Wanita Hindu: Panca Kanyam

Jangan ditanya soal prenatal education (pendidikan bayi dalam kandungan), agama Hindu telah melakukannya sejak awal peradaban. Pada saat wanita dalam keadaan hamil, suami dan keluarga menyanyikan sloka pilihan kitab Itihasa dengan sepenuh hati dihadapannya. Harapannya, bayi yang bersemayam di dalam kandungan dengan penuh sukacita menyimaknya.

Malahan, pria yang penuh tanggungjawab menguncarkan mantra matrunjaya sebelum melakukan sanggama dengan tujuan menciptakan suputra. Dengan mantra matrunjaya itu, dewa asrama diwujudkan agar merestui bayi yang tercipta kelak ialah suputra dengan talenta agung.

Setelah bayi di dalam kandungan berumur kurang lebih tujuh bulan, maka dilaksanakan upacara garbhadhana. Di Indonesia disebut upacara magedong-gedongan atau mintoni atau mitu bulanin. Selain banten yang renik, komponen banten yang paling menonjol dalam upacara garbhadhana tersebut berupa sebuah buah blego (sejenis semangka) berbentuk lonjong dihiasi menyerupai bayi lengkap dengan perhiasannya. Tentu harapannya agar bayi yang lahir kelak setampan atau secantik buah blego yang dihias bertatahkan permata mutu manikam itu.

Tentu saja, selain prasadam dalam wujud banten disajikan penuh keseriusan dan ketelitian, dalam setiap upacara yang terpenting ialah mantram yang diuncarkan. Pada saat upacara garbhadana diuncarkan mantram smarastawa yang disebut panca kanyam sebagai berikut:

Analya Draupadi Sita,
Tara Mandodari tatha,
Panca kanyam smaren nityam,
Mahapataka nauanam.

Artinya:
Ahalya, Draupadi, Sita,
Tara dan Mandodari jua,
(kepada) lima wanita itu (pemujaan)
Dilakukan, Mahadosanya akan dilenyapkan

Smarastawa Panca Kanyam, secara eksplisit menyebutkan bahwa beliau pemujaan dilakukan kepada lima wanita utama dapat menyinarkan adidosa yang pernah dilakukan. Kelima wanita tersebut ialah Ahalya, Draupadi, Sita, Tara, dan Mandodari. Lalu mengapa mantram tersebut diuncarkan pada saat upacara garbhadhana? Tantu saja tujuannya agar wanita yang hamil merasakan dengan sungguh, bahwa dirinya tiada berbeda dengan kelima wanita utama tersebut mengandung para mahaputra kstaria utama yang dikenal sebagai tokoh Hindu.

Wanita hamil, seperti pepatah Bali disebutkan dalam keadaan “magantung baan bok akatih”. Maksudnya, wanita hamil mempertaruhkan nyawanya sampai saat bayi yang dikandungnya lahir.

Ahalya, yang disebut dalam samarastawa panca kanyam tersebut tiada lain ialah istri dari Maharsi Gautama yang karena kecantikannya dipaksa melakukan perbuatan tidak senonoh oleh Bhatara Indra. Akibat kesalahannya, wanita rupawan tersebut dihukum dalam pengucilan abadi. Uri Rama kemudian membebaskannya dari hukuman abadi sehingga dapat kembali hidup abadi di swargaloka. Dewi Sita dan Draupadi seperti diketahui masing-masing merupakan pahlawan wanita yang diceritakan dalam Kitab Ramayana dan Mahabarata.

Kecantikan keduanya diceritakan dengan indah dalam Kitab Ramayana dan Mahabarata. Tentu saja dengan segala heroisitas yang mengagumkan. Bahkan keduanya merupakan sebab musabab cerita terjalin dengan indah. Tara ialah istri dari Brhaspati yang dilarikan oleh Soma. Sedangkan Mandodari dalam teks Ramayana merupakan istri kesayangan Rahvana yang tersohor kecantikannya. Pendek dikata, kelima wanita yang disebut dalam smarastawa panca kanyam ialah wanita mulia dengan segala kelebihan lagi cantik tiada tara.

Kedudukan smarastawa panca kanyam sangat penting dalam agama Hindu karena memberikan gambaran penuh tentang kemudian seorang wanita. Agama Hindu, menempatkan wanita sebagai subyek yang menentukan. Bahkan merupakan penghantar mencapai kedudukan tertinggi di swargaloka bagi yang menghormatinya. Manawa Dharmasastra III.56 menyebutkan:

Yatra Naryastu Pujyante,
Ramante Tatra Devatah,
Yatraitastu Na Pujyante,
Sarvastatraphalah Kriyah.

Artinya:
Dimana wanita dihormati disanalah para Dewa senang dan melimpahkan anugerahnya. Dimana wanita tidak dihormati tidak ada upacara suci apapun yang memberikan pahala mulia.

Demikianlah kedudukan wanita dalam agama Hindu yang memegang peranan penting. Kelima wanita yang dipuja dalam smarastawa panca kanyam ialah wanita rupawan dengan kedudukan yang tinggi. Para Dewa akan melimpahkan anugerahnya kepada siapa saja yang menghormatinya wanita.

Selain Panca Kanya yang pantas dipuja seperti diuraikan di atas, kitab-kitab purana mengungkapkan eksistensi seorang wanita ideal yang bernama dewahuti. Beliau ialah ibunda Maharsi Kapila yang mendirikan filsafat Samkhya atau Samkhya Darsana.

Dengan demikian, kitab-kitab purana juga menegaskan bahwa seorang wanita memiliki kedudukan yang penting dalam kehidupan manusia. Wanita bukanlah objek, tetapi subjek yang melahirkan suputra penerus wangsa sampai akhir zaman.

Oleh: N. Reni Ariasri
Source: Majalah Wartam, Edisi 29, Juli 2017