Veda Adalah "Para Vak"

Catvari vak-parimita padani tani vidur brahmana ye manisinah
Guha trini nihita nengayanti turiyam vaco manusya vadanti
(RgVeda 1.164.45)

Orang-orang suci bijaksana terpelajar mengetahui kebenaran Vak yang terdiri dari empat jenis. Tiga jenis Vak keberadaannya terahasiakan, dan hanya (satu jenis) Vak keempat yang dipergunakan dalam percakapan oleh umat manusia.

Menurut Rg. Veda, kata (suara) ada dibedakan menjadi empat jenis/langkah (catur padani). Keseluruhan kata di dunia ini ada empat jenis, yang hanya orang-orang suci sangat terpelajar bijaksana yang mengetahuinya. "sa catur vidha vibhakta", ia dibedakan menjadi empat jenis kata. Keempatnya tersebut hanya para orang suci sangat terpelajar dan memiliki kecerdasan spiritual super tajam yang mampu mengetahuinya (tani padani brahmanah ye manisinah medhavinah viduh janati).

Para suci memahami ternyata ada suara atau kata yang manusia biasa tiada mampu menyentuh dan memahaminya. Dari keempat jenis kata (sabda) tersebut, tiga jenis berada dalam dunia "guha nihita" atau alam rahasia, sedangkan yang dipergunakan di dalam percakapan dunia oleh manusia hanyalah satu jenis Sabda yang dinamakan Nipata yang menjadi Laukika Bhasa atau bahasa dunia manusia. Satu jenis itu saja yang dapat ditangkap dan dipahami serta bisa dipergunakan oleh manusia. Sedangkan yang lain yaitu Nama, Akhyata, dan Upasarga menjadi "rahasia" bagi umat manusia. Semua yang lain dapat diketahui hanya melalui peningkatan keadaan kesadaran spiritual yang maju.

Kitab-kitab suci dan orang-orang suci semua setuju bahwa alam ini terciptakan melalui Sabda, yaitu kata atau suara. Omkara pun adalah suara. Ajaran Tantra menyebutkan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini tercipta dari Sabda, yaitu suara atau kata (artha-srsteh pur am sabda-srstih). Bhartrhari yang karena kesuciannya dari seorang Raja menjadi Resi, dalam karyanya bernama Vakyapadiya mengatakan bahwa suara atau kata-lah yang menciptakan seluruh alam semesta ini (vageva visva bhuvanani jajne). Sedangkan kitab kesimpulan Veda bernama Vedanta Sutra sendiri menyebutkan "anavrtih sabdat" (melalui suaralah pembebasan kekal abadi dimungkinkan).

Veda, sebagaimana diajarkan di sekolah-sekolah adalah meru-pakan kitab suci yang Anadi dan Ananta, bahwa Veda tidak berawal dan tidak berakhir. Ia merupakan pengetahuan Kekal Abadi. Hal ini ditekankan di dalam Rg Veda 1.164.45 dan berbagai Mantra Veda lainnya. Ditegaskan bahwa Veda adalah pengetahuan suci kekal abadi yang keluar dari Bibir Tuhan YME sehingga ia dinamakan Para Vak, yaitu Sabda Brahman, Sabda Spiritual Maha Agung dari Tuhan Yang Maha Agung. Oleh karena ia juga keluarnya tidak melalui bibir manusia biasa maka Veda juga dinamakan Apauruseya. Berasal dari kata Purusa (manusia) dengan "A" di depan menunjukkan bukan atau tidak, sehingga menjadi apauruso, dan karena aturan tata bahasa Sanskerta menjadi Apauruseya, berarti tidak oleh manusia.

Demikian, Veda merupakan ajaran Maha Agung yang tidak merupakan hasil buatan manusia biasa. Ia adalah wahyu langsung dari Tuhan YME yang diterima langsung secara spiritual oleh para Maharesi dan disebarluaskan di dalam lingkungan umat manusia oleh para Maharesi tersebut, tanpa pertimbangan perbedaan-perbedaan duniawi, kecuali perbedaan kelayakan. Veda disampaikan hanya kepada yang layak, kepada seorang Arya atau Aryani, dia sang pengikut Veda, yang percaya hanya pada ajaran-ajaran muha Veda beserta cabang-cabang dan ranting-rantingnya.

Para orang suci yang telah mendapatkan gelar Resi dan Maharesi merupakan para orang suci yang sangat tangguh di dalam berbagai tapa brata dan kesucian serta ajeg mantap di dalam jalan Satya /Rta/Kebenaran. Kitab Manu Smrti menegaskan bahwa behau-beliau itu mendapat gelar Resi Maharesi setelah melewati berbagai pertapaan maha dahsyat sampai akhirnya berhasil "melihat" langsung Mantra-Mantra Veda, sehingga beliau mendapat gelar Resi. Dalam bahasa Sanskerta, kata Resi berarti ia yang langsung melihat Mantra (rsayo mantra-drstarah). Kitab kamus Veda bernama Nirukta juga menjelaskan bahwa yang melihat Mantra Veda dinamakan Resi (rsir darsanat).

Di dalam filsafat Veda, Sabda (kata, sabda) dikatagorikan sebagai sesuatu yang kekal abadi. Nirukta juga mengatakan "niya-tanupurvya niyatavaco yuktayah" bahwa Sabda adalah kekal, yang mengikutinya juga kekal dan tata pengucapannya juga adalah kekal. Jadi, Sabda di dalam ajaran Veda diterima sebagai kekal abadi. Oleh karena Veda tidak merupakan Sabda dari manusia biasa, maka ia dinamakan Para-vak dan/atau Apauruseya. Dengan demikian, pengetahuan Veda, arti dan makna pengetahuan Veda adalah kekal abadi pula adanya.

Pengetahuan kekal seperti itu hanya Tuhan YME Sendiri yang mampu menghadirkan di alam ini. Orang-orang biasa atau pun para Dewa tidak akan mampu melakukannya. Satu-satunya hanya Tuhanlah yang mampu melakukan hal-hal yang kekal. Kitab Mahabharata bagian Santi Parva (232.24) juga mempertegas hal ini: "anadi-nidhana vidya vagutsrsta svayambhuva" bahwa dari Siapa munculnya alam se¬mesta ini, dari Beliaulah pertama kali terciptakan atau munculnya ajaran suci Veda.

Kitab Veda yang adalah Sabda Tuhan YME Sendiri adalah Sabda suci, Sabda Kekal Abadi. Di dalam Veda, Sabda/kata dibedakan menjadi empat, tiga dalam bentuk rahasia dan satu dalam bentuk Veda, yang diizinkan oleh-Nya menyebar di dalam lingkungan masyarakat manusia (guha trini nihita...). Trini artinya tiga dan guha nihita menunjukkan sangat rahasia. Dari sini kita dapat membayangkan bagaimana luasnya dan mendalamnya serta maha tiada terbatasnya ajaran Veda, yang hanya dan hanya seperempat dari keseluruhan tanpa batas Sabda Suci Kekal Abadi.

Empat jenis suara yang juga disebut Vak, Sabda, Nada, jenis suara bernama Vaikhari Vak merupakan jenis getaran suara yang terendah. Ia terjadinya pada lingkungan Sthula Sarira dalam keadaan Jagrata Avastha atau keadaan terjaga. Level getaran suara ini tidak mampu menjadi alat komunikasi Veda. Vaikhari diucapkan melalui mulut. Pada level ini orang berpikir dengan kata atau suara yang bisa didengar melalui indria luar.

Madhyama Vak merupakan getaran suara antara atau menengah, terjadinya di alam halus atau alam prana. Madhyama berarti menengah. Ia berada di tengah-tengah antara keadaan Susupti dan Jagrata Avastha. Lingkungannya adalah Suksma Sarira (badan halus) dalam keadaan Svapna Avastha. Pada level ini orang berpikir dengan ide-ide. Pada level Madhyama dan Vaikhari, suara dan obyek itu keberadaannya berbeda. Dan dalam hubungan kosmologi, Vaikhari, Madhyama, dan Pasyanti Vak dihubung-hubungkan dengan alam Bhur, Bhuvah, dan Svah.

Selanjutnya Pasyanti Vak merupakan suara yang tingkatnya lebih halus lagi. Pasyanti artinya melihat. Para Maharesi dan Yogi yang mempunyai penglihatan dalam, mereka memasuki alam sangat halus untuk berada pada suara pasyanti. Pada level ini orang melihat dan berpikir dengan pengalaman spiritual. Ia berada pada level keadaan Susupti Avastha.

Sedangkan Para Vak beradanya pada level alam spiritual yang sangat amat tinggi dan halus yang dinamakan alam Paramam vyomam. Kata Para berarti level tertinggi, dan Vak berarti kata atau suara. Pada level ini tidak lagi ada pikiran melainkan berada penuh pada alam spiritual yang tak terbatas. Ia berada pada level keadaan transendental, keadaan spiritual sangat tinggi bernama Turiya Avastha. Pada level ini, tidak ada lagi perbedaan antara suara dengan objek karena suara itu sendiri sudah mengandung segala isi dari objek (abhinnam). Para Vak adalah level tertinggi spiritual, Paramam Vyomam, dan dengan demikian, Veda adalah Para Vak.

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Pon 21 Agustus 2016