Upacara Pasupati Sebagai Media Sakralisasi

Pendahuluan

Upacara pasupati merupakan bagian dari upacara Dewa Yadnya, upacara ini ditata dalam suatu keyakinan yang terkait dengan Tri Rna. Upacara pasupati yang diyakini oleh manusia sejak dulu kala sampai kini hidup dalam proses budaya dari budaya tradisi kecil ke tradisi besar dan hidup sampai tradisi modern. Upacara ini bertujuan untuk menghidupkan serta memohon kekuatan magis terhadap benda-benda tertentu yang akan dikeramatkan.

Menurut keyakinan Hindu khususnya di Bali segala sesuatu yang diciptakan oleh Ida Hyang Widhi mempunyai jiwa, termasuk yang diciptakan oleh manusia mempunyai jiwa/kekuatan magis dengan cara memohon kehadapan Sang Pencipta menggunakan upacara Pasupati. Seperti contohnya yaitu benda yang disakralkan berupa Pratima, keris, barong, rangda, dan lain-lain. Hal itu dapat dibuktikan dalam beberapa sloka dalam kitab suci agama Hindu yang berbunyi, sebagai berikut :

"Bhurita Indra Wiryam tawa smaya Sya stoturma dhawan kamana prna Anu tedyavabhahah wiryani nama Iyam ca te prthiwi nama ojase"

Artinya : keselamatan-Mu sungguh hebat, Dewa Indra. Kami adalah milikMu, kabulkanlah Madhawan. Permohonan pemuja-Mu, langit yang megah seperti engkau. Kepada-Mu dan untuk kesaktian-Mu bumi mengabdi (Reg Weda).

Pemikiran di atas mengandung makna, penggambaran hubungan manusia dengan Tuhannya dapat melalui permohonan doa, kesucian pikiran ada kekuatan magic yang diyakini berkah Ida Hyang Widhi Wasa yang dilimpahkan pada umatnya. Secara simbolik upacara Pasupati berarti memberkahi jiwa (kekuatan magic) pada benda-benda budaya yang mempunyai nilai luhur dan memberikan kesejahteraan pada umatnya. Dalam rangka sakralisasi maupun penyucian suatu benda seperti keris, barong, arca, dan lain-lain harus melalui upacara prayascita dulu yang bermakna menghilangkan noda/kotoran yang melekat karena proses pembuatan benda tersebut. Secara niskala selanjutnya diadakan proses upacara "Dewa Prayascita".

Ada juga menyebut dibuat upacara Pasupati yang bermakna memberkahi kekuatan sinar suci Ida Hyang Widhi pada benda-benda tersebut. Ada pula mengatakan bahwa khusus upacara Pasupati bagi Dewa-Dewa dilengkapi penulisan hurup magic. Mengacu pada pemikiran diatas upacara Pasupati di Bali masih ditradisikan di Bali, dimana benda seperti arca, barong, keris dan lain-lain setelah dipasupati, amat diyakini oleh masyarakat, bahwa benda tersebut memiliki roh atau jiwatman dan terkandung kekuatan suci Ida Hyang Widhi/Ida Hyang Pasupati dan juga menjadi sungsungan masyarakat.

Keyakinan diatas juga dibenarkan pula oleh pendapat tokoh antropologi yang mengatakan bahwa sistem kepercayaan masyarakat mengandung keyakinan dengan dunia gaib. Dewa-dewa, mahluk halus, kekuatan sakti serta kehidupan yang akan datang pada wujud dunia dan alam semesta. Pemikiran diatas dikaitkan dengan upacara Pasupati membenarkan bahwa keyakinan yang tebal pada masyarakat setelah benda tersebut diupacarai pasupati akan diberkahi kekuatan sakti para dewa sebagai manifestasi Ida Hyang Widhi Wasa. Penulis juga pernah membaca pada lontar Tutur pasupati yang menggambarkan bahwa dengan memohon para dewa untuk memusnahkan segala kotoran untuk menemukan kesucian pada bhuwana alit dan bhuwana agung dengan berbagai mantra dan upakara, maka dari itu upacara pasupati tergolong upacara dewa yadnya.

Upacara pasupati sebagai media sakralisasi, seperti telah dijelaskan di atas pelaksanaan upacara pasupati bervariasi menurut desa, kala dan patra masing-masing desa di Bali. Menurut jenis benda yang akan dipasupati penulis hanya memberikan salah satu variasi contoh tata urut upacara pasupati Barong dan Rangda, sebagai berikut:

1.  Upacara melaspas

Upacara melaspas secara ontologi berasal dari kata pelas dan pas, yang artinya pemisahan dari fungsi sebelum yang mengandung makna pula mepralina/melebur bahan-bahan yang digunakan menjadi suci dan terhindar dari kekuatan jahat. Contohnya kayu yang digunakan untuk tapel dipelaspas menjadi pererai, dan lain-lain.

2. Setelah itu diadakan upacara

Pasupati, menurut Lontar Wrespati Kalpa pada upacara Barong beberapa tahapan dilaksanakan sebagai berikut : (a) awal ngatep Barong; (b) ngulapin Barong; (c) memakuh Barong. Semuanya itu menggunakan banten pangurip-urip dengan bahan seperti arang, warna hitam sebagai simbol dewa Wisnu, mencolek pamor warna putih sebagai simbol dewa Siwa, darah (merah) sebagai simbol dewa Brahma dengan caru putih. Pengurip-urip juga mengandung makna untuk memberkahi urip (jiwa).

3. Melasti, membersihkan ke segara (laut)

4. Melaspas Barong/rangda

5. Upacara pasupati

Upacara ini dilaksanakan setelah tahapan diatas dengan upakara (banten) sesajen yang berbeda-beda. Salah satu variasi banten dikutif dari Lontar Pemelaspas Pasupati Barong dan Rangda adalah: (a) banten suci dua soroh; (b) Pengulapan pengambean; (c) Prayascita dhurmanggala; (d) Jerimpen tunggul, (e) Tebasan pageh urip; (f) Tebasan Pageh Tuwuh; (g) Tebasan catur warna; (h) Tebasan Pasupati; (i) Pebyakawonan; (k) Soroan, Tumpeng Agung, tumpeng putih kuning. Sedangkan untuk pesucian digunakan segehan agung, ulam biing, putih siungan, ayam putih mulus.

Pelaksanaan upacara ini biasa oleh krama banjar sebagai penyungsung Barong dan rangda. Setelah selesai upacara pasupati tersebut, Barong dan rangda diyakini sudah diberkahi kekuatan Sakti dari Ida Hyang Pasupati sebagai manifestasi Ida Hyang Widhi. Ada lagi rentetan dari upacara ini biasanya dilanjutkan dengan mesolah dengan lakon calonarang. Disini akan membuktikan bahwa beliau sebagai sungsungan warga sudah mempunyai kekuatan sakti dan dapat melindungi masyarakat dari kekuatan jahat.

Berdasarkan uraian di atas dapat dianalisis bahwa beberapa nilai luhur yang terkandung dalam upacara Pasupati adalah:

1. Nilai religius, kekuatan sakti para Dewa sebagai manifestasi Ida Hyang Widhi Wasa sebagai media sakralisasi dan sangat diyakini oleh masyarakat
2. Nilai bhakti antar penyungsung integrasi umat manusia melalui upacara.
4. Sebagai proses sosialisasi dan enkulturasi nilai luhur pada generasi penerus.
5. Upacara Pasupati sebagai bagian dari upacara Dewa Yadnya yang memiliki unsur budaya yang harus hidup terus (survival) yang masih ditradisikan dari tradisi kecil, tradisi besar sampai tradisi modern.

Source: Dra. S. Swarsi, M.Si l Warta Hindu Dharma NO. 505 Januari 2009