Wakcapala dan Hastacapala

Dari sekian banyak ciptaan Timan Yang Maha Esa di muka bumi ini, manusia merupakan makhluk yang paling utama. Keutamaan manusia ini, karena di antara ciptaan Tuhan, manusia memiliki Tripramana (Bayu, Sabdha dan Idep), sedangkan binatang, khewan dan sejenisnya mempunyai dwi Pramana (bayu dan sabdha) dan tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya mempunyai eka pramana (bayu) saja. Sebagai makhluk sempurna, manusia dilengkapi dengan akal-pikiran serta budi dan daya, sehingga dengan berbekalkan keempat unsur itu, manusia menjadi makhluk berbudaya.

Di dalam melakoni kehidupan di dunia ini, manusia tidak dapat terpisah dari prilaku baik dan buruk (Subhakarma dan Acubha-karma). Hakekat kehidupan manusia di dunia ini adalah untuk memperbaiki karma-nya terdahulu dan untuk mencapai apa yang djaebut dengan "Moksartham Jagadhita". Untuk mencapai tujuan itu, manusia dituntut untuk berlaksana sebaik mungkin sesuai dengan apa yang diarahkan di dalam ajaran agama. Melebur segala perbuatan buruk (Acubhakarma) ke dalam perbuatan baik (Subhakarma), seperti yang tersurat di dalam kitab Sarsamuccaya sloka 2 sebagai berikut:

"Manusah sarvabhutasu varttate vai
cubhacubhe, acubhesu samavistam
Subhesvevavakarayet"

"Ri sakwehning sarwa bhuta, iking
janma wwang juga wenang
gumawayaken ikang cubhacubha-karma,
kuneng panentasakena ning
cubhakarma juga ikangacubha-karma,
phalaning dadi wwang"

Artinya :

Di antara semua makhluk hidup,
hanya yang dilahirkan menjadi
manusia sajalah yang dapat melaksanakan
perbuatan baik ataupun buruk,
leburlah ke dalam perbuatan baik,
segala perbuatan buruk itu,
demikianlah phahalanya menjadi manusia

Dengan merenungi Mahawakya dari kitab Sarasamuccaya ini, kita dapat membayangkan betapa utamanya kita sebagai manusia yang dapat membedakan segala perbuatan baik dan buruk. Dengan kenyataan itu, hendaknya manusia dapat melebur segala perbuatan buruk ke dalam perbuatan baik sesuai dengan tuntunan ajaran agama.

Perbuatan baik dan buruk (suba dan Asubhakarma) yang dilakukan oleh manusia, sangat tergantung dengan zaman dan lingkungan dimana manusia itu hidup. Di samping itu juga pengaruh yang cukup penting di dalam membentuk prilaku manusia adalah faktor ilmu pengetahuan dan teknologi serta faktor lainnya. Pada zaman Kerthayuga, kehidupan manusia pada zamannya selalu memperlihatkan prilaku yang mengarah kepada perbuatan-perbuatan baik yang sesuai dengan ajaran karena tidak ada kejahatan, pada zaman Kerthayuga ini umur manusia sangat panjang.

Pada zaman Trethayuga, prilaku manusia sudah memperlihatkan keburukan-keburukan. Namun demikian prilaku manusia pada zaman ini masih didominasi oleh prilaku yang bersifat baik. Untuk menuntun perbuatan buruk manusia pada zaman itu, diperlukan satu kitab suci. Umur manusia pada zaman ini lebih pendek dibanding dengan umur manusia pada zaman Kerthayuga. Zaman Dwaparayuga, pada zaman ini antara kebaikan dan keburukan prilaku manusia menjadi seimbang. Pada zaman ini juga sering terjadi pertentangan-pertentangan antara sesama keluarga dan lain-lainnya. Kejadian semacam ini, di dalam purana-purana maupun itihasa digambarkan dengan pertentangan dan berakhir dengan peperangan antara para dewa dengan Asura, Rama dengan Rahwana dan antara Pandawa dengan Korawa dan sebagainya.

Untuk memperbaiki prilaku manusia menuju ke arah dharma, diperlukan dua buah kitab suci. Akibat peperangan yang sering dilakukan, umur manusia pada zaman Dwaparayuga ini menjadi lebih pendek dibanding dengan umur manusia yang hidup pada zaman Kertha dan Trethayuga. Puncak keburukan tingkah laku manusia terjadi pada zaman Kali-sanggara atau Kaliyuga ini. Pada tahun ini Kaliyuga telah mencapai usia yang ke-5095 Sankranti dan 5170 Saxana (Bhumi).

Pada zaman ini prilaku manusia yang Cubhakarma mengalami penyusutan menjadi prilaku yang Acubakharma. Ciwa di dalam ajaran agama. Akibat perbuatan buruk manusia ini, muncullah berbagai bentuk kesengsaraan dan penindasan di mana-mana. Untuk mengembalikan prilaku Acubhakarma kepada prilaku Subhakarma, di samping diperlukan kitab suci sebagai pedoman, juga diperlukan tuntunan dari orang-orang suci yang menguasai ajaran-ajaran yang terdapat di dalam kitab suci agama.

Perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan oleh manusia dari zaman Trethayuga sampai zaman Kaliyuga ini, tiada lain akibat terjadi pelecehan tentang arti dan hakekat dari ajaran Trikaya Parisudha. Ajaran Trikaya Parisudha ini, pada hakekatnya mengajarkan manusia menuju ke jalan yang benar sesuai dengan ajaran agama dengan cara berpikir yang benar dan baik (Manacika), berkata yang benar dan baik (Wacika) dan berbuat yang benar dan baik (Kayika). Dengan menerapkan ajaran Trikaya Parisudha ini, apa yang diinginkan yaitu kehidupan yang baik di alam skala dan niskala niscaya dapat tercapai.

Pelecehan terhadap hakekat Trikaya Parisudha ini, sudah tentu akan menimbulkan berbagai tindakan-tindakan kejahatan seperti yang terdapat pada ajaran Sadripu, Saptatimira, Sad Atatayi dan sebagainya. Dan yang tidak kalah pentingnya atas kejadian manusia selalu melakukan perbudakan Acubhakarma ini yaitu, karena manusia mengingkari keberadaan sifat Sattwam dengan menonjolkan sifat Rajas dan Tamas di dalam kehidupannya.

Dari sekian banyak prilaku buruk yang dibuat oleh manusia, dua diantaranya merupakan faktor penyebab dari prilaku buruk tersebut. Kedua penyebab itu tiada lain adanya Wakcapala dan Asthacapala. Hasta di dalam bahasa Indonesia pada hakekatnya berarti lengan atau tangan dan kata Wak ini berarti mulut atau kata-kata dan "Capala" berarti bergerak-gerak, tak sabar, cepat, gegabah, sembarangan dan pemukul. Dalam konteksnya dengan Wakcapala dan Hastapala ini sebagai perbuatan buruk, kedua kata ini dapat diartikan perbuatan buruk akibat kata-kata kotor yang keluar dari mulut dan perbuatan buruk akibat dari kesalahan tangan di dalam melakukan sesuatu.

Akibat dari baik dan buruknya kata-kata yang keluar dari mulut, di dalam kitab Sarasamuscaya sloka 117 disebutkan;

"dve karmani narah kurvaniha loke
mahiyate, abruvan parusam kincidasato narthayamstathe"

Maka hamba berpendapat, bahwa adalah dua macam perbuatan yang menyebabkan orang terpuji misalnya; sekali-sekali tidak mengucapkan kata-kata yang kasar, pun sekali-sekali tidak memikirkan perbuatan yang tidak layak, orang yang berkeadaan yang demikian yang terpuji di dunia.

Kata-kata yang parut diucapkan atau dikatakan kepada seseorang, di dalam kitab Sarasamuccaya sloka 118 disebutkan,

"Samyagalpam ca vaktavyamavik-siptene catasa,
vakprabandho hi samragadviragadva bhavedasan"

Yang patut dikatakan itu hendaknya sesuatu yang membawa kebaikan, hal itu janganlah  digembar-gemborkan; berkeinginan disebut pandai bicara; sebab kata-kata itu jika berkepanjangan ada yang menyebabkan senang, ada yang menimbulkan kebencian, tak baik hal serupa itu.

Perbuatan atau kata-kata yang dilarang oleh ajaran agama, di dalam kitab Sarasamuccaya sloka 125 disebutkan;

"Pratyaksam gunavadi yah parokse tu vinindakah,
samanavah Cvavalloke nastalokaparayanah"

Dan lagi yang tingkah lakunya begini, ia memuji kita berhadapan, tetapi mencela sesudah di belakang; orang itu disebut tidak jujur di dunia, jauh ia akan beroleh kebahagiaan, baik di dunia ini maupun di dunia lain.

Dengan menyimak Mahawakya yang tercantum pada sloka-sloka tentang kata-kata yang terdapat di dalam kitab Sarasamuccaya ini, dapat diartikan perkataan baik dan buruk akan mendatangkan hasil sesuai dengan yang diucapkan. Untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia ini maupun di dunia lain, kita hendaknya dapat berkata-kata yang baik.

Kata-kata yang kurang baik (Wakcapala) dan perbuatan tangan yang kurang baik karena disebabkan oleh pikiran yang kotor dan keruh, tidak dibenarkan oleh ajaran agama maupun dikecam oleh masyarakat. Hukuman yang diberikan terhadap Wakcapala dan Asthacapala ini, telah diatur di dalam Kitab Menawa Dharmacastra. Di dalam buku VIII sloka 267 disebutkan,

"Catam brahmana makrucya ksatriyo dandam arhati,
waicyo' pyardhacatam wa dwewa cudrastu wadham arhati
"

Seorang Ksatria yang menghina Brahmana dapat diancam denda 100 pana, oleh seorang waicya diancam denda 150 pana atau 200 pana sedangkan penghinaan oleh sudra diancam hukuman badan.

Penghinaan dengan kata-kata kasar antara sudra yang ekajati dengan Brahmana yang dwijati, di dalam kitab Menawa Dharmacastra buku VIII sloka 270 disebutkan;

"Eka jatir dwijatimstu waca darunaya ksipan,
jihwayah pra-nuyacchedam jaghanya prabha-wohisah"

Oleh: Drs. Nyoman Winatha

Source: Warta Hindu Dharma NO. 513 September 2009