Tumpek Kandang: “Mengandangkan” Pikiran Liar Menuju Kebaikan

Masyarakat Hindu dimanapun mereka berada pastilah memiliki ciri khasnya masing-masing dalam mengajarkan kebenaran dan dalam mengajarkan ajaran agamanya tersebut para tetua biasanya menggunakan bahasa yang tertutup atau “mekulit” sehingga harus diartikan dan diulas secara rinci dan tidak bisa ditelan mentah-mentah. Para tetua kita memberikan kesempatan kepada generasi penerusnya untuk menelaah ajaran agama tersebut sesuai dengan perkembangan jaman dan keadaan suatu masyarakat, sehingga ajaran agama tersebut tidak berupa doktrin-doktrin yang tidak boleh diinterpretasikan lagi.

Ada banyak contoh tentang pengajaran kebijaksanaan kepada kita oleh leluhur kita, misalnya dalam perayaan “Tumpek Kandang”, yang sebagian besar dari kita mengartikan tumpek kandang tersebut hanya sebagai upacara atau perayaan untuk binatang atau “soroh wewalungan”. Kita membuat sesajen atau berbagai banten untuk sapi, babi, ayam, serta binatang peliharaan lainnya dan kemudian kita persembahkan banten tersebut kepada binatang peliharaan kita dengan tujuan memohon kemakmuran atau kesejahteraan. Namun kita jarang berpikir lebih jauh tentang maksud tersembunyi di balik kegiatan upacara tumpek kandang tersebut dan kita lebih sering menonjolkan aspek perayaannya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Sesungguhnya bila kita pahami lebih jauh makna dari tumpek kandang tersebut, maka akan kita dapatkan banyak pesan moral yang tersembunyi di balik perayaan tersebut. Misalnya kehidupan kita ini bagaikan kita menjinakkan binatang liar yang kemudian dijadikan “binatang peliharaan” yang nantinya bermanfaat untuk kita nantinya. Kandang yang dimaksudkan dalam ritual ini tidak sebatas “badan sampi”, “badan celeng” ataupun kandang-kandang yang lainnya, tetapi sebuah pesan bahwa kita seharusnya membuat perlindungan diri dulu agar pikiran liar tersebut mudah dikendalikan atau dikontrol agar tidak mengganggu orang lain dan dengan adanya perlindungan diri berupa “kandang” maka pikiran liar yang diumpamakan seperti babi, ataupun wewalungan lainnya bisa kita kontrol dengan baik.

Cobalah perhatikan di alam nyata kehidupan binatang liar seperti babi, banteng, dan binatang lainnya yang hidup tanpa kandang atau berkeliaran di alam bebas, bagaimanakah kehidupan mereka? Mereka hidup tidak terkendali, tanpa ikatan, liar dan suka merusak lingkungan sekitarnya bahkan sering mengancam kehidupan manusia juga. Oleh karena itu para tetua atau leluhur kita lantas mengandaikan kehidupan seperti itu bagaikan kehidupan “buron” yang artinya kehidupan liar tanpa kendali, seenaknya dan sering merusak. Untuk menghindari gaya hidup seperti itu, maka kita perlu menjinakkan dan membatasinya dalam “kandang”, agar tidak liar.

Lewat perayaan tumpek kandang, para tetua kita berharap agar kita hidup penuh dengan pengendalian diri dengan membatasi atau mengekang keinginan yang bersifat seperti binatang, misalnya liar, malas, hidup tanpa tata krama serta sifat-sifat buruk lainnya. Kemudian kita berusaha mengubah perilaku buruk tersebut menuju ke arah yang lebih baik yang suatu saat nanti bisa menuju sifat yang penurut dan jinak yang sudah barang tentu sangat bermanfaat bagi kehidupan kita serta lingkungan sekitarnya. Kita bisa ambil contoh kecil di kehidupan kita sehari-hari dari kehidupan ayam yang hidupnya tidak terurus, dimana mereka sering mengganggu kehidupan di sekitar kita, misalnya buang kotoran sembarangan, serta hal-hal yang merugikan lainnya. Namun bila kita sejak awal melatih ayam-ayam tersebut untuk disiplin, maka ayam-ayam tersebut akan terbiasa dengan kehidupan yang terurus dan sudah tentu hal itu tidak mengganggu kehidupan di rumah kita. Begitu juga dengan binatang-binatang atau “buron” lainnya dan dari contoh tersebut di atas jelaslah, bahwa kita seharusnya bercermin dan belajar lebih jauh dari perayaan tumpek kandang.

Leluhur kita sejak jaman dulu lebih mengutamakan tindakan nyata dalam mendidik generasinya lewat filsafat yang sederhana, dan bukan mengajarkan kita menghafal ayat-ayat atau sloka-sloka yang tertera dalam buku-buku suci. Mereka lebih senang menunjukkan tindakan nyata dalam melaksanakan ajaran tersebut dan hal ini kita tidak mengerti, sehingga timbul kesan bahwa leluhur kita itu tidak menguasai ajaran agama. Padahal sesungguhnya para leluhur kita telah “mengandangkan” pikiran mereka yang buruk, liar dan tak terkendali menuju kehidupan yang teratur dan selalu berpedoman pada prinsip-prinsip kebenaran yang nantinya sangat bermanfaat dalam kehidupan sosial religius kita.

Leluhur kita sering memakai “pertiwimba” atau mencontoh kehidupan binatang seperti misalnya kehidupan sapi, yang mana sapi-sapi itu sebenarnya sangat liar, namun setelah melalui proses penggemblengan dan latihan yang tiada henti yang dilakukan akhirnya sapi-sapi tersebut bisa dijadikan teman atau sahabat yang bisa dipakai untuk membantu mereka dalam mengerjakan sawahnya. Kotorannya bisa dijadikan pupuk organik, dan manfaat lainnya. Kita bisa bayangkan bila saja sapi tersebut tidak dikendalikan dan dikandangkan di “badan sampi”, maka sang sapi bisa merusak tanaman yang ada di sekitarnya dan sapi itu membuang kotorannya sembarangan. Leluhur mengandaikan kehidupan manusia sama halnya dengan kehidupan binatang seperti sapi, dimana kita perlu “mengandangkan” pikiran kita lewat latihan pengendalian diri. Selanjutnya berusaha melatih diri menuju ke hal-hal yang bermanfaat, sehingga kita nantinya bisa menjadikan prilaku kita yang bersifat “daiwi sampad.” Perilaku daiwi sampad adalah yang mencerminkan sifat kedewataan dan kita bisa menjauhkan sifat yang “asuri sampad” atau prilaku bersifat seperti kaum asura yang senang merusak.

Bila kita tidak berusaha memahami pesan yang tersirat di balik perayaan Tumpek Kandang, maka kegiatan seperti itu akan hanya bersifat rutinitas yang datang dan pergi tanpa pesan. Kita akan terus berpuas diri dengan membuat banten yang besar dengan berbagai “raka” buah import dan bahan upacara, seperti busung yang dijual oleh para pengusaha dari “dura Bali”, dan kita puas dengan sanjungan para “pemanfaat” kepolosan kita. Kita disanjung dengan berbagai pujian namun di balik itu kita “diisap” dari berbagai arah.

Tumpek kandang sebenarnya adalah ajaran moral kepada kita, agar kita bisa meniru kehidupan si rare angon yang “seleg” atau tekun dalam melaksanakan tugasnya, sehingga dia bisa mendapatkan suatu karunia. Kehidupan sebagai pengembala ternak yang “seleg” mengendalikan binatang piaraannya, baik itu “ngayehin” atau memandikan, mencarikan makan ataupun melatihnya pada suatu saat tanpa harus banyak berharap akan membawa karunia. Rare angon itu adalah cermin kehidupan kita ini, dimana kita diharapkan tekun mengendalikan pikiran dan tindakan kita, maka sudah tentu sifat-sifat welas asih, taat, setia pada pada kewajiban “pengangon”. Dengan menjalani kehidupan tekun seperti itu maka suatu saat nanti kita sampai kepada tujuan hidup yang damai bagaikan kehidupan si rare angon, misalnya bisa bernyanyi dengan riang, bermain dengan sesamanya, tanpa harus berseteru dengan sesamanya. Karena kehidupan rare angon adalah cerminan kehidupan yang shanti atau damai. Kita bisa banyak belajar dari kehidupan si rare angon tersebut bagaimana dia mengembalakan binatang piaraannya.

Leluhur kita mengharapakan kehidupan kita seperti kehidupan si rare angon yang dengan ketekunannya bisa “mengandangkan” semua “buron”nya menjadi “ubuh-ubuhan”, yaitu binatang piaraan yang taat pada tuannya. Begitu juga dengan kehidupan kita, dimana kita berharap bahwa dalam mengendalikan pikiran kita yang liar ini tidak cukup dengan menghafal sloka-sloka atau mengucapkan sloka-sloka sampai mulut berbuih-buih tanpa yang diharapkan adalah implementasi ajaran tersebut. Rare angon tidak pernah mengajarkan teori untuk nyabit rumput, cara memandikan sapi, atau teori-teori lainnya. Dia tunjukkan tentang cara bagaimana memelihara “buron” menjadi “ubuhan” atau bagaimana caranya menjadikan binatang liar menjadi binatang piaraan. Sama halnya dengan kehidupan kita sekarang ini, orang yang berteori banyak, tapi orang yang mau menjalankan teori itulah yang sedikit. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari kita, bicara tentang pengendalian diri semua orang bisa tapi pelaksanaannyalah yang sulit.

Tumpek kandang adalah sebuah pesan leluhur bagi kita semua, dimana leluhur kita mengharapkan bahwa “kandangkanlah” pikiran kita, jinakkanlah dia, sehingga suatu saat pikiran liar tersebut menjadi pikiran yang menuju sifat “ubuhan” atau bisa menjadi penurut tuannya, atau memiliki sifat kebajikan. Sama halnya dengan manusia dimana kita semua berharap agar perilaku asuri sampad kita suatu saat berubah menjadi sifat kedewataan atau “daiwi sampad”. Di jaman sekarang ini dimana kehidupan manusianya semakin rumit, maka hal yang diperlukan adalah mewujudnyatakan perayaan tumpek kandang dalam kehidupan kita yang sesungguhnya. Karena pada jaman sekarang ini binatang liar tersebut tidak saja berupa sapi, banteng atau babi, namun bisa berupa nafsu atau kemauan yang lebih liar dari binatang itu sendiri. Untuk mencegah keliarannya, maka kandang yang diperlukan adalah penguasaan diri dengan lebih tekun memahami dan melaksanakan kewajiban kita sebagai makhluk, yaitu terus berusaha sesuai dengan apa yang dilakukan rare angon, setia menjadi penggembala pikiran untuk mencapai pikiran daiwi sampad.

Oleh: I Wayan Miasa
Source: majalahhinduraditya.blogspot.co.id