Upacara Sipatan dalam Meminimalkan Kehamilan Pada Usia Pra-Nikah [4]

(Sebelumnya)

Dengan adanya upacara sipatan serta aturan yang ada dalam awig-awig tersebut merupakan aktifitas untuk pengembangan di bidang pendidikan dalam membina kepribadian masyarakat desa pakraman Kuum. Upacara Sipatan sebagai landasan kerja memberi 'arahan agar pada masa brahmacari mampu mengendalikan nafsu sex. Upacara Sipatan dan awig-awig berfungsi sebagai sumber peraturan yang akan menciptakan pengendalian diri sebagai pegangan hidup, khususnya pengendalian diri terhadap hubungan sex sebelum adanya prosesi upacara perkawinan. Di samping itu upacara sipatan merupakan bentuk hukuman bagi mereka yang melanggar hubungan sex sebelum adanva upacara perkawinan.

Upacara Sipatan berfungsi untuk mendidik krama desa pakraman Kuum agar senantiasa mengendalikan diri terhadap hubungan sex secara bebas. Jika hubungan ini dilanggar sudah barang tentu yang bersangkutan Wnenerima konsekwensi berupa sanksi dan hukuman yang berbentuk upacara Sipatan. Dengan demikian tingkah laku berhubungan sex akan terjadi jalinan reaksi berupa Upacara Sipatan dengan stimulus yaitu rangsangan untuk tidak melakukan hubungan sex secara bebas tanpa adanya pengendalian diri.

Menumbuhkan rasa malu dan rasa berdosa

Terjadinya hubungan sex bebas yang dibuktikan dengan adanya kehamilan, maka warga yang lebih senior yang diwakili oleh bendesa adat akan mengenakan sanksi berupa Upacara Sipatan. Menurut Kusuma (2008;61) menyatakan bahwa semua perbuatan-perbuatan yang dapat dianggap sebagai perbuatan berzinah hendaknya jangan sampai dilakukan oleh seseorang di dalam hidupnya, lebih-lebih bagi mereka yang sudah bersuami isteri. Di samping itu, suatu sikap atau perbuatan lainnya kiranya diperhatikan agar tidak berpahala buruk bagi kerukunan dan kebahagiaan di dalam suatu rumah tangga.

Perbuatan berzinah dipandang sebagai perbuatan yang hina dan memalukan. Adanya Upacara Sipatan merupakan pembelajaran bagi generasi muda (sekehe teruna dan sekehe daha) untuk tidak melakukan hubungan sex sebelum sah menjadi pasangan suami isteri. Melakukan hubungan sex sebelum didahului dengan upacara perkawinan merupakan perbuatan yang memalukan serta tidak menghormati orang tua. Sekehe daha dan sekehe teruna agar menyaksikan prosesi upacara sipatan tersebut agar mereka mengetahui bahwa upacara tersebut melarang hubungan sex sebelum nikah.

Apabila awig-awig yang mengatur tentang upacara sipatan ini dilanggar, pelaku akan menerima ejekan-ejekan dari teman-temannya. Hal ini akan membangkitkan rasa malu karena telah melakukan hubungan sex sebelum memasuki masa grehasta. Rasa malu akan dirasakan juga oleh orang tua yang bersangkutan beserta keluarganya. Orang tua yang bersangkutan akan merasa bahwa dirinya tidak mampu untuk membina anak untuk tidak melakukan hubungan sex selama masa brahmacari.

Keluarga khususnya orang tua mempelai akan menanggung rasa malu mempunyai anak yang menghamili atau dihamili sebelum adanya prosesi upacara perkawinan. Di desa pakraman Kuum, paruman desa adat dilaksanakan setiap anggara kasih (35 hari sekali) dalam paruman tersebut salah satu yang rutin dilaksanakan yakni laporan keuangan. Laporan sumber pengeluaran dan sumber pemasukan kas pada saat paruman desa yang dilaksanakan oleh desa pakraman Kuum.

Begitu juga penambahan kas dari penjualan babi yang digunakan dalam upacara sipatan akan diumumkan lewat paruman tersebut. Dengan demikian orang tua yang mempunyai anak yang dihamili maupun yang menghamili akan diketahui oleh seluruh krama yang ikut dalam paruman tersebut. Dengan demikian orang tua yang bersangkutan akan merasa gagal dalam membina anak untuk mentaati awig-awig desa pakraman serta ajaran agama Hindu. Seorang yang mempunyai perasaan yang normal, juga akan merasa malu terhadap orang tua sendiri. Hal ini akan berpengaruh terhadap keharmonisan rumah tangga antara anak dengan orang tua, sehingga kestabilan dalam rumah tangga akan kurang harmonis yang disebabkan oleh adanya kehamilan sebelum adanya prosesi upacara perkawinan.

Sebelum pelaksanaan upacara sipatan sekehe teruna dan sekehe daha akan mengadakan pembersihan di pura Bale Agung. Selanjutnya menyaksikan prosesi upacara sipatan dengan tujuan agar mereka mengetahui bahwa upacara ini dilaksanakan bagi mereka yang menghamili dan dihamili. Dengan demikian upacara ini dapat dimaknai nilai-nilai pendidikannya sehingga mereka mengetahui bahwa perbuatan menghamili ataupun dihamili merupakan perbuatan yang memalukan. Dengan menyaksikan upacara ini dapat menanamkan rasa malu sehingga dapat meminimalkan hubungan sex bebas bagi sekehe teruna dan sekehe daha. Di samping itu mereka akan mengetahui bahwa hubungan sex bebas merupakan perbuatan yang memalukan bagi pelaku maupun orang tua.

Upacara ini juga mendidik generasi muda lainnya yang ada di desa pakraman Kuum untuk tidak melakukan hubungan sex pada masa brahmacari. Bagi generasi muda upacara ini merupakan pelajaran yang berharga, berupa ejekan-ejekan yang cukup memalukan di mata krama desa. Upacara ini juga akan membangkitkan rasa malu yang mendalam terhadap pelaku. Begitu juga dengan para orang tua termasuk tokoh agama agar selalu memberikan nasehat-nasehat berupa ajaran agama kepada generasi muda agar tidak melakukan hubungan sex sebelum adanya prosesi upacara perkawinan.

Hal ini sangat pentingnya dilakukan agar generasi muda dalam berinteraksi dengan lingkungan mengedepankan tingkah laku sesuai dengan ajaran agama. Disamping berupa nasehat-nasehat para orang tua dan tokoh agama agar menjadi panutan dengan memiliki moral yang baik, beretika dan memiliki sopan santun dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, generasi muda akan memiliki rasa malu jika melanggar ajaran agama serta norma ang berlaku di desa pakraman Kuum. Dengan panutan yang baik dari para orang tua dan tokoh masyarakat tentunya generasi muda akan mampu mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan di masyarakat.

Upacara Sipatan ini berfungsi untuk mendidik generasi muda untuk selalu mengendalikan nafsu sex pada masa brahmacari. Upacara Sipatan yang diperkuat oleh adanya awig-awig merupakan pendidikan non formal (pendidikan di masyarakat) yang bersifat tradisional. Pasangan yang dihamili maupun yang menghamili memberikan contoh yang tidak baik terhadap generasi muda lainnya. Disamping itu, perbuatan dihamili maupun menghamili tidak perlu untuk ditiru karena perbuatan tersebut memalukan di mata masyarakat serta melanggar ajaran agama Hindu. Bagi pelaku baik yang dihamili maupun yang menghamili merasa berdosa dan harus dipertanggung jawabkan secara niskala kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atau Tuhan.

Pelaksanaan upacara ini merupakan pengakuan rasa berdosa terhadap Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan). Pengakuan dosa karena telah melanggar ajaran agama khususnya Brahmacari. Pada masa ini diharapkan oleh ajaran agama agar senantiasa memfokuskan diri terhadap ilmu pengetahuan sebagai bekal di dalam menempuh kehidupan berikutnya (grehasta, wanaprasta dan saniyasin).

Ada empat masa kehidupan dalam ajaran agama Hindu yang disebut Catur Asrama yaitu brahmacari, grahasta, wana prasta dan sanyasin. Brahmacari adalah masa menuntut ilmu pengetahuan weda, pengetahuan tentang Tuhan dan ciptaan-Nya. Pada masa ini kewajiban seorang brahmacari adalah belajar, berdoa, hidup sederhana, mengendalikan keinginan pikiran, disiplin dalam hal makanan, tidur dan sebagainya, serta dilarang melakukan hubungan sex baik dengan lawan jenis, sesama jenis maupun menyia-nyiakan sperma atau ovum. Perbuatan itu dinyatakan dosa dan mengganggu spiritual (ojas).

Selanjutnya pada halaman 23 menyatakan bahwa hubungan sex menurut ajaran agama Hindu bersifat sakral, karena itu hubungan sex hanya dibolehkan dengan pasangan (suami isteri). Penyimpangan terhadap ketentuan ini maka perbuatan tersebut dinyatakan sebagai Samgrahanam atau berzinah, Departemen Agama (2008;21-22).

Krama Desa Pakraman Kuum sangat meyakini dan mempercayai bahwa melakukan hubungan sex sebelum adanya prosesi upacara perkawinan merupakan suatu perbuatan dosa. Oleh karena itu bagi yang menghamili maupun yang dihamili harus melaksanakan upacara sipatan. Upacara ini sebagai ungkapan rasa bersalah terhadap Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan) karena telah melanggar ajaran agama khususnya brahmacari. Dengan demikian, agama Hindu memandang sakral terhadap hubungan sex tersebut. Salah satu rangkaian dari upacara perkawinan tersebut adalah upacara makala-kalaan/mabyakahonan. Dalam upacara tersebut mempelai wanita memegang tikeh dadakan yang ditusuk dengan keris oleh mempelai laki-laki.

Dalam upacara makala-kalaan menggunakan tikeh dadakan yang dipegang oleh mempelai wanita dan ditusuk oleh mempelai laki-laki. Hal ini merupakan simbol hubungan sex laki-laki dengan sex perempuan. Ini berarti setelah adanya prosesi upacara perkawinan baru boleh melakukan hubungan sex. Oleh karena itu bagi krama yang melakukan hubungan sex sebelum melaksanakan upacara perkawinan, harus terlebih dahulu melaksanakan upacara Sipatan. Hal ini tentunya pembelajaan bagi sekehe teruna dan sekehe daha bahwa melakukan hubungan sex pada masa brahmacari merupakan perbuatan dosa.

Oleh: I Gede Manik
Source: Warta Hindu Dharma NO. 525 September 2010