Usaha Memahami

Fokus sentral dari tradisi Nyepi adalah kedalaman kontemplatif. Pada kedalaman kontemplatif tersebut, manusia berusaha memahami ”goa hatinya”, yang dipercayai sebagai tempat bersemayamnya Brahman (Tuhan) di dalam diri sendiri.

Oleh karena itu, sejak awal Rsi Patanjali telah menegaskan, ”Yoga adalah pengekangan benih-benih pikiran (citta) dari pengambilan berbagai wujud (perubahan, wrtti).” Santo Paulus memberikan istilah sebagai ”berjalan dalam roh ketika berbaliknya pikiran dan hati menuju kehidupan baru”.

Adalah Raja Kaniska I pada suatu saat di tahun 77 Masehi tercenung memahami goa hatinya. Penguasa Dinasti Kusana yang termasyhur itu selalu berdiri tegak di atas kemenangan setelah dapat mengalahkan musuh-musuhnya.

Namun, tiba-tiba pada suatu malam yang gelap, ketika bulan mati, dia tercenung dari kemegahan egonya. Dengan rendah hati, dia bertanya kepada diri sendiri, ”Apakah arti kemasyhuran dalam hidup jika selalu diwarnai dendam dan diancam pemberontakan? Adakah yang lebih indah dalam hidup ini selain kedamaian?”

Pengalaman memahami goa hati itulah yang kemudian melahirkan hari raya Nyepi sebagai saat untuk melihat ke dalam diri sendiri sambil menundukkan ego yang telah dikuasai berbagai hal bersifat material-profan. Setidaknya pada saat Nyepi seperti ini, seseorang berusaha mengimbangi keserakahan egonya dengan visi kebersamaan yang lebih bermakna bagi keselamatan umat manusia.

Ke dimensi spiritual

Banyak orang yang percaya bahwa abad XXI akan ditandai dengan tren munculnya berbagai gerakan spiritual. Manusia seolah ingin kembali menengok ke dalam dimensi spiritualnya yang selama ini ditinggalkan. Karena itulah spiritualisme dan budaya akan terus menguat. Misalnya, Capra mengutip sosiolog Pitirim Sorokin yang sudah sejak tahun 1940-an memperkenalkan ”tiga sistem nilai dasar”. Ketiga sistem nilai dasar itu melandasi semua manifestasi suatu kebudayaan.

Sistem nilai indrawi yang pertama berdiri di atas realitas ultim. Fenomena spiritual dianggapnya hanya merupakan suatu manifestasi dari materi. Semua nilai etika bersifat relatif, tetapi persepsi indrawi merupakan satu-satunya sumber kebenaran. Kedua, sistem nilai ideasional (ideational). Dalam sistem ini realitas yang sejati justru terletak di luar dunia materi, yaitu pada alam spiritual. Bahkan, pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman batin.

Sementara sistem nilai ketiga merupakan sintesis kedua sistem nilai terdahulu. Namun, sangat diyakini, transformasi yang kita alami saat ini akan berlangsung jauh lebih dramatis dan lebih cepat daripada yang pernah dialami manusia sebelumnya.

Keyakinan para ahli itu mulai dan terus mewujud sekarang. Gerakan yang dianggap paling menonjol pada akhir abad XX dan awal abad XXI ini adalah gerakan new age untuk melawan modernisme yang didominasi peradaban Barat. Namun, new age hanya melangkah sejauh berpaling dari agama Barat untuk kemudian menyelami agama Timur, seperti Hindu, Buddha, Zen, Taoisme, dan agama-agama asli di Amerika.

Perlawanan yang lebih keras sekaligus lebih kejam terhadap modernisme muncul dalam bentuk radikalisme, antara lain Al Qaeda, Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), dan Boko Haram. Gerakan ini bersifat menyempit terhadap ajaran agama yang dianut dan menganggap agama lain, bahkan pemeluk agama sendiri yang tak sepaham, sebagai kafir.

Kearifan spiritual

Para bijak menyebut, transformasi memang menimbulkan sakit dan penderitaan. Karena itu, tetua di Bali selalu menandai transformasi, bahkan setiap perubahan dalam siklus hidup manusia dan alam, dengan melangsungkan upacara memohon keselamatan. Namun, transformasi memang tidak bisa dihindari, sebaliknya harus disambut dengan kearifan spiritual: membiarkan yang lama semakin surut dan menata yang baru menggantikan untuk tumbuh.

Karena itu, sekarang kita bisa memahami mengapa seorang Ahmed al-Tayib, Imam Besar Al-Azhar, menyerukan reformasi ajaran agama di negara Muslim untuk mencegah penyebaran ekstremisme agama. Dan, bagaikan gayung bersambut, Nahdlatul Ulama juga akan mengukuhkan Islam Nusantara pada muktamar ke-33 di Jombang, Jawa Timur, awal Agustus. Islam Nusantara yang dibangun akan saling memperkuat Islam dan nasionalisme serta diharapkan menjadi model keislaman dunia.

Seolah melengkapi ide Nahdlatul Ulama, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, ”Kita harus bisa memberikan alternatif kepada dunia bahwa untuk melihat dan mempelajari Islam itu tidak hanya bertumpu ke Timur Tengah, tetapi juga ke Indonesia."

Secara kebetulan, itulah yang telah dilakukan umat Hindu. Umat Hindu di seluruh dunia tidak akan pernah sama dalam menerapkan ajarannya karena selalu disesuaikan dengan budaya setiap daerah. Ketika membentuk World Hindu Parisad dua tahun lalu di Bali, tokoh-tokoh Hindu dunia mengagumi keanekaan Hindu di Indonesia sehingga sepakat menjadikan Bali sebagai pusat kerja sama umat Hindu sedunia.

Ya, spiritualitas, goa hati, tampaknya sedang bergerak untuk menyatukan seluruh umat beragama. Bukan hanya intern umat beragama, melainkan juga antarumat beragama. Dalam kerukunan seperti itu, setiap pemeluk agama harus terus berusaha menghidupkan agama atau keyakinan yang mereka anut masing-masing.

”Setiap orang harus mengetahui bahwa agama mempunyai tubuh dan jiwa. Apa pun tubuh agama yang Anda sentuh, Anda harus menyentuh jiwanya. Namun, jika Anda menyentuh jiwanya, Anda telah menyentuh tubuh agama,” ujar sufi Hazrat Inayat Khan. Dia menyebut agama yang benar ada di dalam hati yang terbuka, dalam pandangan yang luas, dan dalam agama yang hidup. ”Carilah Tuhan di dalam hati umat manusia,” ujarnya.

Karena itu, marilah pada hari suci Nyepi ini kita belajar memahami suara di dalam goa hati kita masing-masing. Selamat merayakan Nyepi Tahun Baru Saka 1937.

Oleh: Raka Santeri
Source: kompas.com