Tutur Tantri

Kepustakaan Bali Mewariskan sejumlah naskah Niti, diantaranya naskah Tantri Kamandaka Naskah berbahasa Kawi ini luas dibaca oleh para sastrawan dan juga para pemimpin di masa lalu. Apa yang disebut Subhasita atau ungkapan-ungkapan kebajikan tertuang didalamnya.

Hadirnya tokoh Diah Tantri dalam naskah yang memuat cerita berangkai disini menarik perhatian kita. Ia dihadirkan sebagai tokoh yang cerdas bagaikan Dewi Saraswati, Ia juga dinyatakan menguasai ajaran Tantra, tattwa agama dan tattwa jnana. Artinya dengan ajaran itulah Ia akan memberikan pencerahan dan penyadaran kepada Raja Aiswaryadala yang tengah dibelenggu oleh nafsu indriawi. Artinya juga cerita Tantri memang memuat nilai-nilai ajaran itu, sekalipun hadir dengan tokoh-tkoh binatang.

Memang begitu banyak cerita menarik dalam rangkaian cerita Tantri, salah satu di antaranya cerita Si Baka. Seekor burung bangau bernama Baka tengah mengolah akal upayanya untuk mendapatkan ikan-ikan yang mendiami telaga Andawahana. Ia lalu tampil sebagai pendeta, sembari melapalkan mantra-mantra. Ia berdiri tenang di tepi telaga bagaikan sedang melakukan tapa. Ikan-ikan mulai berani mendekat, akhirnya Si Baka mulai berkomunikasi dengan mereka. Si Baka dengan terbata-bata menyatakan telaga itu tiada lama akan kering, dan pencari ikan akan datang. Maka Si Baka, mengajak ikan-ikan semua untuk meninggalkan tempat itu, mencari tempat yang airnya tidak bisa kering, tempat yang akan memberikan kesejahtraan untuk selamanya.

Demikianlah ikan-ikan yang mudah percaya itu segera menyerahkan dirinya untuk diterbangkan menuju telaga harapan. Malah mereka saling mendahului karena saking percayanya, dan tidak mengetahui akal busuk Si Bangau yang akan memangsanya. Akhirnya semua ikan habis diangkut dan lalu dimakan oleh Si Baka, yang tersisa hanya seekor yuyu. Kepiting yang sangat kritis ini mencurigai ulah Si Baka, yang mengetahui kepura-puraan dan akal busuknya itu.

Ketika Si Baka memanggil-manggil ikan yang masih berada di telaga itu, Si kepiting pun muncul. Ia menolak ajakan Si Baka untuk meninggalkan tempat kelahirannya itu. Karena Si Baka bersikeras, Si kepiting pun bersedia, hanya saja Ia meminta di gendong sambil memegang leher Si bangau yang panjang itu.

Akhirnya apa yang diduga oleh si kepiting benar-benar sebuah kenyataan. Tumpukan tulang ikan yang dilihatnya menyebabkan Ia mengeraskan cekikan tangannva di leher si bangau, sambil meminta si bangau mengantarkan kembali pulang. Setibanya di telaga Andawahana, Si kepiting lebih mencekik lagi leher Si bangau, hingga si bangau mati.

Sampai di sini Dyah Tantri menyampaikan apa yang kemudian disebut tutur tantri : Ikang wwang mangawe papa, tan mararya n mamanggih duhkha puputan pati. Artinya, orang yang berbuat kejahatan, tidak pernah berhenti menemui kedukaan, akhirnya menemui kematian.

Dalam cerita Tantri, kita menemui nilai-nilai yang disebut juga tutur tantri. Inilah yang disebut Subhasita, kata-kata bijaksana yang memberi suluh dalam kehidupan.

Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 523 Juli 2010