Upacara Sipatan dalam Meminimalkan Kehamilan Pada Usia Pra-Nikah [3]

(Sebelumnya)

Untuk menyalurkan nafsu sek, ajaran agama Hindu sudah membagi fase kehidupan yang disebut Catur Asrama. Pada masa Brahmacari kehidupan difokuskan untuk mempelajari ilmu pengetahuan sebagai bekal hidup pada tingakatan fase berikutnya, dengan demikian, harapan dari ajaran agama tersebut agar umatnya mampu untuk mengendalikan nafsu sek dengan menggunalan wiweka. Realitanya secara biologis, setiap manusia normal yang sudah manginjak remaja akan memiliki nafsu sek serta tertarik dengan lawan jenis. Pada masa Brahamacari, nafsu sek hanyalah untuk dikenal atau diketahui serta tidak dipraktekkan. Sedangkan pada masa grahasta, sek tersebut harus dilakukan dengan pasangan suami isteri yang sah untuk memperoleh keturunan.

Menurut Suwantana (2007;91) mengatakan bahwa nilai etika seksual ini tidak terlepas dari pantangan-pantangan yang harus dilakukan. Dalan teks resi Sembina disebutkan:

"Nihan denira sang maha widagda magawen arsaning
stri ring anuam panganium pawaha nira,
yaning rare kunang,yaning stri iwana sedeng wayah nya
wehen wi busana denira, yapuan tengah wayah nikang stri,
upacara yukti paminton sang maha widagda iri ya
Yapuan matuha ya ikang prayoga maglis kahyunia yan mangkrana"

Artinya :
Inilah yang patut diperbuat oleh orang yang bijaksana membuat kesenangan orang perempuan,
apabila dia masih remaja makanan dan minumanlah yang diberikan,
begitu pula anak-anak. Apabila orang perempuan yang sudah dewasa
diberikan pakaian oleh beliau apabila perempuan sudah setengah umur,
tatacara benar itulah yang diberikan orang bijaksana kepadanya.
Setelah bersuami isteri adalah yoga sanggamalah yang diinginkan olehnya.

Pengetahuan tentang teknik hubungan sek diberikan ketika seorang telah dalam ikatan suami isteri. ini bukan berarti pelajaran tentang hubungan sek tidak diperlukan. Teks Resi Sembina bahkan menyebutkan bahwa pengetahuan tentang hubungan sek harus diketahui sejak kedi (Ajining rare muang matuha teka) Keberadaan tentang sek itu sendiri harus diketahui sejak dini, tetapi teknik bagaimana melakukan hubungan sek dilakukan setelah menjadi pasangan suami isteri yang sah.

Sesuai dengan tahapan yang pertama dari Catur Asrama yaitu Brahmacari, maka pada masa muda (yowana), manusia wajib untuk menuntut ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya karena pada masa ini merupakan dasar dari seluruh lapangan hidup yang akan ditempuh pada masa berikutnya. Oleh karena itu, yang terpenting diusahakan pada masa brahmacari ini, adalah "dharma" (Catur Purusa Artha). Dharma dalam hal ini dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang kebenaran. Dharma sebagai tujuan hidup pertama sebagai landasan untuk meraih tujuan hidup berikutnya.

Masa ini merupakan masa untuk mengembangkan dan membangun diri, yaitu membentuk identitas dan jati diri. Oleh karena itu, kehidupan manusia pada masa brahmacari diwarnai oleh aktivitas dan kreativitas belajar dan belajar sebagai upaya untuk membangun landasan kehidupan yang tangguh dan kuat. Landasan tersebut dapat berupa keseimbangan kehidupan antara fisik dan psikis, yaitu kematangan dan kedewasaan. Untuk membangun landasan yang utuh dan kokoh diperlukan ilmu pengetahuan termasuk teknologi.

Dalam menuntut ilmu pengetahuan tidak akan dibatasi oleh usia atau umur mengingat ilmu pengetahuan tersebut terus berkembang mengikuti waktu sepanjang jaman. Ilmu pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui proses belajar baik dalam pendidikan formal, informal maupun non formal. Pada masa brahmacari asrama menitik beratkan pada pendidikan sebagai kewajiban seorang remaja. Masa remaja merupakan masa yang baik untuk belajar karena relatif belum ada yang mengikat, otak serta pikiran sedang tajam, seperti kehidupan rumput ilalang.

Pada masa remaja baik fisik maupun pikiran mengalami puncak kekuatan. Oleh karena itu, pada masa remaja beban hidup relatif masih sedikit serta tersedia waktu luang untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Sedangkan setelah mengalami proses penuaan umur pada masa grahasta, wanaprsta dan sanyasin, pikiran, fisik, dan otak mulai lemah. Hal ini dapat dijumpai dalam Sarasamuscaya 27 sebagai barikut:

Yuvaiva dharmmamamanvic-ched
yuva vittam yuva crutam, tiryyagbhavati
vai dharbha utpatan na ca viddyati.
Matangnya deyaning mwang, pengponganikang kayowanan, panedengning awak,
sadhanakena ri karjananing dharma, artha, jnana,
kunangapan tan pada kacaktining atuha lawan rare,
drstanta nahan yangalalang atuha, telas rumepa, marin alandep ika

Artinya :
Karena perilaku seseorang; hendaknya digunakan sebaik-baiknya pada masa muda,
selagi badan sedang kuatnya, hendaknya digunakan untuk usaha menuntut
darma, artha, dan ilmu pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan orang tua
dengan kekuatan anak muda, contohnya ialah seperti ilalang yang
telah tua itu menjadi rebah, dan ujungnya tak tajam lagi

Manuisia wajib menuntut ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya karena pada masa Brahmacari merupakan dasar dari seluruh lapangan hidup yang akan ditempuh pada masa berikutnya. Yang terpenting diusahakan pada masa ini adalah ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan tersebut memegang peranan yang sangat penting dalam menempuh fase kehidupan berikutnya. Dalam Ajaran Agama Hindu, diharapkan agar manusia jangan merasa puas terhadap ilmu pengetahuan yang dimiliki. Artinya sepanjang hidup manusia untuk selalu mengejar ilmu pengetahuan tersebut. Hal ini disebutkan dalam Canakya Nitisastra VII.4 sebagai berikut:

Santosa trisu kartavyah
svadare bhojane dhane
trisucaiva na kartavyo
dhyayane japa danayoh

Artinya :
Hendaknya orang merasa puas terhadap tiga hal,
yaitu; terhadap istri sendiri,
terhadap makanan dan terhadap kakayaan yang
didapat dengan cara yang halal. Tetapi terhadap tiga hal,
yaitu: mempelajari ilmu pengetahuan suci,
berjapa/memuji nama-nama suci Tuhan dan berdana punya,
haruslah orang baik merasa puas.

Menurut Subagiasta (2007;104-105) bahwa Catur Asrama adalah empat tingkatan hidup manusia, antara lain Brahmacari yaitu masa menuntut ilmu pengetahuan dan teknologi, Grahasta yaitu masa membina rumah tangga atau hidup bersuami isteri, Wanaprasta yaitu masa manghasingkan diri menekuni ilmu kerohanian dengan melakukan Panca Karma (lima macam perawatan) atau istilahnya Panca Yadnya (lima persembahan), dan Bhiksuka adalah meninggalkan ikatan dunia ini dengan jalan meminta-minta, semua yang ada di dunia ini tidak menjadi miliknya, karena tidak terikat lagi, hidup meminta-minta sebagai ciri kilasnya (sanyasin).

Lebih lanjut dijelaskan tentang Brahmacari, semassa belajar dilarang untuk melakukan hubungan sek (Suklabrahmacari). Menurut Puniatmadja (1976;26) menjelaskan bahwa dalam Wratisasana disebutkan bahwa Rudra memerintahkan lima macam yama brata yaitu Ahimsa (tidak membunuh-bunuh), Brahmacari (memelihara kemurnian dalam hubungan sek), Satya (jujur), Aharalaghawa (makan harus serba ringan,tidak semau-maunya), dan Asteya (tidak melakukan pencurian curang dan sebagainya).

Melakukan hubungan sex yang benar, dan sesuai tempat serta menghindari larangan-larangan ajaran agama akan melahirkan anak yang baik, berbakti, sopan (suputra). Sex tersebut bersifat sakral dan hanya boleh dilakukan dengan pasangan suami isteri. Untuk mencegah atau meminimalkan hubungan sex bebas, dapat dilakukan dengan mengajarkan kepada remaja tentang agama dan tata krama agar terhindar dari perilaku sex yang menyimpang.

Berdasarkan uraian di atau, bahwa sex merupakan hal yang bersifat sakral dan suci. Oleh karena itu dalam berhubungan sex hendaknya dilakukan dengan pasangan suami isteri yang sah. Begitu pula tempat melakukan hubungan sex, hendaknya dilakukan pada tempat-tempat tertentu yang dianggap baik serta sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Adanya upacara sipatan mengisyaratkan bahwa hubungan sex bersifat suci, sakral, dilaksanakan pada waktu yang tepat dan dilakukan dengan pasangan suami isteri yang sah.

Bagi mereka yang melakukan hubungan sex sebelum adanya upacara perkawinan, dibuktikan dengan adanya kehamilan, maka dituntut untuk melaksanakan upacara Sipatan. Hal ini tidak berlebihan, karena hubungan sex tidak boleh dilakukan sebelum sah sebagai suami-isteri. Tikeh dadakan adalah tikar keci yang dibuat dari daun pandan yang masih hijau. Tikeh dadakan adalah simbol kesucian si gadis.

Menurut ajaran agama Hindu, hubungan sex boleh dilakukan setelah adanya prosesi upacara perkawinan. Salah satu rangkaian dari upacara perkawinan tersebut adalah upacara makala-kalaan/mabyakaonan. Dalam upacara tersebut, mempelai wanita memegang tikeh dadakan, yang ditusuk dengan keris oleh mempelai laki-laki. Dalam upacara makala-kalaan menggunakan tikeh dadakan yang dipegang oleh mempelai wanita dan ditusuk oleh mempelai laki-laki. Hal ini sebagai simbolis pertemuan sex laki-laki dan sex perempuan yan merupakan pengejawantahan aspek teologi pertemuan purusa dan pradana. Ini berarti setelah adanya prosesi upacara perkawinan, baru dibolehkan untuk melakukan hubungan sex.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka pada masa Brahmacari, diharapkan untuk selalu belajar. Disamping itu, pada masa ini mampu untuk mengendalikan diri terhadap nafsu sex. Begitu pula dengan upacara sipatan merupakan sanksi bagi mereka yang menghamili ataupun dihamili.

Upacara Sipatan mendidik krama Desa Pakraman Kuum yang harus dilaksanakan bagi mereka yang menghamili maupun dihamili. Kehidupan masyarakat Desa Pakraman Kuum dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial yang dibungkus dengan ajaran agama berupa upacara dan awig-awig yang harus ditaati. Suara kolektif warga dituangkan lewat awig-awig yang akan membatasi warganya untuk mengatur dan mengendalikan diri serta beretika dalam berinteraksi. Dengan adanya upacara sipatan yang diperkuat oleh adanya awig-awig, warga desa pakraman Kuum membatasi krama dalam berinteraksi khususnya hubungan sex. (Selanjutnya)

Oleh: I Gede Manik
Source: Warta Hindu Dharma NO. 520 April 2010