Upacāra dan Upakāra Sebuah Kajian Filosofis [2]

(Sebelumnya)

16. Banten Pejati

Banten pejati adalah nama Banten atau (upakāra), sesajen yang sering dipergunakan sebagai sarana untuk mempermaklumkan tentang kesungguhan hati akan melaksanakan suatu upacara, dipersaksikan ke hadapan Hyang Widhi dan prabhavaNya.

Pejati berasal bahasa Bali, dari kata “jati” mendapat awalan “pa”. Jati berarti sungguh-sungguh, benar-benar.  Banten pejati adalah sekelompok banten yang dipakai sarana untuk menyatakan rasa kesungguhan hati kehadapan Hyang Widhi dan manifestasiNya, akan melaksanakan suatu upacara dan mohon dipersaksikan, dengan tujuan agar mendapatkan keselamatan. Banten pejati merupakan banten pokok yang senantiasa dipergunakan dalam Pañca Yajña.  Adapun  unsur-unsur banten pejati, yaitu:

a. Daksina

Unsur-unsur yang membentuk daksina:

1. Alas bedogan/srembeng/wakul/katung; terbuat dari janur/slepan yang bentuknya bulat dan sedikit panjang serta ada batas pinggirnya . Alas Bedogan ini lambang pertiwi unsur yang dapat dilihat dengan jelas.

2. Bedogan/ srembeng/wakul/katung/ srobong daksina; terbuat dari janur/slepan yang dibuta melinkar dan tinggi, seukuran dengan alas wakul. Bedogan bagian tengah ini adalah lambang Akasa yang tanpa tepi.

3. Srembeng daksina juga merupakan lambang dari hukum Rta (Hukum Abadi tuhan).

4. Tampak; dibuat dari dua potongan janur lalu dijahit sehinga membentuk tanda tambah. Tampat adalah lambang keseimbangan baik makrokosmos maupun mikrokosmos.

5. Beras; lambang dari hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan manusia di dunia ini.

6. Porosan; terbuat dari daun sirih, kapur dan pinang diikat sedemikian rupa sehingga menjadi satu, porosan adalah alambang pemujaan pada Hyang Tri Murti (Brahma, Visnu, Siva).

7. Benang Tukelan; adalah simbol dari naga Anantabhoga dan naga Basuki dan naga Taksaka dalam proses pemutaran Mandara Giri di Kserarnava untuk mendapatkan Tirtha Amertha dan juga simbolis dari penghubung antara Jivatman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya Pralina. Sebelum Pralina Atman yang berasal dari Paramatman akan terus menerus mengalami penjelmaan yang berulang-ulang sebelum mencapai Moksa. Dan semuanya akan kembali pada Hyang Widhi kalau sudah Pralina.

8. Uang Kepeng; adalah lambang dari Deva Brahma yang merupakan inti kekuatan untuk menciptakan hidup dan sumber kehidupan.

9. Telor Itik; dibungkus dengan ketupat telor, adalah lambang awal kehidupan/ getar-getar kehidupan , lambang Bhuana Alit yang menghuni bumi ini, karena pada telor terdiri dari tiga lapisan, yaitu Kuning Telor/Sari lambang Antah karana sarira, Putih Telor lambang Suksma Sarira, dan Kulit telor adalah lambang Sthula sarira.

10. Pisang, Tebu dan Kojong; adalah simbol manusia yang menghuni bumi sebagai bagian dari ala mini. Idialnya manusia penghuni bumi ini hidup dengan Tri kaya Parisudhanya.

11. Gegantusan; yang terbuat dari kacan-kacangan dan bumbu-bumbuan, adalah lambang sad rasa  dan lambang kemakmuran.

12. Papeselan yang terbuat dari lima jenis dedaunan yang diikat menjadi satu adalah lambang Panca Devata; daun duku lambang Isvara, daun manggis lambang Brahma, daun durian lambang Mahadeva, daun salak lambang Visnu, daun nangka atau timbul lamban Siva. Papeselan juga merupakan lambang kerjasama (Tri Hita Karana).

13. Buah Kemiri; adalah sibol Purusa/Kejiwaan/Laki-laki.

14. Buah kluwek/Pangi; lambang pradhana/kebendaan/perempuan.

15. Kelapa; simbol Pawitra (air keabadian/amertha) atau lambang alam semesta yang terdiri dari tujuh lapisan (sapta loka dan sapta patala) karena ternyata kelapa memiliki tujuh lapisan ke dalam dan tujuh lapisan ke luar. Air sebagai lambang Mahatala, Isi lembutnya lambang Talatala, isinya lambang tala, lapisan pada isinya lambang Antala, lapisan isi yang keras lambang sutala, lapisan tipis paling dalam lambang Nitala, batoknya lambang Patala. Sedangkan lambang Sapta Loka pada kelapa yaitu: Bulu batok kelapa sebagai lambang Bhur loka, Serat saluran sebagailambang Bhuvah loka, Serat serabut basah lambang svah loka, Serabut basah lambanag Maha loka, serabut kering lambang Jnana loka, kulit serat kering lambang Tapa loka, Kulit kering sebagai lamanag Satya Loka Kelapa dikupas dibersihkan hingga kelihatan batoknya dengan maksud karena Bhuana Agung sthana Hyang Widhi tentunya harus bersih dari unsur-unsur gejolak indria yang mengikat dan serabut kelapa adalah lambang pengikat indria.

16. Sesari; sebagai labang saripati dari karma atau pekerjaan (Dana Paramitha).

17. Sampyan Payasan; terbuat dari janur dibuat menyerupai segi tiga, lambang dari Tri Kona; Utpeti, Sthiti dan Pralina.

18. Sampyan pusung; terbuat dari janur dibentuk sehingga menyerupai pusungan rambut, sesunggunya tujuan akhir manusia adalah Brahman dan pusungan itu simbol pengerucutan dari indria-indria.

a. Banten Peras (sudah dijelaskan di atas).
b. Banten Ajuman/Soda (sudah dijelaskan di atas).
c. Katipat Kelanan

Unsur-unsur yang membentuk ketupat kelanan:

Alasnya tamas/taledan atau ceper, kemudian diisi buah, pisang dan kue secukupnya, enam buah ketupat, rerasmen/lauk pauk + 1 butir telor mateng dialasi tri kona/ tangkih/celemik, sampyan palus/petangas, canang sari.

Ketupat  Kelanan adalah lambang dari Sad Ripu yang telah dapat dikendalikan atau teruntai oleh rohani sehingga kebajikan senantiasa meliputi kehidupan manusia. Dengan terkendalinya Sad Ripu maka keseimbangan hidup akan meyelimuti manusia.

a. Penyeneng/Tehenan/Pabuat (sudah dijelaskan di atas).
b. Pesucian/Pangeresikan (sudah dijelaskan di atas).
c. Segehan (sudah dijelaskan di atas).
c. Siapa yang menerima Banten pejati?

Banten Pejati dihaturkan kepada Sanghyang Catur Loka Phala, yaitu:

* Peras kepada Sanghyang Isvara
* Daksina kepada Sanghyang Brahma
* Ketupat kelanan kepada Sanghyang Visnu
* Ajuman kepada Sanghyang Mahadeva

b. Jenis-jenis Daksina

* Daksina kelipatan 1: daksina alit.
* Daksina kelipatan 2: daksina pakala-kalaan (Manusa Yajna).
* Daksina kelipatan 3: daksina krepa (Rsi Yajna).
* Daksina kelipatan 4: daksina gede/pamogpog (upacara besar).
* Daksina kelipatan 5: daksina galahan.

Mantra Menghaturkan Banten Pejati:

1. Mantra Memohon Tirtha:

# Om pancaksaram maha tirtham pawitram papa nasanam papa koti sahasranam agadam bhawet sagaram
# Om pancaksaram param brahma pawitram papa nasanam parantam parama jnanam siwa lokam pratam subham
# Om namo siwa ityoyam para brahma atmane dewanam para sakti panca dewah panca rsih bhawet agni
# Om A-karasca U-akarasca Ma-karo windhu nadhakam pancaksaram maya proktam Om-kara Agni mantranke ya namah swaha

2. Mantra Pejati (Daksina, Ajuman Tipat Kelanan)

# Om Siwa sutram yajna pawitram paramam pawitram, Prajapatir yogayusyam, balamastu teja paranam, guhyanam triganam trigunatmakam.
# Om namaste bhagawan Agni, namaste bhagawan Harih, namaste bhagawan Isa, sarwa bhaksa utasanam, Tri warna bhagawan Agni Brahma Wisnu Maheswara, Saktikam pastikanca raksananca saiwa bhicarukam.

3. Mantra Panyeneng/Tehenan/Pabuat

# Om Kaki panyeneng Nini Panyeneng kajenengan denira Sanghyang Brahma wisnu Iswara Mahadewa Surya Chandra Lintang Teranggana. Om sri ya namah swaha.

4. Mantra Peras

# Om Panca wara bhawet Brahma, Wisnu sapta wara waca, sad wara Iswara dewasca, asta wara Siwa jnana Omkara muktyate sarwa peras prasidha siddhi rahayu ya namah swaha.

5. Mantra Pasucian

# Om asta sastra empu sarining wisesa tepung tawar amunahaken angilangaken sahananing sebel kandel cuntakaning pebhaktyaning hulun, Om sanut sang kala pegat, pegat rampung sahananing wisesa, om sri dewi bhatrimsa yogini ya namah, Om gagana murcha ya namah swaha.

6. Mantra Segehan

# Om Atma Tattwatma sudha mam swaha Om swasti-swasti sarwa bhuta suka pradhana ya namah swaha. Om shantih shantih shantih Om.

7. Mantra Metabuh Arak Berem

# Om ebek segara ebek danu ebek banyu premananing hulun ya namah swaha.

Demikian kupasan upakāra, sehingga dengan pemahaman ini dapat menumbuhkan kesadaran, keyakinan, dan kemantapan umat Hindu dalam membuat dan menghaturkan upakāra dan melaksanakan ajaran agama Hindu yang penuh dengan simbol-simbol, sehingga dapat mengikis dogma “Anak Mula Keto”, di masa yang akan datang. Dan yang terpenting umat dapat menjadi sumber tauladan bagi keluarga dan anak-anaknya, dengan memberikan pelatihan secara konfrehensif sebagai bentuk kepedulian akan tradisi Veda yang penuh dengan Nyasa/simbol, serta dalam penerapan Sistem Pembelajaran Tuntas. Dengan demikian akan terlahir umat yang memiliki kualifikasi kecerdasan IQ (kecerdasan intelek), EQ (kecerdasan emosional), SQ (kecerdasan spiritual), ETQ (kecerdasan etetika) sehingga eksisitensinya sebagai umat Hindu tidak akan memudar.

“Semoga Tidak Jadi Umat Hindu 'JARKONI' (Iso Ngujar Tapi Ora Iso Ngelakoni)"
Om Avighnam Astu...!!!

Oleh: Jero Mangku Danu (I Wayan Sudarma)
Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal