Tujuhbelas Delapan dalam Perspektif Hindu

Aku mau bebas dari segala Merdeka Juga dari Ida

Pernah Aku percaya pada sumpah dan cinta Menjadi sumsum dandarah Seharian kukunyah-kumanah

Sedang meradang Segala kurenggut Ikut baying

Tapi kini Hidupku terlalu tenang Selama tidak antara badai Kelah menang

Ah! Jiwa yang menggapai-gapai Mengapa kalau beranjak dari sini Kucoba dalam mati.

Begitulah salah satu penggalan puisi Chairil Anwar ditulis 14 Juli 1943 yang berjudul merdeka. Hal ini mengisyaratkan bangsa Indonesia merindukan kebebasan dari belenggu penjajahan bangsa asing. Bangsa Indonesia merindukan kebebasan dari segala merdeka dan juga mahardika. Merdeka adalah bebas dari belenggu penjajahan, baik penjajahan bangsa asing, penjajahan bangsa sendiri, sedangkan Mahardika bebas menuangkan gagasan maupun ide tanpa tekanan pemikiran orang lain. Kebebasan pernah dijanjikan oleh bangsa-bangsa asing yang dulunya datang mengucap janji manis memberikan harapan kedamaian dan kesejahteraan, ternyata malah mengkhianati dan membawa bangsa Indonesia ke alam kesengsaraan lahir bathin dan jauh dari keadilan. Seperti satir yang ditulis pada paragraph kedua dalam puisi Chairil Anwar; “Pernah Aku percaya pada sumpah dan cinta Menjadi sumsum dan darah Seharian kukunyah-kumamah”.

Namun dua tahun kemudia, setelah puisi Chairil Anwar dibacakan, bangsa Indonesia merdeka, tepat pada tanggal 17 Agustus 1945. Dimana pada momen ini, bangsa Indonesia memiliki harapan baru kebebasan untuk membangun pemerintahan sendiri, mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bagi segenap rakyat. Sejalan apa yang dijelaskan pada teks agama Hindu yang merumuskan tujuan yaitu “atmanah mokshartham jagadhita ya ca iti dharma”, artinya kebebasan jiwa dan kesejahteraan batin dalam lingkup dharma. Dharma yang mengandung arti kewajiban maupun aturan hidup sebagai manusia, yang secara spesifik dituangkan dalam Manawadharma Sastra. Sehingga ada 17 Agustus 1945 disepakati sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia. Dari hal ini muncul sebuah pertanyaan, apa hakekat kemerdekaan itu?

Merdeka sama dengan bebas, karena itu kemerdekaan adalah kebebasan. “Keadaan bebas” ini merupakan turunan dari penjelasan kata “merdeka” dan “bebas” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata “merdeka” berarti bebas, bebas dari, lepas dari, berdiri sendiri, tidak terkena, tidak terikat, tidak tergantung, dan leluasa. Kata “bebas” berarti lepas sama sekali, lepas dari, tidak terikat, tidak terbatas, tidak dikenakan, tidak terdapat, dan merdeka. Leksikalitas kata “(ke)merdeka(an)” dan “(ke)bebas(an)” diungkapkan untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya arti dan makna suatu kata secara semiotic tidak pernah merdeka dan bebas. Arti dan makna sebuah kata selalu terikat pada sintaksis (hubungan formal antara satu tanda dengan tanda lain), semantic (hubungan tenda dengan objek), dan pragmatic (hubungan tanda dalam pemakaian).

Kemerdekaan bagi sebuah bangsa yang besar adalah anugerah yang tidak terhingga nilainya. Lepas dari penjajahan yang sarat ketidakadilan dan kekejaman yang tidak berperi kemanusiaan dalam kurun wakti tiga setengah abad adalah kenikmatan yang patut kita syukuri. Sejarah menjadi saksi betapa tersiksanya lahir bathin bangsa yang terkungkung dalam keangkuhan penjajah, yang tidak sedikit telah merampas kekayaan tanah air dalam territorial dimana bangsa yang lahir di negerinya sendiri lebih berhak mengenyam kenikmatan serta menimba manfaat yang lebih darinya. Bukan sekedar itu, penjajahan juga telah menginjak-injak harga diri bangsa yang terjajah, dimana kebebasan telah dianulir oleh nafsu kebinatangan kolonialisme dan imperialism, oleh kesombongan desing peluru yang muntah dari setiap bedil-bedil yang ditarik pelatuknya, yang telah merobek-robek dan mengkoyak-koyak dada dan punggung rakyat tak berdosa. Dimana seiring dengan berlarut lamanya, telah meruntuhkan psikologis bangsa menjadi bangsa yang menyimpan rasa ketakutan berlebihan, mudah patah arang, frustasi berkepanjangan dan dendam membara yang tak kunjung dapat dilampiaskan hingga tujuh keturunan.

Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang bebas menentukan nasibnya sendiri tanpa ketergantungan pada kebijakan bangsa lain atau dengan kata lain, bangsa yang bebas dari belenggu penjajahan dan keterkungkungan segala bentuk ketidak adilan. Mantan Presiden Soekarno terdahulu menyebutnya dengan istilah berdikari yaitu berdiri dan bertindak di atas kaki sendiri. Merdeka juga dipadankan dengan tidak mabuk, sejalan dengan teks Canakya Nitisastra dinyatakan Jnyanena muktir na tu mandenena. Artinya: pembebasan diri dari penderitaan dengan ilmu pengetahuan bukan dengan menghias badan saja. Kalau tidak mabuk karena pintar itulah namanya Merdeka. Selebihnya dalam Nitisastra menyebutkan: Lwirning mangdadi madaning jana surupa guna dhana kula kulina yowana lawan tang sura len kasuran agawe wereh manahikang sarat kabeh yan wwanten wang sira sang dhaneswara surpa guna dhana kula yowana, yan tan mada maharddhikeka panggarannia sira putusi sang pinandita. Artinya hal yang dapat membikin orang mabuk adalah keindahan rupa, kepandaian, kekayaan, kemudaan, kebangsawanan, keberanian dan air nira, barang siapa tidak mabuk karena semuanya itu dialah yang dapat disebut merdeka (mahardhika), bijaksana bagaikan Sang Pandita.

Dilain filsuf dan juga seorang novelis Jean Paul Sarte pun membahas tentang kebebasan. “Manusia dikutut untuk bebas” begitu pernyataan radikalnya. Kebebasan adalah eksistensi manusia. Tanpa kebebasan, eksistensi manusia hanya sesuatu yang absurd, begitu ia berujar. Namun kebebasan itu ternyata menjajah manusia kembali. Selebihnya Sarte mengatakan kebebasan mutlak manusia hanya pada kematian. Sejalan dengan pemikiran Chairil Anwar pada akhir puisinya ia mengatakan: “Ah! Jiwa yang menggapai-gapai, Mengapa kalau beranjak dari sini, Kucoba dalam mati”. Hal ini, dalam teks Hindu disebut Jiwan Mukti, yang artinya; tingkatkan kebebasan atau kebahagiaan tertinggi yang dapat dicapai seseorang semasa hidupnya di dunia ini, dimana atma sudah tidak terpengaruh oleh gejolak indriya. Bahagia itu sendiri mengandung makna ketika tidak ada lagi rasa senang atak kenikmatan terhadap sesuatu hal. Pada tahap inilah manusia berada pada titik nol yang umum disebut bahagia.

Bebas sering diistilah dengan moksa, sebagai puncak dari ajaran Hindu. Moksa secara literal dalam bahasa sansekerta berarti pembebasan. Sedangkan moksa dalam ajaran dharma berarti pembebasan dari samsara, yaitu roda kelahiran yang berulang-ulang berserta seluruh kesengsaraan yang diakibatkan oleh avidya, kebodohan, ketidaktahuan di dalamnya. Realitas sejati kita adalah acintya yaitu tidak terpikirkan, secara umum bisa dijelaskan sebagai maha damai, suci dan terang benderang. Namun karena ego dan kegelapan bathin, kita terjebak di dalam badan yang kotor ini. Moksa sebenarnya merupakan istilah bagi mereka yang sudah terbebaskan dan sudah meninggalkan dunia ini. Istilah moksha bagi yang masih hidup adalah Jivan Mukti. Jiva berarti mahluk hidup, Mukti berarti lepas atau bebas. Jivan Mukti berarti mahluk hidup yang sudah terbebaskan.

Jadi, momen hari kemerdekaan Indonesia ini menekankan betapa pentingnya menghargai kemerdekaan. Dalam rangka memahami kemerdekaan, dalam sloka Sarasamuccaya disebutkan, sejatinya manusia adalah sang raja bagi dirinya sendiri, ia adalah pemimpin dari tubuhnya, ia adalah penguasa dari pikirannya, maka dari itu berusahalah untuk memahami hakikat penjelmaan ini. Kesimpulannya, bagi manusia yang belum mampu menguasai dirinya ia belum mencapai kemerdekaan atau kebebasan atas dirinya ……. Rahayu.

Oleh: Putu Wawan
Source: Majalah Wartam, Edisi 30, Agustus 2017