Tut Wuri Handayani: Siapa Punya?

Tut Wuri Handayani, merupakan salah satu bagian dari tiga prinsip pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara, yakni
Ing Arso Sung Tulodo,
Ing Madyo Mangun Karso dan
Tut Wuri Handayani.

Ketiga prinsip dasar pendidikan ini, jika dikaji dari aspek ontologisme pendidikan, maka dapat dijabarkan sebagai berikut. Pendekatan ontologis menekankan pada hakikat atau keberadaan pendidikan itu sendiri. Artinya, keberadaan atau hakikat pendidikan adalah berkenaan dengan keberadaan atau hakikat manusia itu sendiri. Atau dengan bahasa lainya dapat dikatakan bahwa peserta didik dan pendidik tidak terlepas dari makna keberadaan manusia itu sendiri (Tilaar, 1999:18). Berkaitan dengan hal tersebut, maka pertanyaan-pertanyaan filsafat mengenai apakah manusia itu, dan apakah kebe-radaan manusia itu, juga merupakan pertanyaan esensial dalam proses pendidikan.

Terkait dengan hal itu, maka pendidikan sebagai ilmu pengetahuan mempunyai objek, metotologi, serta analisis mengenai proses pendidikan itu sendiri. Mengingat objek atau subjek ilmu pendidikan tersebut adalah anak manusia, maka pada hakikatnya proses pendidikan itu adalah bagaimana memanusiakan anak manusia, sehingga tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang utuh.

Dalam proses memanusiakan anak manusia, para pakar pendidikan ataupun para pendidik professional biasanya mendasarkan diri pada teori-teori pedagogisme apakah teori nativismenya Schopenhouer yang mengatakan bahwa anak sejak dari dalam kandungan sudah mempunyai kemampuan-kemampuan khusus, sehingga para pendidik tinggal mengembangkan saja apa yang telah dimiliki oleh anak-anak dari sejak kelahirannya. Ataukah teori empirismenya John Locke yang mengatakan bahwa anak-anak begitu dilahirkan bagaikan kertas putih bersih (tabularasa) yang akan diisi dengan berbagai bentuk pendidikan yang akan diberikan oleh para pendidik professional tersebut.

Apapun krangka teori yang dijadikan landasan oleh para pendidik professional dalam menjalankan proses pendidikan, mereka tidak dapat melepaskan diri dari strategi dan metode pembelajaran dalam hal memanusiakan anak-anak manusia. Salah satu strategi yang dapat dijadikan acuan oleh para pendidik professional dalam melaksanakan proses pembelajaran adalah selalu berpegang pada tiga prinsip dasar pendidikan sebagaimana dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni "Ing Arso Sung Tulodo" yang artinya kurang lebih di depan anak-anak, guru harus mampu tampil menjadi suri tauladan.

Dalam arti, guru tidak hanya pintar memberikan contoh dalam proses pembelajaran di ruang kelas, akan tetapi guru juga harus mampu tampil menjadi panutan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari, guru hendaknya selalu berpikir yang baik atau positif (manacika parisuda), kemudian pikiran yang baik harus direpresentasikan dalam bentuk bahasa yang baik/ sopan (wacika parisuda), dan kedua unsur ini harus dikonfigurasikan dalam bentuk perilaku yang baik pula dalam kehinduan sehari-hari (kayika parisuda).

Prinsip yang kedua adalah ''Ing Madyo Mangun Karso" yang kurang lebih artinya, di tengah-tengah mereka, (baca: anak-anak), guru harus mampu memberikan motivasi atau semangat yang tinggi untuk terus menggali potensi yang mereka miliki. Artinya, di tengah-tengah anak, guru harus mampu membangkitkan semangat mereka untuk terus belajar, sebab dalam proses belajar motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Seperti dikatakan Woodwort (1955:337) bahwa ''A motive is a set pre-disproses the individual of certain activities and for seeking certain goals". Artinya, motif adalah suatu set yang bisa membuat individu melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan.

Berangkat dari gagasan tersebut, dapat dikatakan bahwa perilaku atau tindakan yang dilakukan seseorang dalam upaya mencapai tujuannya sangat tergantung dari motif yang dimiliki oleh orang bersangkutan. Misalnya, sering terjadi siswa kurang berprestasi di bidang akademik, bukan disebabkan karena mereka tidak mampu dalam bidang tersebut, akan tetapi bisa jadi dikarenakan siswa bersangkutan kurang memiliki motivasi yang kuat untuk belajar, sehingga mereka tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya untuk menggali berbagai potensi yang mereka miliki.

Dengan situasi demikian dapat dikatakan bahwa siswa yang berprestasi rendah dalam bidang akademik, belum tentu disebabkan oleh kemampuannya yang rendah pula dalam bidang tersebut, akan tetapi mungkin disebabkan karena tidak adanya dorongan atau motivasi yang kuat untuk mencapai prestasi yang tinggi di bidang akademik itu sendiri. Di sinilah letak pentingnya guru mengambil peran ''Ing Madyo Mangun Karso", sebab untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru harus kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, sebab proses pembelajaran akan berhasil dengan baik, manakala siswa memiliki motivasi belajar yang baik pula.

Prinsip ketiga adalah "Tut Wuri Handayani" yang artinya kurang lebih guru harus mengikuti, mengarahkan, dan membimbing peserta didik dari belakang. Dalam konteks pembelajaran, istilah "Tut Wuri Handayani" kurang lebih bisa dimaknai bahwa guru dan siswa dapat dianalogkan dengan seorang petani dengan tanamannya. Seorang petani tidak bisa memaksa tanamannya agar cepat tumbuh dan berbuah dengan cara menarik batang atau daunnya. Tanaman itu akan bisa berbuah, jika ia memiliki potensi untuk berbuah serta telah sampai pada waktunya untuk berbuah. Tugas seorang petani adalah menjaga agar tanaman itu tumbuh dengan sempurna, tidak terserang oleh hama penyakit, yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman itu sendiri. Caranya dengan menyemai, menyiram, memberi pupuk secara teratur, dan mengobatinya bila terserang oleh hama penyakit (Sanjaya, 2008:27).

Analogi yang dikemukakan oleh Sanjaya di atas, jika dikaitkan dengan tugas guru dalam proses mendewasakan para peserta didiknya ada kemiripannya. Di mana dalam konteks pembelajaran guru tidak dapat memaksa para siswanya agar tumbuh dan berkembang menjadi sesuatu yang dikehendaki oleh guru itu sendiri. Misalnya, guru tidak bisa memaksa agar siswanya tumbuh dan berkembang menjadi dokter, menjadi guru, menjadi ahli politik, menjadi seorang pilot, dan lain sebagainya.

Tugas guru adalah menjaga, mengarahkan, dan membimbing agar para siswanya tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat, dan bakat yang mereka miliki. Dalam arti, guru tidak bisa membuat seseorang menjadi apa saja yang diinginkan oleh guru tersebut, akan tetapi tugas guru hanyalah membimbing, mengarahkan, dan mendorong agar para peserta didiknya tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang mereka miliki, hanya sampai di situ. Sedangkan perkembangan selanjutnya tergantung dari potensi yang dimiliki oleh anak itu sendiri.

Kemudian atas pertanyaan Tut Wuri Handayani punya siapa? Kurang lebih dapat dijelaskan sebagai berikut. Istilah ''Tut Wuri Handayani" murni merupakan nilai kearifan sosial yang dilahirkan dan dikembangkan dari nilai-nilai budaya bangsa Indonesia sendiri oleh putra terbaik bangsa ini, yakni Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara yang dapat dikatakan sebagai Bapak Pembangunan Pendidikan Nasional, dalam konteks pembangunan pendidikan di Indonesia telah mengintrodusir kembali konsep sistem among dan paguron yang dilandasi oleh kehidupan kekeluargaan untuk mempersatukan "pengajaran pengetahuan" dengan "pengajaran budipakerti". Sistem demikian sebenarnya diambil dari sejarah kebudayaan bangsa Indonesia, yang zaman dahulu disebut sistem asrama, kemudian setelah masuknya Islam ke Indonesia berubah menjadi sistem pondok pesantren.

Pandangan yang integralistik mengenai kebudayaan tersebut melihat proses pengajaran sebagai suatu konsep yang utuh. Dalam arti, pendidikan sebagai konsep kebudayaan bukan saja dimaksudkan untuk memajukan kecerdasan batin, akan tetapi juga dimaksudkan untuk memajukan kecerdasan pada umumnya.

Menurut Ki Hadjar Dewantara memang seyogyanya pendidikan akal harus dibangun setinggi-tingginya dan sedalam-dalamnya agar peserta didik dapat membangun prikehidupan lahir dan batin yang sebaik-baiknya. Namun, yang terjadi dalam kenyataannya dewasa ini, di mana pranata sosial yang disebut sekolah telah diisolasikan dari keseluruhan kebudayaan dan peserta didik cenderung diarahkan pada pencapaian kemampuan intelektual semata. Akibatnya, banyak luaran pendidikan sekolah dewasa ini yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, tetapi kurang memiliki kemampuan akhlak dan moral yang memadai.

Oleh: I Ketut Suda
Source: Wartam Edisi 15, Mei 2016