhai Sri Maharaja, seharusnya Paduka Sri Maharaja berlaku sama adilnya baik terhadap putera Paduka Sri Maharaja sendiri mapun putera maha-raja Pandu.

Putera diasuh dengan perhatian dan kasih sayang, tetapi kalau meninggal dunia (mayatnya) diusung oleh orang banyak ke kuburan. Dengan rambut yang terurai dan diratapi, mereka lalu melemparkan mayat itu kedalam api seolah-olah (itu) tidak bedanya dengan sepotong kayu. Yang lain menikmati kekayaan dari yang meninggal dunia, sedangkan burung dan api dengan suka cita akan sisa mayat itu. Hanya berdua saja dia pergi ke alam baka yaitu bersama dengan jasa dan dosa yang senantiasa mengikutinya. Setelah badan kasar itu dibuang, keluarga sahabat-sahabat dan putera-putera mulai membalik langkah-nya, ibarat burung yang dengan ikhlas meninggalkan pohon kayu yang tidak berbunga dan berbuah.

Orang mati yang mayatnya dilemparkan ke dalam api hanya diikuti oleh pahala perbuatan sendiri, oleh karena itu manusia harus dengan cermat bersungguh-sungguh memetik jasa dan keadilan/kebenaran. Alam diatas dan dibawah dunia ini adalah alam yang suram dan gelap. Ketahuilah wahai Paduka Sri Maharaja, bahwa disana adalah alam dimana pikiran orang-orang yang sangat disiksa. Semoga janganlah hendaknya salah satu dari alam itu menjadi tempat Paduka Sri Maharaja. Jiwa diibaratkan seperti sebuah sungai, jasa keagamaan merupakan permandiannya yang suci, kebenaran adalah airnya, menguasai diri sendiri adalah tebing-tebingnya, kebaikan hati adalah riaknya. Orang yang adil membersihkan dirinya sendiri dalam permandian itu, karena jiwa adalah kramat; dan bersih dari nafsu adalah hal yang paling luhur yang patut dicapai.

Hidup adalah ibarat sungai. Airnya adalah indrya, buaya dan ikan hiunya adalah nafsu keinginan dan kemarahan. Buatlah rakit penguasaan sang diri sendiri, dengan rakit itu orang menyebrangi sungai itu melalui pusaran-pusaran air lahir tumimbal itu. orang harus mengekang hawa nafsunya dan gangguan perutnya dengan kesabaran, orang harus mengekang kaki tangannya dengan matanya, orang harus mengekang mata dan telinganya dengan pikiran, orang harus mengekang pikiran dan perkataannya dengan perbuatan.

Akhirnya hamba mohon perhatian Paduka Sri Maharaja atas kata-kata hamba ini. Prabhu Yudhistira putra Maharaja Pandu kini jatuh dari tugas kewajibannya sebagai ksatrya. Oleh karena itu angkatlah beliau, wahai Paduka Sri Maharaja dan duduklah pada tugas raja-raja !".

Prabu Dhritarastra menjaw "memang benar apa yang kau nasehatkan kepadaku. Hatiku cendrung kepada yang telah kau paparkan itu. Meskipun aku condong untuk berbuat kepada Pandava seperti yang telah kau nasehatkan, namun bila aku berhubungan dengan Puteraku Duryodhana maka seketika itu juga pikiranku berbalik kepada berbagai-bagai macam jalan. Aduh nasib rupanya kini tengah menimpa aku, usaha sendiri rupanya tidak berguna!".

Diterjemahkan oleh I Gusti Ketut Sangka dan I Gusti Ketut Anom
Source: Warta Hindu Dharma NO. 533 Mei 2011