Tugas Ilmuan Membersihkan Bahasa dengan Pikiran

Saktum iva titauna punanto
Yatra dhira manasa vacam akrata
(RgvedaX.71.1)

Maksudnya: Para Sarjana atau ilmuwan tugasnya membersihkan bahasa dengan pikiran yang jernih, sebagaimana beras bersekam dibersihkan dengan niru atau ayakan.

Untuk mencegah adanya enam bahaya domistik seperti ketidakadilan, ke-sewenang-wenangan, arogansi kekuasaan, arogansi kekayaan, arogansi intelektual dan keberingasan sosial semuanya itu menjadi tugas semua pihak. Untuk mencegaTi agar jangan ada pihak-pihak yang merasa benar sendiri. Kenyataan yang masih jauh dari kebenaran tidak mudah memprosesnya untuk mencapai kebenaran. Dalam hidup ini selalu ada proses merubah kenyataan menuju harapan yang dicita-citakan.

Canakya Niti XII. 11: menyatakan Satya mata pita jnyana. Artinya, kebenaran adalah ibuku, ilmu pengetahuan suci adalah ayahku. Ini artinya kebenaran itu agar terwujud menjadi kenyataan yang menjadi landasan menyelenggarakan kehidupan yang baik, gunakanlah Jnyana atau ilmu pengetahuan suci untuk menganalisa dan menetapkan langkah apa yang tepat dilakukan agar merubah kenyataan yang belum benar itu bisa diproses menjadi kebenaran.

Dalam hal inilah kebenaran itu membutuhkan Ilmuwan yang ahli atau para sarjana sebagai guru atau ayah menuntun masyarakat agar bahasa yang keluar didengar masyarakat banyak itu adalah bahasa yang berasal dari analisa dan olah pikiran yang jernih. Bukan dari letupan emosi yang dikuasai oleh nafsu indriawi.

Swami Satya Narayana menyatakan bahwa kalau pikiran masih diperbudak oleh hawa nafsu itu namanya "Manah". Tetapi kalau pikiran yang sudah kuat mengendalikan hawa nafsu indriawi itu namanya "Wi-weka". Wiweka itu adalah pikiran yang sudah berhasil menguasai hawa nafsu indria sehingga bisa membeda-bedakan mana yang benar, mana yang salah, mana yang baik, mana yang tidak baik dan seterusnya. Setiap ada gejolak indria karena ada kontak dengan objeknya; maka indria itu bergejolak. Tetapi karena pikiran itu sudah kuat maka gejolak itu dikendalikan bagaikan tali lis kereta mengendalikan kuda kereta. Para sarjana atau ilmuwanlah membimbing masyarakat awam agar masyarakat mampu menyampaikan gagasannya dengan bahasa yang membuat mereka hidup dinamis dalam berkomunikasi membangun harmoni yang bersinergi.

Para ilmuwanlah yang seyogianya mampu mengeksistensikan bahasa yang ada pada hati para Resi suci untuk dijadikan panutan oleh masyarakat. Demikian dinyatakan dalam Rgveda X.71.2. (Tam anvavindam rsisu prav-istam). Artinya ilmuwan itulah yang wajib menjadi perantara masyarakat dengan bahasa hati para Resi Suci. Bahasa Resi Suci itu tersusun rapi dan berkualitas Arsastawa. Dalam pustaka Ramayana Sansekerta, 120.30 menyatakan bahwa Gita pujaan Resi melantunkan Sloka Itihasa dengan Arsastava. Kata Arsastava itu berasal dari bahasa Sansekerta dari kata Arsa dan Stava. Arsa artinya kemauan dan Stava artinya pujaan. Pujaan itu yang menuju arah kesucian spiritual. Dengan demikian Arsastava artinya kemauan mulia. Mulia dalam hal ini adalah kemauan yang religius.

Masyarakat dalam berbahasa dalam posisi apapun seyogianya menyampaikan kemauannya atau hendaknya disampaikan dengan tujuan mulia. Misalnya, dalam mengritik siapapun hendaknya sampaikan dengan bahasa yang mengandung Arsastava itu. Kritik, saran atau menunjukkan kesalahan seseorang kalau disampaikan dengan bahasa dengan kekuatan Arsastava akan lebih berhasil; Arsastava itu adalah niat mulia apa lagi diwujudkan dengan bahasa yang benar-benar tersusun baik akan lebih berhasil dalam mengkomumkasikan gagasan mulia itu. Ada pihak yang sangat baik dalam menyusun bahasa, tetapi di balik kehebatan bahasa itu tidak ada Arsastava yang menjiwai bahasa yang tersusun baik dan indah itu. Bahasa yang baik dan indah itu tanpa Arsastava akan kehilangan kharisma.

Di Bali disebut tanpa taksu. Pepatah menyatakan bahwa: Bahasa menunjukan bangsa. Artinya, kalau bahasanya baik bangsa itu adalah bangsa yang baik. Demikian juga Prof. DR. Koentjaraningrat menyatakan ada tujuh sistem kebudayaan salah satu adalah sistem bahasa. Artinya berbahasa itu seharusnya media menyampaikan kemauan yang telah dipikirkan masak-masak atas kesadaran budhi yang cerah.

Di Indonesia pun ada Lembaga Bahasa yang menangani pembinaan bahasa agar masyarakat berbahasa yang berbudaya. Artinya, bahasa yang terekspresikan yang telah teranalisa oleh kecerdasan pikiran dan kesadaran budhi. Semua pihak seyogianya membantu lembaga bahasa tersebut agar menjadi lebih mampu berfungsi dalam membangun bahasa masyarakat. Dari peningkatan kwalitas bahasa bangsa itu akan dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa. Bahasa memiliki multifungsi dalam hidup ini.

Bahasa sebagai alat komunikasi hendaknya diekspresikan oleh masyarakat dengan dijiwai oleh Arsastava. Demikian juga bahasa sebagai kunci ilmu pengetahuan harus terus dikembangkan agar para ilmuwan lebih berhasil dalam mengembangkan ilmu tersebut membantu masyarakat men-ing katkan kwalitas hidupnya. Bahasa seharusnya diupayakan mampu menyampaikan gagasan-gagasan tentang penerapan tentang kebenaran agar teraplikasi menuntun kehidupan ini.

Weda Sruti dan Sastra Hindu lainya sudah banyak memberikan tuntunan pada umat agar berbahasa yang benar, suci, baik dan tepat. Seperti Nitisastra.V.3 mengingatkan karena bahasa yang diucapkan itu orang bisa dapatkan sahabat bahkan dapatkan kebahagiaan, karena bahasa itu orang mendapatkan musuh bahkan bisa menemui ajal. Karena itu berbahasalah atas analisa kecerdasan pikiran dan kesadaran budhi.

Bhagawad Gita XVII. 15 menyatakan kata-kata yang diucapkan janganlah menyakiti hati menyinggung perasaan orang lain (Anudwegamkaram wakyam), gunakan bahasa untuk menyampaikan kebenaran (Satyam), berbahasalah yang menyenangkan pihak lain (Priyahita). Untuk itu lakukanlah Wan-maya Tapa artinya betapa dengan ucapan. Untuk itu lakukan Swadhyaya yaitu belajar Weda dan berbhakti pada Tuhan secara mandiri. Abhyasananam artinya membiasakan semuanya itu sampai melembaga dalam diri.

Sarasamuscaya 75 juga mengajarkan agar dari bibir jangan keluar empat ucapan bahasa yaitu: ujar ahala, ujar pisuna, ujar mitya dan ujar apregas. Kata-kata jahat, fitnah, bohong dan kata-kata kasar. Itulah batasan berbahasa dalam ucapan.