Wanita Hindu: Mahkota Keluarga

Peradaban Hindu merupakan peradaban tertua yang dikenal di muka bumi ini. Di mana menurut teori antropologi, peradaban dihasilkan setelah manusia mengalami fase-fase panjang kebuasan (savagery). Peradaban manusia mulai dihasilkan dalam fase domistikasi. Di mana pada fase tersebut kehidupan manusia mulai hidup menetap pada suatu lingkungan teritori dengan membentuk lingkungan social kemasyarakatan. Di dalam lingkungan social kemasyarakatan itulah hidup individu-individu dalam suatu keluarga.

Menurut ahli filsafat dan juga ahli hokum Lewis Henry Morgan (1818-1881), sejarah perkembangan kebudayaan dapat dibagi ke dalam tiga tahapan, yaitu: (1) Savagery (kebuasan, kekejaman) yang terdiri dari tiga tahap yaitu tahap lower status of savagery, middle status of  savagery, dan upper status of savagery; (2) barbarism (babarisme) yang terdiri dari lower status of barbarism, middle status of barbarism; dan (3) status of civilitation.

Pada fase lower status of savagery, manusia hidup dari buah-buahan, baik yang berkulit lunak maupun yang berkulit keras. Pada kurun waktu ini, manusia mulai mengembangkan bahasa sebagai system komunikasi sekaligus sebagai sarana transformasi kebudayaan. Manusia hidup bersama dalam gerombolan dengan hubungan saudara lelaki dengan saudara perempuan (keluarga konsangiun) sebagai bentuk pertama ketertiban.

Kurun waktu berikutnya, pada fase middle status of savagery, manusia mulai mengenal api dan mulai mengenal ikan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan pokok kehidan sehari-hari. Manusia mulai menyebar ke seluruh dunia dengan cara migrasi terus menerus karena kehidupannya masih terganggu pada alam. Pada tahap ini mlai berkembang perkawinan penalua maupun gent. Akar-akaran sebagai makanan mulai dikenal, juga ombak dan penggada sebagai senjata, muncul pada kurun fase ini.

Perkembangan berikutnya, pada fase upper status of savagery, dimulai dengan penemuan senjata panah dan busur. Dengan alat yang diciptakan itu, memungkinkan manusia untuk melakukan perburuan dan mengayau untuk memenuhi kebutuhan kehidupan. Fase ini berlangsung terus sampai berlangsungnya keluarga panlua.

Keadaan kehidupan manusia mencapai fase lower status of barbarism, ditandai dengan ditemukannya system pembakaran periuk sebagai alat memasak kebutuhan kehidupan. Pada fase ini terjadi peralihan keluarga menjadi keluarga individual atau yang disebut syndiasmina family dengan sebentar-sebentar hubungan kelamin di luar perkawinan. Pada fase ini dan selanjutnya fase-fase berikutnya organisasi klan mulai kuat.

Fase berikutnya yang disebut middle status of barbarism merupakan fase dimulainya penanaman gandun dan perternakan. Pada fase ini timbul keluarga patriakal dan poligini. Dilanjutkan dengan fase upper status of barbarism yang ditandai dengan ditemukan besi dan alat-alat kerja terbuat dari besi. Manusia mulai mengembangkan perngertiaan milik.

Fase berikutnya disebut status of civilitation. Pada fase ini mulai, ditandai dengan penemuan alphabet fonetik dan tulisan. Kehidupan monogami yang sebenarnya timbul mulai timbul.

Berdasarkan fenomena yang dikemukakan Morgan tersebut, tampaklah strungle kehidupan manusia membentuk peradabannya. Kehidupan monogami dalam kebudayaan Hindu mengikuti sejarah peradaban manusia umumnya. Namun demikian, realisasi peradaban dalam kaitannya dengan kehidupan wanita dalam berbagai kebudayaan tentu berbeda-beda. Ada yang memarginalisasi kedudukan wanita, ada pula yang menempatkan wanita dalam kedudukan yang tertinggi.

Agama Hindu menempatkan wanita sebagai mahkota keluarga. Sebagai cermin kehidupan keluarga yang membanggakan. Reg Veda X.85.46 menyebutkan kedudukan wanita sebagai berikut:

Samrājñi śvaśure bhava samrājñi,
Samrśjñi śvaśure bawa samrājñi,
Śvaśrvām bhawa, Nanādari samrājñi bhava
Samrājñi adhi devrṣu

Terjemahannya:
Jadilah raty bagi mertua laki-lakimu;
Ratu bagi mertua perempuanmu;
Ratu bagi ipar-ipar perempuanmu dan
Ratu bagi ipar-ipar lelakimu

Sloka Reg Veda X.58.46 seperti dikutip di atas memberikan pemahaman betapa tingginya kedudukan wanita dalam keluarga Hindu. Wanita didoktrinasi sebagai ratu bagi seluruh keluarga besar, tidak saja bagi keluarga bati.

Dengan sebaik sloka tersebut, tampaklah wanita Hind harus mampu menjaga diri agar dihormati dan dimuliakan. Oleh karena itu, seringkali diidentikkan sebagai ratu bagi semua anggota keluarga di rumah suaminya. Sebagai ratu di dalam hal ini merefleksikan pula agar wanita tidak semena-mena dan senantiasa berlaku adil membina seluruh keluarga. Dengan demikian, dituntut agar mampu sebagai sosok yang dimuliakan, dihormati, dan menjadi kebanggaan keluarga. Di samping itu, segala perilakunya haruslah sempurna dan mampu menjadi teladan.

Sebagai mahkota keluarga yang berarti menjadi kebanggaan keluarga, wanita Hindu sesungguhnya menanggung beban berat sebagai sosok yang harus dapat menjadi suri tauladan bagi semua anggota keluarga. Menyandang kedudukan sebagai mahkota keluarga merefleksikan wanita Hindu harus membangun jati dirinya dengan baik agar benar-benar menjadi mahkota keluarga yang penuh dengan sinar kesejukan.

Melihat kedudukan wanita Hindu menurut ajaran Kitab Suci Weda, tidaklah salah bila pada kebanyakan entitas budaya menggangap wanita sebagai kembang keluarga (bungan natah). Tentu saja symbol yang disandang wanita dalam derajat yang begitu tinggi menyebabkan wanita sepantasnya sangat mengutamakan etika. Baik etika pergaulan sehari-hari maupun etika agama yang harus ditaati secara ketat.

Walaupun kitab suci Weda mengajarkan agar wanita menjadi mahkota keluarga, namun pada kenyataannya seringkali wanita dipandang sebagai objek lemah yang mudah eksploitasi. Kegigihannya membangun keluarga seringkali dimanfaatkan dengan menyerahkan segala tanggungjawab keluarga kepadanya. Semua tanggungjawab keluarga dilimpahkan kepadanya, sedangkan hak materialnya ditiadakan. Sementara wanita bekerja penuh semangat untuk membangun keluarga, suaminya pergi berjudi dan bersenang-senang. Kalau demikian terjadi maka ingatlah Manawa Dharmasastra III.56 yang menyatakan:

Yatra Naryastu Pujyante,
Ramante Tatra Devatah,
Yatraitastu Na Pujyante,
Sarvastatraphalah Kriyah,

Artinya:

Dimana wanita dihormati disanalah para Dewa senang dan melimpahkan anugerahnya. Dimana wanita tidak dihormati tidak ada upacara suci apapun yang memberikan pahala mulia.

Maka jadikanlah wanita sebagai mahkota keluarga.

Oleh: N. Reni Ariasri
Source: Majalah Wartam, Edisi 30, Agustus 2017