Widura Niti

Prabhu Dristarastha bertanya kepada Arya Vidura (Kshattri), "Utusan anaknda Prabhu Yudhisthira (Ajatasatru) besok akan tiba. Aku belum dapat meyakinkan, apakah kiranya yang akan disampikan itu, Oleh karena itu badanku terasa panas, rasanya seperti terbakar dan karena itu aku tidak bisa tidur. Katakanlah kepadaku apakah yang baik bagi seseorang yang tidak bisa tidur karena ada sesuatu yang dicemaskan?. Wahai Vidura, yang paham akan agama dan apa yang berguna. Sejak Sanjaya datang kembali dari tempat kediaman para Pandava, hatiku tidak me-mperoleh ketenangan. Pikiranku kacau-balau mengenangkan apa yang hendak disampaikan oleh utusan Pandava itu kepada kita."

Arya Vidura berdatang sembah seraya berkata; "orang tidak bisa tidur karena diserang oleh pencuri. Karena dikuasai oleh hawa nafsunya; karena kehilangan harta bendanya; karena gagal dalam usaha mencapai hasil yang gilang-gemilang, dan orang yang lemah diserang oleh orang yang kuat. Hamba harap semoga Paduka Sri Maharaja tidak mengalami salah satu keadaan yang mengakibatkan tidak bisa tidur itu. Hamba mohon kiranya Paduka Sri Maharaja tidak sedih karena menghasratkan hak milik orang lain. Prabu Yudhistira dirahmati semua kebajikan, pantas menjadi cakrawarti dari tri-Buana. Beliau seharusnya senantiasa mendampingi Paduka Sri Maharaja.

Paduka Sri Maharaja menjatuhi hukuman selong kepadanya. Ciri-ciri manusia yang bijaksana adalah taat dalam kerja, patut mendapat pujian, tidak berbuat sesuatu yang tercela, beriman dan khidmat. Orang-orang yang tidak terjerumus karena marah, senang, sombong, kepalsuan, rendah budi, kagum, suka berlagak, dipandang orang bijaksana. Mereka yang dapat memisahkan rasa ke-adilan daripada hasrat keinginannya, patuh kepada Dharma dan hal yang berfaedah dan tidak mengutamakan kesenangan, baik didalam alam fana ini maupun di alam baka nanti, adalah dipandang orang bijaksana.

Mereka yang berusaha dengan segala kekuatannya, berbuat dengan segala kemampuannya dan tidak memandang bahwa segala sesuatu itu tidak berguna, disebut orang bijaksana. Mereka yang cerdas dan sukar mendengarkan kata-kata orang, mengejar wisayanya dengan rasa keadilan dan bukan karena hasrat dan keinginan, tidak menghabiskan tenaga hidupnya untuk mencampuri urusan orang lain tanpa diminta, dikatakan memiliki ciri yang terpenting dan orang pradnya.

Mereka yang mengejar tujuan yang tidak mungkin tercapai, yang tidak sedih kepada apa yang dan mati, yang tidak keruh pikirannya karena sesuatu kesengsaraan, dikatakan mempunyai pengetahuan pradnya. Mereka yang tidak membuang-buang waktunya, meneliti jiwanya, dipandang orang pradnya. Mereka yang pradnya senantiasa senang kepada perbuatan yang sopan, ia berbuat apa yang menuju kepada kebahagiaan, kemakmuran dan tidak pernah mencela apa yang baik.

Tetapi sebaliknya mereka yang tidak mengenal tatwa-tatwa, sok suka melagak, miskin tetapi sombong, memilih akal buruk guna mencapai keinginannya, adalah orang bodoh. Mereka yang melepaskan tujuannya sendiri lalu mengejar tujuan orang lain dan yang berbuat tipu kepada sahabatnya, disebut orang bodoh. Mereka yang menganggap musuhnya sebagai sahabat, benci dan menimbulkan bencana terhadap sahabat-sahabatnya, melakukan perbuatan jahat, dikatakan orang bodoh.

Mereka yang bersikap ragu-ragu didalam segala hal, menghabiskan waktu lama untuk pekerjaan yang patut dapat diselesaikan dalam waktu singkat, adalah orang bodoh. Mereka yang tidak mempersembahkan sradha kepada pitri-pitri, tidak menyembah Dewa-dewa dan tidak mempunyai sahabat yang baik budi, dikatakan orang yang berjiwa bodoh. Mereka yang masuk ke suatu tempat tanpa diundang, banyak obrolan tanpa ditanya, meletakkan kepercayaan atas apa yang tidak layak, adalah orang bodoh. Mereka yang melemparkan kesalahannya sendiri kepada orang lain, tidak berdaya kepada kemarahannya, adalah orang yang paling bodoh. Mereka yang tidak mengenal akan kemampuanya sendiri, meninggalkan kebajikan dan hal-hal yang berfaedah, lalu ingin mencapai sesuatu yang sukar diperoleh dan tidak mendengarkan pertimbangan-pertimbangan yang benar, dika-takan manusia yang tidak punya pengetahuan.

Jikalau seorang pemanah melepaskan anak panah, paling-paling ia berhasil atau tidak membunuh hanya satu jiwa saja. Tetapi jikalau seorang intelek mempraktekkan kecakapanya atau pengetahuannya dalam kejahatan bisa menghancurkan seluruh kerajaan terhitung dengan Rajanya. Racun hanya membunuh satu nyawa saja, tetapi penasihat jahat menghancurkan satu kerajaan terhitung dengan Raja dan rakyatnya. Hanya satu cacatnya orang yang mempunyai sifat memberi ampun, cacatnya itu adalah bahwa orang-orang menganggap bahwa dia orang lemah. Sebaliknya janganlah menganggap, bahwa memberi ampun itu adalah sesuatu yang maha sakti. Suka memberi ampun adalah kebajikan bagi orang miskin dan perhiasan diri bagi orang kuat.

Pengampunan mengalahkan apapun didunia ini. Apakah yang tidak dapat dicapai oleh pengampunan? Apakah yang dapat diperbuat oleh orang jahat tehadap mereka yang memegang pedang pengampunan di tangannya? Kebe-naran adalah satu-satunya kebajikan yang tertinggi dan pengampunan adaah satu-satunya perdamaian. Kepradnyanan adalah satu-satunya kepuasan yang luhur, Kebajikan atau kemurahan hati adalah satu-satunya kebahagiaan yang terutama. Ibarat ular yang menelan binatang dalam gua atau lubang-lubang demikianlah dunia ini menelan dua macam manusia ini yaitu (1) Raja yang tidak cakap berperang dan (2) Brahmana yang tidak menjalankan tirta-yatra.

Orang memperoleh kemasyuran didunia ini karena berbuat dua hal ini yaitu (1) menahan diri diri untuk mengucapkan kata-kata yang kasar, dan (2) tidak hirau kepada orang durjana, kedua hal ini adalah ibarat duri tajam yang menusuk daging yaitu (1) cita-cita (keinginan) dari orang miskin dan (2) kemarahan orang yang tidak berdaya. Kedua macam orang ini tidak mempunyai pratapa karena perbuatannya yang bertentangan, yaitu : (1) Kepala rumah tangga yang tidak berusaha dan (2) Pengemis yang penuh dengan rencana. Kedua orang ini seolah-olah hidup di dalam alam yang lebih tinggi daripada surga'itu sendiri yaitu : (1) Orang yang kuat yang suka memberi ampun dan (2) orang miskin yang murah hati.

Dalam perbuatan yang dipandang utama, dua macam ini adalah terlihat salah-guna yaitu (1) Menderma kepada yang tidak patut dan (2) menolak apa-apa yang utama, kedua macam orang ini patut di hanyutkan kedalam air dan lehernya dijerat erat-erat yaitu (1) orang kaya yang tidak suka berdana-punya dan (2) orang miskin yang besar kapala. Kedua orang ini bisa menembus perisainya matahari yaitu (1) fakir yang sempurna dalam yoga dan (2) pahlawan perang yang tewas dalam medan perang terbuka.

Wahai Paduka Sri Maharaja, Banteng dari keturunan Bharata, orang-orang yang faham akan Veda mengatakan, bahwa pikiran manusia ada baik, ada sedang dan ada jahat. Manusiapun ada baik, ada acuh tak acuh dan ada jahat. Oleh karena itulah seseorang harus ditempatkan pada kegiatan yang sesuai dengan bakatnya masing-masing. Tiga macam orang ini tidak mempunyai hak milik untuk dirinya sendiri yaitu (1) isteri (2) budak dan (3) putera. Apapun yang dida-patkan harus menjadi milik penguasa orang itu. Besarlah kengerian yang ditimbulkan dari tiga kejahatan ini yaitu (1) mencuri hak milik orang lain, (2) memperkosa isteri orang lain dan (3) pecah dari persahabatan. Ketiga hal ini harus dienyahkan karena itu merupakan pintu masuk ke neraka yaitu (1) hawa nafsu, (2) marah dan (3) loba. Karenanya semua itu harus dibuang jauh-jauh.

Tiga orang ini tidak boleh ditingalkan meski dalam ancaman bahaya sekalipun yaitu (1) pengikut, (2) orang yang mencari perlindungan dan (3) tamu. Tiga hal ini menghasilkan jasa yaitu (1) memberikan hadiah, (2) memperoleh kerajaan dan (3) memperoleh putera. Orang yang terpelajar mengatakan bahwa seorang Raja meski betapa kuatnya dan berkuasa sekalipun tidak patut mendengar nasehat dari empat macam orang ini yaitu (1) orang yang kurang mengetahui, (2) orang yang serba lambat, (3) orang malas dan (4) orang yang suka mencari muka.

Peliharalah keempat macam orang ini yaitu (1) sahabat-sahabat yang miskin, (2) Sulinggih yang malang, (3) anggota keluarga yang tua dan (4) saudara-saudara perempuan yang tidak kawin. Atas pertanyaan Hyang Indra, Bhagawan Vrihaspati mengatakan, bahwa ada empat hal yang menghasilkan buah atau terjadi dalam satu hari yaitu (1) takdir, (2) pengertian dari orang-orang pandai, (3) kerendahan hati dari orang orang terpelajar dan (4) penghapusan dari dosa. Empat hal ini menurut perhitungan menghilangkan kekhawatiran kalau salah melaksanakannya yaitu : (1) Agnihotra, (2) Monabrata, (3) belajar dan (4) upacara yadnya (pada umunya).

Wahai pemimpin keturunan Bharata, lima "api" ini harus disembah dengan penuh perhatian oleh siapapun juga, yaitu (1) ayah, (2) ibu, (3) api, (4) jiwa dan (5) guru pengajian. Orang memperoleh kemashuran didunia ini kalau orang itu mengabdi kepada kelima ini yaitu (1) Dewa-dewa, (2) Pitri-pitri, (3) sesama manusia, (4) pengemis dan (5) tamu. Kelima ini mengikuti Paduka Maharaja yaitu (1) sahabat, (2) musuh, (3) orang yang acuh tak acuh, (4) orang bawahan dan (5) mereka yang berhak atas pemeliharaan. Enam yang tercela harus dihilangkan oleh orang yang menginginkan kemakmuran yaitu : (1) tidur, (2) mengantuk, (3) takut, (4) marah, (5) malas dan (6) menundanunda.

Sesungguhnya enam sifat ini harus dipegang teguh oleh seseorang, yaitu (1) kebenaran, (2) kemurahan hati/kedermawanan, (3) rajin, (4) kebajikan, (5) suka memberi ampun, dan (6) kesabaran. Enam ini nampaknya memberi hidup kepada yang enam lainnya yaitu (1) orang yang tak waspada pada pencuri, (2) tabib bagi mereka yang sedang sakit, (3) perempuan bagi mereka yang sakit asmara, (4) pendeta bagi mereka yang membuat yadnya, dan (5) raja bagi mereka yang bertengkar dan terakhir, (6) guru bagi mereka yang tidak punya pengetahaun.

Raja harus meninggalkan tujuh cacat ini yang menghasilkan kesengsaraan yaitu (1) wanita, (2) judi, (3) berburu, (4) peminum, (5) berkata kasar, (6) ganas menghukum, dan (7) menyalahgunakan kekayaan. Delapan ini adalah sarinya kekayaan yaitu (1) berjumpa dengan sahabat, (2) memperoleh kemakmuran, (3) merangkul putra, (4) bersatu dalam pergaulan, (5) tobat dengan sahabat pada waktu yang layak, (6) kemajuan orang-orang yang tergabung dalam golongan sendiri, (7) kemauan keras untuk tahu terhadap kejadian-kejadian, dan (8) hormat dalam masyarakat.

Delapan sifat ini membuat seseorang jaya yaitu (1) pradnya, (2) berbangsa, (3) menguasai diri sendiri, (4) terpelajar, (5) gagah berani, (6) sederhana dalam kata-kata, (7) berdana punia menurut kemampuannya, dan (8) perasaan terima-kasih. Rumah ini mempunyai sembilan pintu, tiga tiang dan lima mata. Orang terpelajar yang benar-benar memahami hal ini adalah orang bijaksana sejati. Orang-orang yang benar-benar bijaksana adalah orang-orang (1) yang waspada terhadap musuhnya baik ia lemah sekalipun, (2) yang maju dalam penyelidikannya terhadap keadaan musuh, (3) dengan cermat mengawai dimana kesempatan yang baik, (4) orang-orang yang tidak mengadakan perseteruan dengan orang-orang yang lebih kuat, dan (5) orang yang memperlihatkan keberaniannya pada waktunya.

Orang bijaksana (termasyur) yang tidak sedih manakala kesengsaraan datang padanya, yang berusaha dengan sekuat tenaganya dan yang sabar menderita kesedihan pada waktunya pastilah ia orang yang terkemuka dan jaya. orang yang tidak bergembira atas kebahagiannya, juga tidak bergembira atas kesalahan orang lain, yang tiak menyesal atas apa yang telah diberukan kepada orang adalah dikatakan orang yang mempunyai sifat-sifat baik, mereka yang makan setelah membagikan makanan kepada orang-orang yang menjadi tanggungannya, yan tidur hanya sebentar setelah bekerja banyak, yang berdana punia baik kepada musuhnya sekalipun, yang menguasai dirinya, orang itu dijauhi dari kesengsaraan, orang yang berasa malu, meskipun kesalahannya tidak diketahui orang lain, adalah orang yang terhormat di antara manusia. (Selanjutnya)

Diterjemahkan oleh I Gusti Ketut Sangka dan I Gusti Ketut Anom
Source: Warta Hindu Dharma NO. 523 Juli 2010