Tumpeng, Wujud Kearifan Tradisional

Tumpeng adalah sesajian khas masyarakat Jawa yang senantiasa kita jumpai dalam berbagai upacara, seperti slametan, kenduri, bersih desa, maupun syukuran. Bahkan dewasa ini nasi tumpeng tidak hanya digunakan untuk upacara keagamaan yang bersifat sakral, tetapi juga untuk perayaan-perayaan yang bersifat profan, seperti hari ulang tahun, syukuran awal pembuaan film, syukuran pembukaan tempat usaha, dan lain-lain. Nasi yang dibentuk kerucut ini biasa diletakkan di atas tampah (nampan dari anyaman bambu berbentuk bulat) dengan dikelilingi lauk pauk dan sayuran di sekelilingnya. Barangkali semua orang bisa mengatakan bahwa nasi tumpeng adalah simbol dari sebuah gunung, namun mungkin hanya sedikit orang yang bisa memahami mengapa simbol gunung menjadi begitu dominan di dalam tradisi sesaji Jawa.

Filosofi nasi tumpeng tidak terlepas dari kondisi geografis pulau-pulau di Indonesia, terutama Pulau Jawa. Indonesia dikenal sebagai daerah tropis yang sangat subur tanahnya, sehingga banyak menjadi kajian para peneliti dunia. Kesuburan tanah di Indonesia tidak terlepas dari kondisi topografi pulau-pulau di Indonesia yang curam dengan dataran rendah yang sempit dan banyak dipenuhi gunung berapi terbanyak di dunia, gunung-gunung berapi tersebut pada umumnya berbentuk strato, yaitu kerucut yang meruncing di bagian puncaknya. Khusus di Pulau Jawa sendiri terdapat sekitar 30 gunung berapi, baik yang masih aktif maupun yang sudah padam, seperti Gunung Gede-Pangrango, Slamet, Merapi, Semeru, dan lain-lain. Topografi Pulau Jawa juga relatif curam dibandingkan dengan anak benua India atau jazirah Arab misalnya, karena pulaunya berukuran sangat kecil namun memiliki banyak gunung berapi, yang sebagian tingginya lebih dari 3.000 m. Hal ini menyebabkan gunung-gunung tersebut dapat dilihat dari berbagai tempat di Jawa, bahkan dari ujung pantai yang terjauh sekalipun.

Sebagai gambaran bagaimana curamnya topografi di Indonesia. Denys Lombard, seorang antropolog dari Perancis, menyatakan bahwa tidak ada satu pantai pun di Pulau Jawa yang berjarak lebih dari 100 km dari titik puncak sebuah gunung. Bahkan Gunung Semeru (3676m) yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa justru terletak di daerah sempit Tapal Kuda Jawa Timur, yang jaraknya ke pantai utara dan selatan kurang dari 40 km. Bandingkan dengan Puncak Mount Everest di Pegunungan Himalaya di India yang tingginya mencapai 8848m, namun berjarak ribuan kilometer dari pantai yang terdekat, yaitu di Teluk Bengala (lihat peta). Artinya masyarakat yang tinggal di sekitar pantai terdekat dari pegunungan "atap dunia" itu pun tidak dapat melihat pegunungan tersebut karena jaraknya terlalu jauh.

Topografi yang curam ini menyebabkan perbedaan tekanan udara yang menyolok antara gunung dan laut, sehingga udara bergerak sebagai angin. Karena jarak antara laut dan gunung relatif dekat, maka arus angin pun bergerak dengan cepat. Pulau Jawa juga dikelilingi lautan yang luas, sehingga angin yang bergerak dengan cepat. Pulau Jawa juga dikelilingi lautan yang luas, sehingga angin yang bergerak dari laut ke gunung akan membawa banyak uap air laut, yang diuapkan oleh sinar matahari, dan karena tekanan udara yang rendah di atas pegunungan, akhirnya menjadi hujan di daerah pegunungan. Itulah sebabnya curah hujan di Jawa tergolong sangat tinggi. Bahkan salah satu kota di Jawa, yaitu Bogor, dikenal juga dengan sebutan sebagai Kota Hujan.

Curah hujan yang tinggi ini akan menyuburkan tanah di lereng-lereng pegunungan dan juga dataran rendahnya, sehingga berbagai jenis tanaman dapat hidup subur. Tidaklah mengherankan bila Pulau Jawa dahulu sebelum padat penduduknya dikenal memiliki hutan tropis yang lebat dan beragam akan berbagai jenis tanaman. Hutan tersebut juga menjadi bendungan alam yang menjaga agar air hujan tidak langsung mengalir ke bawah, tetapi meresap ke dalam tanah di lereng-lereng pegunungan, menjadikannya sebagai tandon air raksasa yang akan mengalirkan air sedikit demi sedikit dan berkesinambungan untuk kehidupan manusia yang tinggal di bawahnya.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, tidak ada satu pantai pun di Jawa yang berjarak lebih dari 100 km dari puncak sebuah gunung berapi. Hal ini menyebabkan tidak seorangpun yang tinggal di Jawa yang belum pernah melihat gunung. Tidak demikian halnya dengan orang-orang yang tinggal di daerah pantai dari benua Asia, Afrika, atau Amerika, mereka Jidak akan dapat menyaksikan gunung kalau tidak menyempatkan diri pergi ke daerah pegunungan karena jarak antara pantai dan pegunungan sangat jauh. Karena merupakan fenomena alam yang dapat disaksikan sehari-hari, gunung juga merupakan sumber inspirasi yang paling mudah muncul dalam benak anak-anak ketika mulai belajar menggambar. Apalagi gunung berapi berbentuk strato tersebut, yang secara sederhana dapat dipresentasikan dalam bentuk segitiga sama kaki. Sebagai sebuah pengalaman ketika saya menjadi juri lomba menggambar anak-anak, ternyata sebagian besar dari mereka menggambar dengan tema gunung.

Barangkali tidak demikian halnya anak-anak Amerika, India, atau Arab, terutama yang tinggal jauh dari pegunungan. Karena gunung bukan fenomena alam yang dapat dilihat sehari-hari, mereka tidak akan menggambar gunung, melainkan akan memilih obyek-obyek lain yang dilihatnya sehari-hari, seperti rumah, mobil, orang, dan lain-lain.

Kedekatan antara masyarakat Jawa dengan gunung, yang sudah tertanam sejak mereka masih anak-anak, menyebabkan mereka membuat miniatur gunung ke dalam bentuk sesaji ketika sedang melakukan suatu tindakkan keagamaan (baik yang dilakukan oleh umat Islam, Kristen, maupun Hindu, karena orang Jawa pada umumnya tidak memperdulikan apapun latar belakang agama mereka, yang penting mereka mewujudkan rasa bakti mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan persembahan berbentuk "miniatur gunung" tersebut). Fenomena gunung yang dikelilingi oleh berbagai kehidupan tumbuhan dan binatang di lereng-lerengnya direpresentasikan dalam bentuk nasi yang dicetak berbentuk kerucut dan dihiasi dengan sayur-sayuran dan lauk pauk di sekeliling kakinya. Mengapa nasi menjadi bahan utama untuk membuat tumpeng. Tidak lain dikarenakan nasi adalah makanan pokok bagi masyarakat Jawa, sehingga nasi pula lah yang dijadikan sebagai bahan utama membuat tumpeng.

Sedangkan sayur-sayuran dan lauk pauk di sekeliling tumpeng melambangkan tumbuh-tumbuhan (khususnya tanaman hasil bumi) dan binatang (khususnya ternak) yang dihidupi oleh gunung tersebut.

Sebagai akhir dari tulsian ini, tradisi membuat "miniatur gunung" ini tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Jawa, tetapi juga masyarakat lain di Indonesia. Sebagai misal, masyarakat Bali pun memproyeksikan gunung dalam bentuk banten pajegan, yaitu buah-buahan dan kue-kue yang disusun membantuk kerucut. Namun tradisi semacam itu seringkah dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama-agama dari Timur Tengah (Islam dan Kristen), sehingga ada upaya-upaya untuk menghapuskannya.

Di sinilah ajaran Hindu secara logis disesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia. Kita tidak diajarkan untuk mengikuti begitu saja suatu tradisi keagamaan yang sebenarnya tidak cocok dengan kondisi geografis Indonesia, seperti menghiasi pohon natal pada umat Kristiani atau menyembelih hewan kurban pada umat Islam. Kita tidak membuat pohon natal yang dihiasi kapas (kapas pada pohon natal merupakan lambang salju yang menempel di daun) karena tanah air kita selamanya tidak akan pernah turun salju. Kita juga tidak diajarkan untuk mempersembakan hewan kurban yang harus berupa kambing/domba karena masyarakat kita tidak bermata pencaharian sebagaimana penggembala kambing/domba, sebagaimana mata pencaharian masyarakat Timur Tengah pada masa lalu.

Source: Budiana Setiawan l Warta Hindu Dharma NO. 458 Maret 2015