Weda dan Sraddha

Sraddha yang berasal dari urat kata "Srat" dan "dha " dalam bahasa Sanskerta pada prinsipnya bermakna "kepercayaan". Srat sendiri berarti "hati", dan "dha" berarti tempat, ada satu hati dalam keseluruhan yang ada."

Konsep Sraddha memang pada awalnya tertuang dalam Rg. Weda, dokumen tertua dalam tradisi Hindu. Dalam tradisi Latin dikenal cred-do dan dalam Avesta dikenal Zrazd. Dalam Rg Weda ditemui kata-kata majemuk seperti Sraddhamanas, Sraddhadewa dan Sraddhadeya. Dengan demikian munculah sejumlah tulisan seputar Sraddha dan Bhakti, yang mengaitkan antara ketulusan hati, keikhlasan dengan kepercayaan atau keyakinan.

Dalam tradisi sastra Jawa Kuna kita juga menemui kata sraddha tetap di pakai dengan makna yang sama sebagai ditemui dalam bahasa Sanskerta. Namun demikian ditemui juga kata sreddhah atau sreddha dengan makna yang sama, tetapi juga diperluas. Sreddha juga bermakna kemurahan hati, kesucian hati : yan langgeng ikang shoasmreti dateng sreddha Batareswara (kalau teguh ingatan kepada Siwa, tentu akan diterima kemurahan hati Beliau).

Dalam kitab suci Weda-wedapun ada perkembangan makna Sraddha tersebut. Dalam Satapatha Brahmana pemaknaan Sraddha ditekankan pada pelaksanaan upacara untuk mencapai sorga. Di sini mantra mendapat kedudukan penting. Di dalam kitab-kitab Upanisad dapat diketahui Sraddha berhubungan dengan pengetahuan penting kesatuan Brahman-Atman, selanjutnya munculnya pertanyaan seputar karma, samsara dan moksa. Inilah kemudian dirumuskan dengan istilah Panca Sradha. Dalam konteks ini pula kita menemui relevansi ungkapan-ungkapan penuh makna : Aham Brahma Asmi, Tattwam Asi, Sarwam khalu iddam Brahma dan yang lain.

Sementara dalam Bhagawadgita, Sraddha menemui relevansinya dalam ungkapan yang sangat terkenal Niskama karma yoga. Jalan kerja tanpa pamrih adalah jalan yoga untuk mencapai kemanunggalan dengan-Nya.

Jadi kitab suci Weda-weda telah memberikan jalan bagi setiap orang untuk menghayati makna ajaran Sraddha, sebagai sebuah kepercayaan atau keyakinan untuk mencapai kebahagiaan dalam kemanunggalan dengan-Nya. Di sini memang diperlukan Sreddhah atau kesucian hati, karena Sang Pencipta juga Sreddhah, murah hati kepada umatnya yang memiliki ingatan yang langgeng kepada-Nya. Sradha memang bukan sekedar kepercayaan atau keyakinan, tetapi kepercayaan atau keyakinan berdasarkan pengetahuan (jnana), yang diwujudkan dalam tindakan nyata (karma), dan ketulusan hati (bhakti).

Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 524 Agustus 20010