Wadana Danawa

Cerita Mayadanawa menjadi bahan renungan kita ketika menyambut hari raya Galungan. Cerita yang sangat popular ini oleh masyarakat memang dikaitkan dengan pelaksanaan hari raya Galungan. Bahwa Raja Mayadanawa pernah melarang masyarakat merayakan hari Galungan, yang menghancurkan segala pelaksanaan Yadnya, Tapa-Brata, maupun ajaran-ajaran suci yang lain. Segala tempat suci dirusak, ia mencela ajaran Tattwa yang dilaksanakan selama ini. Namun demikian apabila kita mendalami lebih lanjut cerita Mayadanawa yang termuat baik di dalam Lontar Usana Bali maupun Kakawin Mayadanawantaka dapat diketahui bahwa cerita Mayadanawa mengandung Tattwa yang tinggi.

Pada bagian awal Kakawin Mayadanawantaka, ada disuratkan bahwa pengarangnya telah merasa lelah karena terus berputar (di seantero jagat Bali) bagaikan roda kereta; beliau merasa perlu berhenti sejenak untuk memahami ajaran Tattwa yang utama, untuk mencapai Purusa dan Nirguna. Karena orang yang seperti itulah disebut sebagai Yogi-Jnana, yang menguasai segala yang ada, yang mengetahui cara meninggalkan penyebab kehidupan. Sebelumnya disuratkan bahwa sang pengarang yang bernama Dang Hyang Nirartha, mengumpamakan diri beliau bagaikan pohon kayu yang telah kering ditinggalkan hujan, yang kini telah diperingatkan oleh petir yang akan membencanai. Jadi karya ini sesungguhnya dengan sadar dimaksudkan untuk menyuratkan ajaran Tattwa, baik Purusa Tattwa, Nirguna Tattwa maupun Maya Tattwa.

Tokoh utama dalam Kakawin Mayadanawantaka adalah Sang Mayadanawa, sebuah nama yang segera mengingatkan kita tentang konsep maya dan danawa. Mayadanawantaka sendiri berarti kematian Mayadanawa. Dengan sempurna kakawin ini menyuratkan watak atau karakter Mayadanawa, danawa sakti yang menghancurkan segala hal yang berhubungan dengan nilai-nilai kesucian atau nilai-nilai kerohanian. Lewat karakter tokoh ini kita dapat menangkap amanat atau pesan yang diberikan oleh pengarangnya. Terlebih lagi Si Mayadanawa menemui antaka atau kematiannya, artinya kakawin ini menempatkan Mayadanawa sebagai tokoh yang kalah, dikalahkan oleh musuh yang ada di dalam dirinya sendri. Lebih lanjut dikalahkan oleh Dewa Indra yang diutus oleh Hyang Siwa.

Karena memiliki watak seperti ini maka Mayadawa dinyatakan beristana di Bedahulu. Bedahulu juga berarti beda wadana atau memiliki wajah lain dari manusia biasa. Mayadanawa adalah manusia berwajah daitya, wajah yang sangat mengerikan. Ini adalah sebuah lukisan betapa hubungan antara karakter dengan penampilan fisik seseorang. Maka wadana danawa, ia yang berwajah daitya atau danawa, bukanlah semata-mata tokoh sejarah, namun dapat hadir dalam setiap masa, baik masa lalu, masa datang maupun masa sekarang. Boleh jadi Mayadanawa hadir pada masa kini, yang terus-menerus menyebarkan kepalsuan, menumbuhkan kegelapan pikiran masyarakat, sehingga pemeluk agama itu sendiri dengan tidak sadar menghancurkan agamanya sendiri.

Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 486 Juni 2007