Ujian di Danau

Namun Dewi Draupadi berkata, “Jika engkau ingin menyenangkan diriku, bunuhlah dia. Pencuri istri orang lain atau perampok sebuah kerajaan tidak perlu mendapat ampunan. Ia harus mati.”

Bhima dan Arjuna mengejar Jayadratha, walaupun jaraknya lebih dari 3 kilometer, dengan bantuan panah-panah dewata Arjuna menembak mati kuda-kuda kereta-nya. Kemudian Arjuna menerjang Jayadratha, saat ia mencoba berlari kencang ketakutan. “Berbaliklah, Jayadratha,” teriak Arjuna. “Berputarlah, raja yang gagah, penculik wanita!”

Namun Jayadratha tidak berani menoleh ke belakang; Bhima meloncat turun dari keretanya, berlari mengejarnya, menjambak rambut Jayadratha, dan mendorongnya sangat keras; Jayadratha terjatuh ke tanah. Bhima mengangkat tubuh Jayadratha ke atas kepala dan menghantam tubuhnya dengan tinjunya. Jayadratha ambruk tidak sadarkan diri; ia menjerit dan berupaya berdiri. Bhima menendang kepalanya, dan menindihnya, menghantam tubuhnya dengan lutut dan tinjunya, sampai Jayadratha jatuh pingsan kembali.

Ketika Arjuna berusaha menenangkan Bhima, mengingatkan akan perkataan Yudhisthira, Bhima menjawab: “Penjahat ini pantas untuk mati! Yudhishthira kata-katanya sangat manis dan ideal tentang dharma.” Bhima memotong rambut Jayadratha dalam lima kali potongan yang tidak beraturan. Untuk membungkam Jaydratha, ia berkata: “Jika engkau berharap tetap untuk hidup, pergilah dan berteriaklah di jalan-jalan dan juga di lapangan umum, katakan: “ Aku adalah budaknya para Pandawa.”

Dengan jiwa terguncang, dan setengah tidak sadar, Jayadratha mengangguk setuju. Badannya dirantai, dimasukkan ke dalam kereta, Jayadratha dibawa kembali ke ashrama dan dibawa ke hadapan Yudhishthira. “Beritahukan pada Draupadi bahwa penjahat itu sudah disini,” kata Bhima kepada Yudhisthira.

“Jika kalian masih mempunyai kasih sayang kepadaku,” kata Yudhishthira, “maka kalian hendaknya melepaskan dia.” Draupadi menambahkan, “ Ya , biarkan dia pergi. Ia pergi sebagai budak kita, ditandai dengan lima coakan pada rambutnya.” “Pergilah .. wahai manusia hina,” kata Arjuna. “Penculik wanita!”

Kepalanya tertunduk, Jayadratha pergi membisu menuju tepian sungai Ganga, dimana ia mempraktekkan pemujaan yang sangat serius dan teguh dalam waktu lama ditujukan kepada Dewa Shiva. Dewa Shiva merasa puas dengan pemujaan yang dilakukan oleh Jayadratha, dan menanyakan kepada Jayadratha, apa yang ia mohon.

“Berikanlah aku kekuatan untuk mengalahkan kelima Pandawa di dalam pertempuran,” kata Jayadratha.
“Tidak mungkin,” kata Dewa Shiva. “Tidak ada satupun manusia yang bisa melakukan hal itu. Namun aku akan memberikan sebuah anugrah: engkau akan pernah mengalahkan para Pandawa hanya sekali, kecuali Arjuna.”

Dewa Shiva menghilang dari pandangan, Jayadratha kembali ke kerajaannya, dan para Pandawa melanjutkan kehidupan mereka di hutan Kamyaka. Pada suatu hari, seekor rusa jantan dewasa menggunakan tanduknya, mengambil sejumlah peralatan suci untuk persembahan dan juga dua potong kayu-bakar dari ashrama, kemudian melarikan diri. Para Brahmana melaporkan kejadian ini kepada Yudhishthira, yang dengan segera mempersenjatai dirinya dan bersama dengan keempat saudaranya bergegas mengejar rusa tersebut. Mereka melesatkan sejumlah anak panah dan melemparkan lembing ke arah hewan tersebut, namun gagal untuk membunuhnya. Dan kemudian tiba-tiba, tanpa ada peringatan apa-apa, hewan itu tiba-tiba saja lenyap. Capek dan frustasi, lapar dan haus, mereka duduk di bawah teduhnya naungan pohon beringin.

“Aneh,” kata Nakula,’’ bagaimana dia bisa melarikan diri dan menghilang begitu saja? Apa salah yang pernah kita perbuat?”

“Tidak seorangpun kecuali Dharma yang tahu siapa yang akan mendapatkan sesuatu, dan kapan terjadi,” jawab Yudhishthira.

“Aku tahu ini tidak akan terjadi kalau saja aku membunuh Duhshasana ketika ia menjambak dan menyeret Draupadi dengan begitu kasar dan tidak senonoh,” kata Bhima.

“Ini mungkin karena aku tetap diam membisu keitka ia dengan sangat kasar mempermalukan Draupadi,” kata Arjuna.

“Aku harusnya telah membunuhnya,” kata Sahadeva.

“Nakula,” kata Yudhisthira, “panjatlah pohon ini dan carilah ke seluruh penjuru. Apakah ada kelihatan danau?”

Nakula segera memanjat pohon yang dimaksud dan berkata,”Aku melihat banyak pohon, dan aku mendengar gemericik suara air.”

“Bawalah kendi air ini,” kata Yudhishthira, “bawalah kembali kesini dipenuhi dengan air.”

Pada saat Nakula menjumpai sebuah danau dan hendak meminum air danau yang jernih itu, ia mendengar suara gaib dari angkasa: “Berhenti! Danau ini milikku. Siapapun yang hendak minum mesti pertamakali menjawab sejumlah pertanyaan dariku.” Namun Nakula begitu haus sehingga ia tetap meminum air danau dan mengabaikan suara gaib itu; dengan segera Nakula terkapar jatuh dan meninggal.

Ketika Nakula tidak kembali, Yudhishthira mengirim Sahadewa dengan perintah untuk mencari saudaranya dan membawakan air. Sahadewa melihat Nakula terbaring mati di atas tanah, dan seperti halnya Nakula, ia meminum air danau untuk menghilangkan rasa haus. Sekali lagi terdengar suara gaib dari langit dan memperingatkan hal yang sama, namun Sahadewa mengabaikan suara itu dan kemudian setelah ia minum air danau, ia rebah dan meninggal.

Berikutnya Yudhishthira mengirim Arjuna. Arjuna menyaksikan jasad kedua saudaranya, ia mengencangkan tali busurnya dan mulai menjelajahi dan meneliti hutan di sekitarnya. “Apakah engkau pikir menggunakan kekuatan akan berhasil?” kata suara gaib. “Seorang hanya boleh minum air danau ini, kalau sebelumnya ia telah menjawab pertanyaan-pertanyaanku.”

“Siapa engkau?” teriak Arjuna

“Berdirilah dihadapanku! Biarkan aku menyaksikan apakah engkau masih bisa berbicara dengan cara yang sama saat panah-panahku melukaimu.”

“Arjuna melesatkan ribuan anak panah ke-arah suara gaib itu diduga berasal, namun semuanya sia-sia.

“Jangan membuat dirimu sendiri menjadi kelelahan, tuan,” kata suara gaib tersebut. “Engkau hanya boleh minum air danau ini, kalau sebelumnya menjawab dahulu pertanyaan-pertanyaanku.”

Arjuna mengabaikan suara gaib ini, ia berlutut dan meminum air danau, sesaat kemudian ia terjatuh dan meninggal. Berikutnya datanglah, Bhima. Ketika ia menyaksikan saudara-saudaranya terbaring telah tidak bernyawa, ia bergumam, “Sejumlah rakshasa pastinya telah melakukan hal ini; biarkan aku mengobati dahagaku dahulu,” dan ia bergegas ke arah danau hendak minum air danau. Sekali lagi suara gaib mengingatkan dan mencegahnya, namun Bhima tidak mau mendengarkan; ia minum air danau dan ia juga meninggal.

“Apa yang terjadi dengan mereka semua? Aku harus pergi dan melihat apa yang sedang mereka kerjakan,” kata Yudhisthira menggerutu. Ia tiba di danau yang dikitari oleh pepohonan hijau yang lebat dan banyak dijumpai lebah madu hitam yang mendengung, ia menyaksikan keempat saudaranya terbaring berjejer, meninggal semua. Melihat Arjuna, ia menangis berlinang air mata. Menghadap jasad Bhima ia berkata, “Engkau Bhima, telah berjanji untuk menghancurkan paha Duryodhana dengan gadamu.” Mereka semua terbaring kaku di sini, tapi tidak ada tanda-tanda luka yang mematikan pada mereka, seolah-olah mereka semua tertidur; Yudhisthira memandangi mereka semua, berfikir seolah-olah mereka masih hidup; dan ia tidak tahu mesti berbuat apa.

Yudhishthira melangkah mendekati danau bermaksud untuk membasuh muka, dan tiba-tiba ia mendengar suara. “Aku adalah burung Bangau. Aku hidup dari memakan ikan. Aku telah mengalahkan saudara-saudaramu dan telah membawa mereka ke-alam kematian. Siapapun yang hendak meminum air danau ini sebelumnya harus menjawab pertanyaan-pertanyaanku terlebih dahulu. Jawablah pertanyaanku, wahai Raja, atau engkau bisa minum air danau dan meninggal.”

Sosok gaib itu muncul dihadapan Yudhisthira dalam bentuk “yaksha” (setengah dewa, setengah raksasa), sangat tinggi, setinggi pohon kelapa, mata-nya besar dan tubuhnya sangat besar, bersinar terang seperti matahari dan bersuara keras seperti awan petir.

“Silahkan ajukan pertanyaan,” kata Yudhisthira, “Aku akan menjawab sesuai kemampuanku.”

Oleh: Gede Ngurah Ambara, diterjemahkan dari Mahabharata of Vyasa by P. Lai
Source: Majalah Media Hindu, Edisi 167, Januari 2018