Tujuan Ayurweda

Secara umum masyarakat mengenal bahwa Ayurveda adalah tata cara pengobatan tradisional yang berasal dari India. Atau ada yang lebih memahami mengatakan bahwa Ayurveda adalah ajaran tentang pengobatan yang diturunkan oleh Tuhan melalui kitab suci Weda di tanah India untuk mendiagnosis, memprognosis, mengobati, mencegah, rehabilitasi, promosi dan menyehatkan manusia agar dapat berumur panjang. Jika disimak lebih rinci lagi tujuan dari Ayurveda jelas tidak hanya terbatas pada tata cara pengobatan saja, tetapi jauh melampaui batas-batas itu. Yang dituju adalah manusia, agar mampu hidup berumur panjang saja, tetapi harus disertai dengan kondisi tubuh jasmani, rohani, sosial dan spiritual yang sehat. Agar umat manusia mampu melaksanakan dharma sesuai tujuan hidupnya, yakni moksartham jagaddhitaya ca iti dharmah, maka dia harus sehat.

Arti dari motto ini adalah : tujuan hidup (artha) umat manusia adalah kebahagiaan tertinggi (moksa) dalam keharmonisan (hita) dunia (jagat, jagad), itulah (ca iti) yang disebut dharma. Kebahagiaan yang diraih bila hanya untuk dirinya sendiri, bukanlah dharma namanya. Dharma ialah semua aktivitas manusia yang bertujuan untuk menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan dunia dengan segala isinya, bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Tujuan operasional dari umat manusia ini dapat diringkas menjadi empat prinsip utama tujuan hidupnya, yang disebut catur purusha artah, yakni empat (catur) tujuan (artha) yang utama (purusha) : dharma, artha,
kama dan moksa. Jadi secara lebih konkrit, tujuan dari Ayurveda adalah sebagai berikut:

1. Memelihara kesehatan orang yang sehat dan menolong mereka mencapai empat prinsip tujuan hidupnya, yaitu catur puruslw artha, yang terdiri atas :

a. Dharma = kemampuan memahami dan melaksanakan kebenaran, yakni semua aktivitas yang dilakukan berdasarkan kebenaran Weda akan mendatangkan atau meningkatkan kesehatan diri sendiri maupun masyarakat.

b. Artha = materi untuk melaksanakan dharma. Tanpa materi tidak akan mungkin melaksanakan dharma. Tanpa udara untuk bernapas, tanpa makanan untuk dimakan, tanpa air untuk dan minuman manusia tidak akan mungkin melaksanakan dharma. Di zaman transportasi, komunikasi dan informasi yang serba canggih sekarang ini tanpa materi berupa mobil, pesawat terbang, telepon, faximil, televisi, komputer, internet, koran, majalah dan berbagai peralatan canggih lainnya, akan sulit sekali melakukan dharma secara maksimal.

c. Karma = menikmati keinginan keduniawian, termasuk birahi. Manusia sudah diberi kama atau nafsu berupa guna. Ada tiga nafsu yang dimiliki manusia, disebut tri guna. Ketiga guna ini adalah satwika (bijak), rajasika (agresif) dan tamasika (pasif). Ketiganya berada dalam keadaan berimbang di dalam tubuh manusia, dan saling bekerja sama, saling melengkapi. Tanpa kama atau guna, manusia itu tidak ada artinya, bagaikan mayat hidup. Manusia harus berjuang untuk menegakkan dharma, Suatu saat dibutuhkan agresifitas atau guna rajas untuk memenangkan dharma, di saat lain diperlukan kepasifan atau guna tamas untuk meredakan emosi yang meledak. Kebijakan atau guna sattwam sering muncul untuk mengendalikan kedua guna tersebut, agar berjalan sesuai kodrat manusia yang men-jalankan dharma.

d. Moksa = mencapai kebahagiaan tertinggi melalui kebebasan dan kesadaran suci. Kebahagiaan tertinggi hanya bisa dicapai kalau mampu membebaskan diri dari keterikatan akan materi dan karma serta mengendalikan dharma ke arah yang benar. Seorang pesuruh kantor pada suatu saat dia mampu membeli sebuah sepeda (artha) sudah bahagia sekali (moksa). Pada saat itu tidak ada keinginan (kama) untuk memiliki sebuah sepeda motor atau mobil. Dia berbahagia (moksa) dengan sepedanya. Dengan bermodal sepeda itulah dia melaksanakan swadharmanya (dharma) sebagai pesuruh kantor, sehingga dia datang bisa lebih pagi, pulang lebih sore, bekerja dengan rajin, ramah dan baik, sehingga atasan dan orang-orang di kantornya semua ikut bahagia (jagaddhita).

2. Membebaskan penyakit yang menyebabkan seseorang menderita. Penyakit yang diderita oleh seseorang menurut Ayurveda dapat diklasifikasi sebagai berikut:

1. Pratyayaravdha. Klasifikasi ini berdasarkan atas banyak sedikitnya unsur tri dosha (vatta = udara, pitta = api, kapha = air) yang ada di dalam tubuh manusia terganggu. Bila hanya unsur vatta yang terganggu disebut vattaja. Pittaja kalau yang terganggu adalah unsur pitta. Kalau terganggu unsur kapha maka disebut kaphaja. Jika dua unsur yang terganggu disebut dvandvaja. Apabila ketiga unsur tri dosha terganggu disebut sannipataja.

2. Nanatmaja. Penyakitnya ada pada unsur tri doshanya sendiri. Ini berarti gangguan ada pada unsur tri dosha.

3. Arstapacaraja. Penyakit ini muncul akibat kesalahan dalam hal makanan (ahara). Makan terlalu sedikit mengakibatkan badan lemah (viba Makan udang menyebabkan gatai (kandu). Makan rujak menyebabkan menceret (atisara).

4. Adrstapacaraja. Penyakit yang diderita akibat hukum karma phala. Bila perbuatannya terdahulu jelek, maka pada saat punarbhawa dia akan numitis menjadi orang yang menderita, fisik atau mental.

5. Penyakit akibat vyadhi. Penyakit ini timbul akibat serangan suatu penyakit atau vyadhi. A. Adhyat-mika : -1) adi bala pravrtha (penyakit keturunan, herediter) 2) janma bala pravrtha (penyakit sejak dalam kandungan, kongenital), dan 3) dosha bala pravrtha (gangguan undur tri dosha). B. Adhidaivika : - 1) kala bala pravra (gangguan musim), 2) daiva bulu pravrtha (gangguan niskala, tak tampak, supranatural), 3) svabhava bala pravrtha (gangguan sekala, tampak, natural). C. Adhibautika : 1) sastra krta (luka terkena benda tajam), 2) vyala krta (luka digigit binatang).

Demikianlah tujuan Ayurveda diturunkan ke dunia ini oleh Tuhan untuk melengkapi manusia dalam hidupnya dalam menghadapi lingkungannya yang selalu berubah.

Source: Ngurah Nala l Warta Hindu Dharma NO. 480 Januari 2007