'Volunteerism' Hindu

Melepas millennium kedua, Bali diguncang peristiwa hebat saat bom meledak di Kuta dan sekitarnya pada 2002, dan terguncang lagi tiga tahun kemudian. Cerita manisnya, peristiwa laknat itu segera teratasi. Pelakukanya dibui, bahkan sudah ada yang meregang nyawa dihukum mati. Yang tetap pahit, ingatan kolektif kita masih membekas, bagaimana orang Bali menanggapi kejadian maha mengerikan itu. Ada ragam cara, baik dengan sekala maupun niskala. Ada yang bekerja individual, juga kolektif. Pokoknya bekerja bersama. Mereka menjauhkan dulu pikiran jelek, sekurangnya disimpan, bahwa ini disebabkan kelompok tertentu, meski tak semuanya juga bisa begitu. Tak terbayangkan juga jika kejadian ini menimpa daerah lain di Indonesia. Pasti berakhir getun.

Dapat dibilang, dua kejadian itu menjadi ujian untuk Bali dalam skala besar. Ujian lain tentu sudah banyak diterima jauh sebelumnya. Transformasi menghadapi peristiwa besar sudah mulai ke arah mendewasakan. Jika masih di sana sini ada riak tak produktif, itu alamiah, hal yang biasa. Apalagi sudah dibumbui kepentingan tertentu, berbungkus pragmatisme, biasanya politik. Kini orang Bali sudah mulai matang, meneruskan gaya khas orang Bali yang suka menertawakan setiap kejadian, lalu mengucap biasa-biasa gen, apa dadi orahang, sing ada apa de..

Lalu ketika Gunung Agung “batuk” dengan mengeluarkan sedikit asap dan mengguncang-guncang tanah, alam kesadaran banyak orang juga tetiba “bangun”. Mereka bergerak massif spontan, meski sedikit abai dengan manajemen bencana. Tak apa, asal bisa urun sumbangan dalam bentuk apapun. Bahkan menawarkan sendiri rumah tinggal, banjar, desa adat (sister village). Mereka yang aman membuka tangan lebar bagi pengungsi, terlebih bencana itu dianggap “bersumber” dari Gunung Agung, hulu suci semua orang Bali. Dengan begitu, bencana Gunung Agung seolah milik bersama.

Yang menarik, relawan (volunteer) hadir menjadi kekuatan lain yang seolah “menenggelamkan” peran pemerintah. Mungkin karena birokratisasi yang njelimet seperti kita sudah mahfum, atau memang kapasitas sumber daya manusianya yang lemah, sehingga harus juga dimaklumi dan dimaafkan. Fenomena relawan sebagai ujung tombak mengingatkan kita kembali pada kejadian puluhan tahun silam di Kuta dan sekitarnya. Semua ketog semprong. Suryaksiyu (dengan nada positif) kembali menemukan jalan lapang untuk menggambarkan semangat kerja dan gotong royong orang Bali pada umumnya.

Setidaknya banyak alasan mengapa volunteerism ini bisa begitu mempesona. Pertama, Bali dalam sorotan dunia. Bencana Gunung Agung yang sampai artikel ini dimuat belum meletus, tetapi bayangan bencana seperti di ujung mata, terutama dampak jeleknya terhadap dunia pariwisata. Baik dan buruk tentang Bali segera tersiar dan menjadi perhatian global, serupa dengan dampak Bom Bali I dan II. Bahkan televisi nasional secara terus menerus menayangkan keadaan Gunung Agung dan kondisi pengungsi. Para relawan harus bekerja keras, menyelesaikan berbagai masalah, sebab jika kita (relawan) diam, dunia akan menganggap orang Bali tidak peka, egois, dlsb. Kita akan dituduh tidak sejalan dengan etika global yang menghendaki respon cepat terhadap bencana kemanusiaan.

Kedua, bencana bagi orang Bali bukan akhir, tapi awal mula. Siklus pralina akan menghasilkan utpeti dan selanjutnya sthiti, begitulah dialektika alam pikir dan komis orang Bali. Karenanya bencana harus dihadapi, diselesaikan, bukan sebaliknya dihindari dan diabaikan. Pralina Gunung Agung misalnya, bisa dengan letusan, bisa juga hanya melalui linuh-linuh kecil. Bagi orang Bali, alam memiliki hukum sendiri untuk menata ulang dirinya. Keberanian dan kekuatan relawan juga diliputi keyakinan-keyakinan seperti ini, terlebih yang memberikan kode bekerjanya siklus Tri Kona adalah Gunung Agung, tempat semua signal kesucian bermula di hulu, di luhur.

Ketiga, tumpah ruahnya relawan karena memang secara genetik DNA orang Bali adalah hidup dalam kolektivitas. Menganut hidup individual akan terlihat aneh dalam kebudayaan Bali. Kolektivitas itu diemanasikan ke dalam ragam bentuk, salah satu yang paling menonjol melalui gotong royong yang bahkan bisa dibuat secara mendadak saat tertimpa masalah, misalnya sekaa semal, sekaa meboros, dlsb. Jika dilakukan melalui sekaa-sekaa yang terorganisir dan permanen, di Bali itu sudah biasa. Jadi tegang lemah bencana Gunung Agung boleh jadi hanya menguji kembali sifat khas orang Bali: gotong royong.

Keempat, pengaruh besar media sosial (medsos), relawan adalah canggihnya medsos, sesuatu yang tidak besar pengaruhnya saat meledaknya Bom Bali, apalagi saat Gunung Agung meletus 54 tahun silam. Yang masih belum menggembirakan adalah lemahnya manajemen bencana, tumpah tindihnya organisasi dan struktur, serta miskomunikasi, misalnya berseliwerannya berita hoax dan cerita mistis ikut meramaikan suasana kebencanaan dan beradu kuat dengan informasi ilmiah. Begitulah relawan Bali, volunteer Hindu.

Oleh: I Nyoman Yoga Segara l Penulis adalah Antropolog IHDN Denpasar
Source: Majalah Wartam, Edisi 32, Oktober 2017