Tumpek Klurut: Cinta Kasih adalah Saripati Kehidupan

Sa tvasmin parama-prema-rupa
(Narada Bhakti Sutra 2)

Persembahan bhakti terwujud dalam bentuk cinta kasih spiritual yang maha agung ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sutra ke-2 dari Narada Bhakti Sutra menjelaskan perihal cinta kasih maha agung yang merupakan perasan sari dari praktik-praktik persembahan yajna dan praktik keagamaan spiritual lainnya.

Beberapa hari lagi (Saniscara Kliwon) umat Hindu di Bali akan memperingati hari Tumpek Krulut. Pada hari itu, umat Hindu memuja Tuhan YME, memohon karunia "taksu" (kekuatan spiritual yang menjiwai) alat-alat musik seperti gong, gender, bajra, seruling dan lain-lain, bahkan sekarang juga berkembang pada alat-alat musik modern.

Akan tetapi, apa yang menjadi perhatian utama pada upacara pemujaan pada hari Tumpek Krulut ini adalah pemujaan "Sabda" (bunyi, suara), bunyi alat-alat musik yang memberikan bunyi sangat indah yang bukan hanya memberikan kedamaian batin melainkan mampu menumbuhkan cinta kasih yang bersifat duniawi dan juga cinta kasih sejati yang menyebabkah setiap orang yang mendengarnya menjadi berbahagia.

Bersamaan dengan kebahagiaan di dalam dirinya muncul pula cinta kasih yang menyebabkan hidup lahir batinnya men¬jadi sangat berarti. Awal mula dari "Sabda" disebutkan oleh kitab-kitab suci sebagai "sabda" suci yang keluar dari Damaru, genderang sakti Dewa Siva. Kelompok kitab Purana menyebutkan bahwa alam semesta ini tercipta dari "Sabda" yang muncul dari Damaru Dewa Siva tersebut.

Umat Hindu di Bali meyakini bahwa pertemuan khusus Saptawara dan Pancawara menciptakan kesucian dan energi spiritual khusus. Terutama sekali pertemuan akhir Saptawara dan Pancawara memunculkan kekuatan spiritual sangat khusus yang membantu turunnya "taksu" (kekuatan spiritual) dari sabda suci.

Pertemuan Saptawara dan Pancawara yang datangnya setiap 210 hari sekali, merupakan saat yang sangat tepat untuk turunnya "taksu" bunyi alat musik seperti Gong dan lain-lain. Inilah kepercayaan umat Hindu di Bali yang barangkah tidak dimiliki oleh umat Hindu lain, bahwa "taksu" yang diturunkan pada hari Tumpek Krulut mampu menimbulkan rasa "lulut" (cinta kasih) yang "lango" (membahagiakan mendalam).

Pengertian ini pula yang menyebabkan belakangan mulai disuarakan pengertian Tumpek Krulut sebagai "Valentine"-nya umat Hindu di Bali. Kita saat ini hampir memasuki Era Baru dalam persaudaraan dan persatuan yang dijalin oleh Kasih Sejati. Meskipun kita semua mengetahuinya, namun kita secara sadar mengabaikannya dan acuh tak acuh terhadap hal tersebut karena kita biasanya tertarik pada hal-hal yang kurang penting. Hal tersebut bagaikan orang menggenggam pecahan-pecahan kaca dimana kita tetap menganggapnya sebagai berkah meskipun tangan kita berlumurah darah olehnya.

Seharusnya yang kita pegang itu bukanlah pecahan kaca yang bisa membuat tangan kita berdarah, sebaliknya, seharusnya semua itu adalah batu permata berharga. Kita melupakan permatanya dan tenggelam dalam pecahan kaca. Kasih bersemayam di dalam diri setiap individu dan kita semua dapat merasakannya. Hanya saja disalaharahkan, karena kita berpikir cinta kasih tersebut hanyalah masalah material.

Karena kita masih berada dalam tingkatan material dan belum mencapai tingkatan cinta kasih spiritual. Itulah sebabnya mengapa kasih kita cenderung mengarah pada lawan jenis dan kita mengartikannya sebagai kepemilikan/hak milik. Cinta kasih terhadap lawan jenis bukanlah sesuatu yang sangat istimewa dan tidak mengantarkan kita menuju ke arah mana pun, karena ia hanyalah "chemical love", hanya cinta kasih letupan-letupan badan dan perasaan lelaki dan perempuan.

Cinta kasih yang ditimbulkan oleh "sabda" yang sudah dimohonkan "taksu" pada hari Tumpek Krulut merupakan cinta kasih spiritual dan tidak terikat atau pun dibatasi oleh hal-hal material. Itulah cinta kasih sejati yang harus kita capai. Kasih sejati itu tidak dibatasi oleh suku, kepercayaan, ras dan agama. Semua itu tidak dapat mengikat cinta kasih sejati yang memiliki kekuatan ampuh untuk melampaui keragaman, perbedaan-perbedaan dalam masyarakat dan juga dian-tara masing-masing individu.

Persaudaraan universal dapat dicapai hanya melalui cinta kasih sejati. Dan saya menekankan sekali lagi bahwa seseorang akan mendapatkan kekuatannya hanya dan hanya ketika ia menghindari melihat kesalahan orang lain. Dengan melihat hanya kebaikan orang lain maka ia akan dapat menggunakannya sebagai alat untuk bergerak maju bersama. Ini merupakan cara untuk memperkuat individu dan menyalakan lampu kasih sejati di dalam hati kita.

Kasih sejati dapat secara pasti mengenyahkan/ menghapuskan semua bentuk kekerasan yang saat ini banyak terjadi di berbagai belahan dunia. Pernyataan mengejutkan perihal cinta disampaikan oleh tokoh yang mempunyai inteligensi super tajam, yaitu Albert Einstein. Pada akhir 1980-an, putri Einstein, Lieserl menyumbangkan 1.400 surat yang ditulis oleh Einstein ke Universitas Ibrani. Dalam pesannya, Einstein meminta untuk tidak mempublikasikan isi surat-surat itu sampai dua dekade setelah kematiannya. "Ketika ayah mengusulkan teori relativitas, sangat sedikit yang mengerti tentang ayah, dan apa yang akan ayah ungkapkan sekarang untuk meneruskan kepada umat manusia yang juga akan bertabrakan dengan kesalahpahaman dan prasangka di dunia".

Einstein berpesan kepada pu-trinya agar menunggu dan tidak segera mengumumkan surat-suratnya tersebut mengingat masyarakat dunia masih memerlukan waktu untuk dapat memahami apa yang Einstein ingin sampaikan. "Ada kekuatan yang sangat kuat yang sejauh ini dimana ilmu pengetahuan belum menemukan penjelasan formal untuk itu. Ini adalah kekuatan yang mencakup dan mengatur semua orang lain, dan bahkan di belakang fenomena yang mengatur alam semesta dan belum diidentifikasi oleh kami. Kekuatan universal ini adalah KASIH. Cinta kasih adalah Tuhan dan Tuhan adalah cinta kasih".

Lebih lanjut Einstein berpesan, "Jika kita ingin spesies kita bisa bertahan hidup, jika kita ingin menemukan makna dalam hidup, jika kita ingin menyelamatkan dunia dan setiap makhluk hidup yang mendiami di dalamnya, cinta kasih adalah satu-satunya jawaban. Ketika kita belajar memberi dan menerima energi universal ini. putriku tersayang Lieserl, kita akan memastikan bahwa cinta kasih telah menaklukan semuanya, karena cinta kasih adalah saripati dari kehidupan".

Cinta kasih seperti disebutkan di dalam kutipan Narada Bhakti Sutra di atas bukan mengarah pada cinta kasih sempit, cinta kasih "chemical love", atau cinta kasih yang berhubungan dengan konsep-konsep badani yang bersifat terbatas dan sementara. Menurut Narada Bhakti Sutra, cinta kasih di dalam ajaran dan tradisi Veda hendaknya diarahkan kepada cinta kasih spiritual yang dinamakan Parama Prema, cinta kasih spiritual yang Maha Agung (sa tvasmin parama-prema-rupa).

Cinta kasih duniawi yang wajar dan sempit perlahan-lahan ditingkatkan dan dimurnikan melalui praktik-praktik pelaksanaan persembahan yajha bhakti serta diarahkan kepada cinta kasih spiritual. Cinta kasih bhakti seperti itulah yang kemudian berubah rupa menjadi minuman amerta kekekalan, amerta Sanji-vani (ameta-svarupa ca).

Oleh: Darmayasa

Source: Koran Bali Post, Minggu Wage 20 Maret 2016