Tradisi yang 'Mentradisi'

Umat agama lain sering memvonis agama Hindu di Indonesia sebagai agama tradisi atau agama bumi, bukan agama wahyu seperti agama-agama buku. Maklumat itu sering disampaikan secara oral maupun literer.

Apa daya? Agama Hindu di Indonesia memang multikultur, memang jamak dalam hal tata cara. Ada yang bersembahyang dipura, di altar pemujaan sendiri, bahkan di gua-gua dan gunung-gunung. Bukan di rumah ibadah yang seragam seperti agama-agama lain. Ada pura yang berisi puluhan palinggih, ada yang sedikit bisa dihitung dengan jari. Bahkan banyak kasus, pangempon pura atau pamerajan yang tidak tahu lagi palinggih apa saja "yang banyak" itu? Mengapa berbeda? Mengapa tidak sama dengan yang lain? Atau pertanyaan ini yang salah?

Tradisi, adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang dijalankan oleh masyarakat Hindu itukah biang kerok dari multikulturalisme agama Hindu? Mungkin saja. Agama Hindu tidak membatasi bagaimana jalan yang harus ditempuh untuk memujaNya. Maka "kebebasan" itupun berlangsung tanpa batas atas nama dresta (kebiasaan).

Adapun dresta (kebiasaan) itu, menyeruak tiada batas sesuai keyakinan masing-masing pemeluk agama Hindu. Entah karena dalih kuna dresta (kebiasaan yang sudah ada sejak dahulu kala), desa dresta (kebiasaan setempat pada sebuah desa), loka dresta (kebiasaan setempat dalam lingkup yang lebih sempit dari desa).

Namun demikian, bias-bias literer agama Hindu memberi diktrin yang tegas terhadap fenomena itu. Kitab Suci Bhagawadgita (IX. 18) memberi sudut pandang bahwa yang dituju dalam setiap pemujaan ialah Dia yang Esa. Begini bunyi sloka tersebut.

Gathir bharta prabhuh saksi,
Nivasah saranam suhrt,
Prabhavah pralayah sthanam,
Nidhanam bhijam avyayam

Artinya:
Aku adalah tujuan, penumpu, Iswara, saksi, tempat, sewaka dan teman. Aku adalah dasar dan pralaya, dasar, tempat ber-istirahat dan benih yang abadi.

Seloka tersebut dengan sangat jelas memberikan pemahaman bahwa Tuhan adalah asal mula yang menjadi tujuan, bukan yang lain. Bila demikian, mengapa cara-cara (yang berbeda itu) diperkenankan untuk dilaksanakan?

Prinsip cara-cara (yang berbeda itu) dipertahankan tiada lain karena penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan merupakan yang paling baik dan benar. Dengan ini pula tradisi itu mentradisi seolah sulit untuk ditinggalkan. Adat kebiasaan yang ditinggalkan turun-temurun seolah sulit untuk ditinggalkan.

Takut melanggar tradisi yang telah mentradisi itu, tiada lain disebabkan oleh doktrin alpaka guru (mengingkari nenek moyang) yang tabu untuk dilanggar. Kritisisisme intelektual tentu akan mempertanyakan apakah apa yang dilakukan oleh nenek moyang terdahulu sudah benar? Kalau pertanyaan itu dijawab, maka jiwa zaman akan membedakannya. Jiwa zaman terdahulu, tentu akan berbeda dengan jiwa jaman berikutnya. Konkretnya, cara hidup orang terdahulu tentu berbeda dengan cara hidup orang kemudian. Pada masa lalu orang tuanya mungkin hidup dengan bertani, generasi berikutnya hidup sebagai birokrat, pengusaha, atau profesional lainnya.

Meskipun demukian, apakah tradisi yang sekarang ingin dilaksanakan telah sesuai dengan tujuan beragama seperti tersurat dalam sloka Bhagawadgita (IX. 18)? Tentu perlu dipertanyakan lebih lanjut. Kritisisme akan diuji oleh kritisisme berikutnya. Alih-alih membangun tradisi baru dengan cara meninggalkan tradisi yang dicap telah mentradisi, jangan-jangan nantinya akan terjerumus oleh penghayatan sesat dari doktrin yang salah.

Meninggalkan dan menafikkan tradisi yang telah mentradisi pada masa lalu dengan membangun tradisi yang baru bukanlah tabu dalam agama Hindu. Namun, bila tradisi yang mentradisi itu telah benar kemudian dilanggar dengan semena-mena, tentu itu akan berakibat tertimpa alpaka guru yang mengakibatkan terhujamnya adi dosa.

Di dalam tradisi Hindu di Indonesia, kebenaran diputuskan dengan dasar yang disebut catur tah. Pertama dengan apa yang disebut gurutah, yaitu dengan mengikuti kebenaran yang disampaikan oleh guru yang dipercaya memiliki kemampuan dan menguasai kebenaran tertinggi tentangg agama. Kebenaran yang disampaikan oleh guru itu menempati kedudukan tertinggi karena disamping menguasai Kitab Suci dan kitab-kitab lainnya juga telah memiliki pengalaman yang teruji. Cara memperoleh kebenaran kedua disebut sastratah. Kebenaran yang tertuang dalam sastra dalam arti Kitab Suci dan kitab-kitab susastra lainnya dapat dipergunakan sebagai pedoman untuk memutuskan apa yang akan dilakukan dalam rangka membangun tradisi baru.

Kebenaran berikutnya dapat dilakukan dengan cara yang disebut swatah, yaitu kebenaran yang dirumuskan bersama sesuai tempat, waktu, dan keadaan (desa, kala, patra). Sedangkan cara yang terakhir yang disebut paroktah untuk memperoleh kebenaran bersifat individual, yaitu berupa kebenaran diri sendiri. Cara ini, baik diterapkan pada keadaan post mayor, dalam keadaan yang terpaksa. Atau mungkin saja, karena mengalami ekstase spritual pribadi.

Tradisi yang mentradisi, ter-patri dalam kehidupan sosio-religius bukanlah sesuatu yang tabu untuk diubah, direformasi untuk meluruskan tujuan sesung-guhnya. Di dalam hal ini, terdapat sloka yang menarik untuk diha-yati dalam Kitab Suci Bhagawadgita (IX.25) yang tersurat sebagai berikut.

Yanti devavrata devan,
Pitrn yanti pitrvrath,
Bhutani yanti bhutejya,
Yanti madyajino 'pi mam

Artinya:
Penyembah dewa-dewa akan pergi pada dewa-dewa, penyembah leluhur akan pergi ke leluhur pembuat yadny, pada bhuta akan pergi pada bhuta, dan mereka yang Artinya: Penyembah dewa-dewa akan pergi pada dewa-dewa, penyembah leluhur akan pergi ke leluhur pembuat yadnya, pada bhuta akan pergi pada bhuta, dan mereka yang beryadnya beryadnya pada-Ku akan datang pada-Ku.

Dengan sloka itu, teelah jelas-lah mana tradisi yang mentradisi yang harus ditaati dan mana pula yang boleh ditinggalkan. Siapa-kah dipuja, maka ke sanalah akan menuju.

Agama Hindu memang berbeda. Tiada akan sama. Bahkan ada adagium dalam beragama "tan wenang amada-mada", tiada diperkenankan mempersamakan. Jadi jangan meniru cara-cara yang lain kalau sudah ada cara yang benar. Tradisi yang mentradisi tidak selamanya salah, namun juga tidak semuanya benar. Untuk mencari kebenaran itu dapat dilakukan dengan menanyakannya kepada guru yang dipercaya (gurutah), kepada kitab sastra dan susastra (sastratah), dengan merumuskannya bersama-sama sesuai desa, kala, patra, (swatah) atau yakini kebenaran sendiri (paroktah). Jangan lupa tradisi yang mentradisi belum tentu salah, tetapi belum tentu juga benar!

Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada
Source: Wartam/Edisi 24/Pebruari/2017