TUMPEK LANDEP: Antara Adu Gengsi dan Ketumpulan Nurani

Om Swastyastu,

Bali sedang menikmati kemakmuran, memang. Bukti kemakmuran orang Bali itu bisa diamati dalam laku beragama mereka satu dasa warsa terakhir. Pura orang Bali kini tampak megah-megah. Upacara berskala besar dengan biaya ratusan juta dan milyaran rupiah pun begitu kerap digelar sepuluh tahun terakhir. Banyak orang Bali juga gemar matirtha yatra, bersembahyang ke berbagai pura di Bali, bahkan di luar Bali hingga Mancanegara. Ketika bersembahyang ke pura, orang Bali kini sangat modis dengan pakaian model terbaru, mahal dan tak jarang produk impor. Sampai-sampai dupa yang digunakan untuk bersembahyang pun tak lagi kelas murahan, tetapi produk impor dari India.

Kemakmuran orang Bali terlihat nyata salah satunya adalah saat perayaan hari suci Tumpek Landep. Dulu, hari Tumpek Landep dimaknai sebagai hari suci untuk mengupacarai berbagai jenis senjata tajam. Biasanya, yang diupacarai saat Tumpek Landep berupa keris pusaka dan segala perlengkapan bertani yang terbuat dari besi. Bahkan jika kita telisik lebih dalam Tumpek Landep sejatinya adalah hari dan saat dimana Manusia mesti menajamkan idhep dan manahnya melalui permenungan (dharana) dan kontemplasi (dhyana) agar mampu hidup sehat sekala dan niskala dan hidup harmonis penuh damai.

Kini, yang diupacarai saat Tumpek Landep bukan lagi keris atau perlengkapan bertani yang terbuat dari besi, tetapi juga sepeda motor dan mobil. Maka, saat Tumpek Landep tiba, orang Bali yang memiliki kendaraan bermotor akan menjejerkan kendaraannya di depan rumah untuk diupacarai. Para pemangku pun laris manis kebagian pesanan untuk nganteb. Tak jarang seorang pemangku mulai berangkat sejak pagi lantaran saking banyaknya pesanan.

Merayakan Tumpek Landep dengan tradisi mengupacarai kendaraan bermotor pun menjadi tampak meriah di Bali karena kepemilikan kendaraan bermotor di Bali cukup tinggi. Hampir setiap keluarga di Bali pasti memiliki sepeda motor, bahkan satu keluarga memiliki lebih dari dua sepeda motor. Yang kemampuan ekonominya baik melengkapi teras rumahnya dengan mobil. Tak tanggung-tanggung, mobil yang dimiliki tergolong merk terbaru. Cobalah diamati di jalanan-jalanan utama Bali, mobil merk apa pun dan yang paling gres ada.

Bali memang menjadi pasar sepeda motor dan mobil potensial di Indonesia. Itu sebabnya, sejumlah produsen mobil di Indonesia sudah mulai memilih Bali sebagai tempat peluncuran produk terbaru. Sepeda motor? Jangan dibilang lagi, Bali termasuk paling doyan. Kabar yang berembus dari distributor sepeda motor di Bali, berapa unit pun sepeda motor yang didatangkan ke Bali, cenderung habis terjual. Terlebih lagi transportasi publik di Bali tidak berkembang sehingga orang Bali lebih suka beraktivitas dengan sepeda motor.

Orang Bali juga tidak begitu sulit memiliki kendaraan bermotor. Hanya dengan memiliki uang Rp 500.000 sudah bisa membawa pulang satu unit sepeda motor terbaru, dan cuma dengan Rp 5.000.000 sudah bisa memiliki sebuah mobil terbaru. Lambat laun, tanpa disadari, orang Bali hidup dalam persaingan gaya hidup yang tinggi. Dalam kata sederhana, terjadi adu gengsi di antara orang Bali. Adu gengsi itu pun berimbas pada perayaan Tumpek Landep, saat sepeda-sepeda motor dan mobil-mobil itu diupacarai.

Adu gengsi ini juga jika diamati, orang Bali kini menjadi sangat konsumtif. Kendaraan bermotor yang sesungguhnya hanya alat untuk mencapai tujuan, tanpa disadari kini telah dijadikan tujuan.  “Semestinya yang diutamakan kan fungsi dari alat itu, bukan adu gengsi. Prinsip hidup sederhana hanya menjadi jargon karena perilaku keseharian orang Bali justru konsumtif,”.

Perilaku konsumtif ini memang dipicu banyak sebab. Tapi, contoh buruk dari pejabat menjadi salah satu faktor penting. Seolah menjadi lumrah, pejabat mesti bergaya hidup mewah: membawa mobil baru, rumah mewah, dan gaya hidup borjuis. Nurani menjadi tumpul dan empati sulit didapat.

Tumpek Landep sejatinya bukanlah hari untuk mengupacarai segala jenis senjata dan kendaraan, tetapi sebagai momentum untuk berintrospeksi untuk mengusut-usut diri, sejauh mana memiliki ketajaman pikiran dan ketajaman nurani. Ketajaman pikiran ditunjukkan dengan kemampuan untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi, ketajaman nurani ditunjukkan melalui empati dan kepedulian kepada keadaan orang lain.

Ironisnya, justru pada perayaan Tumpek Landep, ketajaman pikiran dan ketajaman nurani itu terasa hilang. Orang Bali kehilangan ketajaman pikiran karena semakin konsumtif yang berarti kian kehilangan daya kreativitas, sedangkan ketajaman nurani semakin menyusut karena ambisi dan gengsi terus menguasai diri.

“Yang sangat memprihatinkan, ketajaman pikiran dan ketajaman nurani itu sulit kita dapatkan dari para pejabat atau penyelenggara pemerintahan. Kalau ketajaman pikiran dan nurani itu terjaga, semestinya pengelolaan sumber daya alam dan pengelolaan anggaran lebih besar untuk kepentingan rakyat, bukan lebih banyak untuk kepentingan pejabat, birokrasi, investor  akus dan pengusaha tamak.”

Semoga momentum Tumpek Landep kali ini dapat kita jadikan sebagai momentum untuk lebih kepada penajaman pikiran, budhi pekerti, hati nurani. Dengan demikian kita akan bisa hidup  sriyam, swasti, sukham dan purnam. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: Jero Mangku Danu
Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal