Wanitaning Wanita

Sejak bahasa Indonesia dilegitimasi sebagai bahasa Negara dan bahasa Nasional, ada dua leksikon bahasa Indonesia digunakan menggambarkan manusia berjenis kelamin bukan laki-laki (imaskulin), yaitu 'wanita ' dan 'perempuan ' (femi-nim). Disamping itu, ada kata 'dara ', 'gadis ', dan 'perawan ' untuk menyebut wanita atau perempuan yang belum dewasa. Awalnya, para linguis memperdebatkan penggunaan dua kata tersebut dengan argumennya masing-masing. Ada yang lebih cenderung menggunakan kata 'wanita', kelompok lain yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisyahbana lebih memilih kata 'perempuan'. Sampai sekarang, kedua kata tersebut digunakan secara bebas.

Oleh karena itu, gunakan saja kata 'wanita' karena asal-usulnya jelas berkaitan dengan teologi Hindu. Kata 'wanita 'berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu berasal dari akar kata 'sva' yang berarti 'sendiri' dan akar kata 'nittha' yang berarti 'suci'. Jadi, wanita itu ialah 'sosok yang suci'. Apabila dua akar kata itu digabungkan membentuk kata baru 'svanitta', berarti 'menyucikan (diri) sendiri'. Kemudian, arti kata tersebut berkembang menjadi 'gambaran tentang manusia yang berperan luas dalam dharma' atau 'pengamal dharma'. Dari istilah 'swanitta', berkembang pula menjadi frasa 'sukla svanittha' yang berarti 'bibit' atau 'janin ' dalam kandungan. Apakah yang terefleksi dari diskursus wanita secara lingual? Makna asahnya tentu saja berkaitan dengan kedudukan dan peranan wanita yang maha penting di jagat sakala ini, yaitu sebagai 'sosok suci pemulia kehidupan'.

Seiring dengan itu, sloka Kitab Suci Weda maupun sloka-sloka kitab smerti lainnya melantunkan keagungan kedudukan dan peranan wanita. Dewa-dewa utama dalam kepercayaan agama Hindu sakti-nya (kekuatan, kekuasaan atau energi) berwujud wanita istadewata sebagai wanitaning wanita. Pendeknya, aspek kewanitaan (j'eminismus) dari Tuhan digambarkan melalui 'ibu surgawi', yaitu 'Laksmi, Parvati, dan Sarasvati yang sekaligus menggambarkan sifat kejantanan wanita (masku-linismus). Perwujudan wanitaning wanita selanjutnya, digambarkan melalui lima dewa pujaan seperti tergambar dalam smaras-tava, panca kanyam yang dikutip Hooykaas berikut:

Ahulya Draupadi Sita, Tara Mandodari tatha, Panca-kanyam smaren nityam, Maha-pataka-nauanam. (Seseorang hendaknya bermeditasi kepada 5 wanita mulia, yaitu: Ahalya, Draupadi, Sita, Tara dan Mandodari. Mereka yang melakukan hal itu, segala dosanya dilenyapkan).

Lalu, gambaran ideal tentang wanita Hindu itu haruskah seperti itu? Agama Hindu meyakini, bila manusia lahir sebagai wanita, laki-laki, ataupun banci (kedi) merupakan tumimbal lahir (pu-narbhawa: reinkarnasi) yang ditetapkan oleh Hyang Widhi. Siapapun tidak dapat mengingkarinya. Bagaimana wujud wanitaning wanita Hindu pada masa lalu (attitha), masa datang (anagatha), dan masa kini (warthamanap. Wartam edisi kedua ini akan mengeksplanasi kedudukan dan peranan wanita Hindu seholistik mungkin.

Source: IB Jelantik SP I Warta Edisi 2/April/2015