Uang dan Manusia Bagaikan Air dan Perahu

Hubungan manusia dengan uang bagaikan hubungan antara air dan perahu. Tanpa ada air perahu tak bisa berlayar. Tapi perahu berlayar bukan mencari air, tapi mencapai pantai tujuan. Kalau perahu salah caranya berlayar, justru air itulah yang menenggelamkan perahu. Penumpang dan barang yang ada dalam perahu pun ikut tenggelam dan rusak karena air.

Demikianlah hubungan manusia dengan uang. Tanpa uang manusia tidak dapat banyak berbuat dalam menjalankan hidupnya untuk mewujudkan kebahagiaan. Namun demikian, kalau salah caranya manusia memaknai uang maka uang itulah yang menyebabkan manusia sengsara. Karena itu manusia dalam mengarungi samudera kehidupan harus memahami dengan baik berbagai aspek tentang uang.

Eksistensi uang pada hakikatnya sebagai sarana hidup yang di buat oleh manusia pada hakekatnya netral. Namun dalam eksistensinya uang itu memiliki dua dimensi. Uang bisa menjadi sarana untuk berbuat baik dan benar. Tetapi uang juga adalah sarana bukan tujuan. Agar uang tidak menimbulkan dimensi negatif, maka uang harus didudukan sebagai sarana bukan tujuan. Namun demikian, hendaknya tetap waspada bahwa uang mengandung energi menggoda yang sangat besar kekuatannya. Karena itu ada yang menyatakan kalau sudah mengenai soal uang jangankan dengan orang lain dengan diri sendiri pun tak boleh percaya begitu saja. Karena itu uang itu harus dimanagemen sedemikian rupa sehinga uang itu senantiasa membawa aspek positif.

Dalam kekawin Nitisastra IV.7 ada dinyatakan sebagai berikut: "Singgih yan tekaningyuganta kali tan hana lewiha sakeng mahadhana. Tan waktan guna sura pandita widagdha pada mengayap ring dhaneswara". Artinya: kalau zaman kali sudah datang tidak ada yang lebih bernilai daripada uang. Sudah susah dikatakan para ilmuwan, pemberani, orang suci maupun orang yang kuat semuanya pelayan orang kaya.

Memang merupakan suatu fakta sosial pada zaman kali ini secara umum uanglah yang memiliki pengaruh yang sangat besar pada kehidupan umat manusia, sampai ada anekdot yang menyatakan uanglah yang mahakuasa. Tetapi dalam kali santarana Upanisad ada diceritakan bahwa Resi Narada bertanya pada Dewa Brahma: Sejak Pari Kesit dinobatkan sebagai Raja Astina dunia mulai memasuki zaman kali. Bagaimana menyelamatkan umat manusia dari kuatnya pengaruh uang pada kehidupan manusia. Karena dalam Sastra Agama dinyatakan uanglah yang paling dianggap bernilai pada zaman kali.

Hal ini dijelaskan oleh Dewa Brahma bahwa justru untuk meningkatkan zaman kali menuju kerta uanglah sebagai salah satu sarananya. Tanpa uang zaman kali tidak mungkin meningkatkan menuju zaman kerta. Uang akan menjadi sarana utama pada zaman kali menuju zaman Kerta apabila itu dieksistensikan dengan kuatnya kepercayaan dan pemujaan pada Tuhan. Demikianlah inti sari sabda Dewa Brahma kepada Resi Narada.

Dari sumber Susastra Hindu tersebut dapat dipahami bahwa uang itu pada hakikatnya adalah sarana hidup bukan tujuan. Selanjutnya sangat tergantung cara manusia menggunakan sarana tersebut. Kalau uang itu didapatkan dan digunakan berdasarkan konsep ketuhanan maka uang itu amat berguna mengantarkan manusia mendapatkan hidup bahagia lahir batin. Kalau uang itu sebagai tujuan yang dianggap paling bernilai maka uang itu akan dapat membawa kesengsaraan. Karena itu tempatkan/dudukkanlah uang sebagai alat mewujudkan Dharma. Pengusaha menanamkan modalnya dalam suatu bidang bisnis tertentu bukan untuk mendapatkan uang untuk dapat hidup berfoya-foya. Apalagi hidup berfoya-foya itu dapat membahayakan kesehatan dan dapat menimbulkan iri hati lingkungan sosial serta memboroskan sumber daya alam.

Uang yang diinvestasikan itu agar terus bergulir tiada habis-habisnya memberi masyarakat luas sumber kehidupan. Makin banyak orang yang dapat dientaskan kehidupannya dari kemiskinan menuju hidup makin sejahtera maka makin sukseslah pengusaha tersebut menggunakan uang tersebut. Sedangkan sang pengusaha tetap hidup seperti layaknya orang-orang lain. Tidak boros, tidak mengumbar nafeu dan tidak hidup exklusif dalam lingkungan sosialnya. Tujuan investasi untuk menghasilkan benda dan jasa memenuhi kebutuhan masyarakat secara adil. Memperluas lapangan kerja dan pajak untuk negara. Arahkanlah wawasan bisnis ke arah seperti itu. Dengan demikian, uang yang diinvestasi oleh pengusaha akan mengantarkan masyarakat pada zaman Kerta tahap demi tahap.

Upacara Yadnya umat Hindu di Bali sesungguhnya sebagai media untuk mendorong umat untuk saling mensejahterakan. Tradisi Upacara Yadnya untuk mendana-puniakan makanan di lingkungan keluarga dan tetangga terdekat memiliki makna simbolis yang luhur. Dalam Bhagawadgita XVII. 13 dinyatakan bahwa suatu upacara Yadnya dinyatakan Tamasika Yadnya apa bila tidak ada punia makanan yang dibagi-bagikan (asrista

Dalam tradisi Hindu di India disebut Anna Seva. Maksud mempuniakan makanan ini adalah agar jangan ada orang kelaparan setidak-tidaknya di sekitar upacara Yadnya dilangsungkan.

Dalam Agastia Parwa dinyatakan "manusa Yadnya ngaran maweh apangan ring kraman . Manusa yadnya namaya memberi makanan pada masyarakat. Ini pengertian filosofis atau "Ketattwan" dari Manusa Yadnya yang lebih dalam. Ini artinya Upacara Manusa Yadnya itu memiliki makna realistis agar manusia saling memberikan hidup pada sesamanya. Karena itu setiap upacara Yadnya dalam kehidupan beragama Hindu di Bali pada umumnya ada pemberian makanan pada sanak saudara dan tetangga terdekat. Ini hanyalah simbolis keagamaan yang bersifat Niskala. Hal itu seharusnya kita wujudkan dalam kegiatan nyata mengembangkan kehidupan yang sejahtera yang adil.

Oleh: Ketut Wiana
Source: Bali Post, Kamis 29 Januari 2009