Tradisi Mabarang, Memupuk Persatuan di Kalangan Pemuda

Tradisi mabarang menjadi prosesi yang paling ditunggu-tunggu kalangan pemuda Desa Adat Timbrah, Pertima, Karangasem. Seni budaya adiluhung yang masih dilestarikan warga setempat ini menyuguhkan khazanah budaya Bali kuno yang masih terpelihara hingga zaman ini. Mabarang kini tak hanya bersifat ritual rutin tiap tahun, tetapi mampu menjadi wadah guna memupuk persatuan di kalangan pemuda.

Pelaksanaan warisan budaya leluhur ini dilaksanakan setelah aci Usaba Sumbu Kaja, ketika Ida Batara tedun mabiaksa saat pangajengan ke tengah-tengah warga. Dalam proses mabiaksa ini, warga setempat menggelar tradisi mabarang di bale patemon selama empat hari. Tradisi ini sebagai bentuk Ida Batara masolah serangkaian Aci Usaba Sumbu yang berlangsung selama sepekan. Namun, ada juga pandangan lain yang menyebut pelaksanaan tradisi mabarang sebagai bentuk memohon berkah Ida Batara yang divisualisasikan melalui jempana. "Jadi, pada saat mabarang, seluruh pemuda berebut ingin menyentuh jempana itu, memperebutkannya, mereka larut dalam sukacita," kata salah satu tokoh masyarakat setempat Nengah Sudarsa.

Ia menegaskan, guna me-nyamakan persepsi terhadap rangkaian Aci Usaba Sumbu secara umum, maupun pelak-sanaan tradisi mabarang, saat ini sudah dilakukan penelitian secara khusus. Penelitian ini sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya desa set-empat, di mana saat ini Desa Adat Timbrah telah menjadi salah satu desa budaya di Karangasem. Namun, ia menekankan secara garis besar tradisi mabarang sarat dengan nilai-nilai luhur warga dengan Ida Batara, sebagai bentuk hubungan yang tidak bisa dipisahkan sebagai bentuk penghormatan dan menjaga kelestarian warisan budaya.

Dalam tradisi mabarang, Ida Batara makenak-kenakan bersama truna adat dengan masyarakat umum, khususnya kalangan pemuda. Ketika jempana itu diperebutkan antara truna adat dengan masyarakat umum. Mereka maambuh-ambuhan (makedeng-kedengan) di Bale Patemon dengan jempana itu. Di Desa Adat Timbrah, ada 15 jempana dan empat arca yakni arca Batara Gunung, Sakenan, Guliang, dan Tunggujalan. Namun, tidak semua jempana diikutkan dalam tradisi mabarang ini. Ke-15 jempana itu, antara lain jempana Ida Batara Muter Jagat, Ida Batara Muter Anom, Ida Batara Mayun, Ida Batara Bagus Sakti, Ida Batara Gedong Baas dan Ida Batara Nganten Tenganan. Kemudian, Ida Batara Gede Beten Bingin, Ida Batara Nganten Bungaya, Ida Batara Bukit, Ida Batara Maspahit Ida Batara Nganten Saren. Sementara empat jempana lainnya, antara lain jempana Ida Batara Bagus Aeng, Ida Batara Kelod Kangin, Ida Batara Ketut dan Ida Batara Kusamba.

Sebelum Ida Batara masolah, seluruh jempana dan arca itu kairing masucian ke Beji Kauh. Ida Batara kairing Prabagus, Pangabih, Pragaluh, Bapa Desa, Kubayan, Prawayah dan krama panti ditiga Pura Panti yang mundut jempana. Proses ini dilaksanakan sekitar pukul 15.30 wita. Setelah itu iring-iringan ini kembali ke areal desa kemudian memargi di areal desa sebanyak tiga kali. Di dalam ngiringan Ida memargi, barulah satu per satu satu per satu jempana itu diperebutkan di Bale Patemon.

Mabarang dilakukan para teruna adat bersama pemuda-pemuda di desa setempat. Mereka saat itu berkumpul di Bale Petemon atau juga biasa disebut Bale Lantang (panjang). Sementara itu, di sepanjang jalan berjejer warga perempuan mengenakan pakaian adat Bali, menyambut Ida Batara mabiaksa maupun saat masolah. Dalam tradisi mabarang, para pemuda yang tergabung di bagian timur Bale Lantang, akan bertarung sengit saat maambuh-ambuhan dengan truna adat di bagian barat Bale Lantang.

Saat iring-iringan yang sebelumnya melaksanakan mesucian ke Beji Kauh tiba di areal desa, riuh pemuda nampak sebagai bentuk kebangkitan semangat mereka, seakan tidak sabar melaksanakan ritual ini. Suara sekaa gong di sebelah barat Bale Lantang pun semakin keras bertalu-talu, pertanda Ida Batara sudah tedun ke areal desa. Tradisi mabarang menjadi ritual yang paling ditunggu-tunggu krama. Suasananya yang tegang, namun sesekali diselangi canda dan jatuhnya sejumlah pemuda saat menarik dan memperebutkan jempana itu, menyedot perhatian warga dan puluhan wisatawan mancanegara yang terlihat sibuk mengabadikan momen tersebut.

Sejumlah pemuda yang sempat diwawancarai mengatakan senang melakukannya. Mereka mengaku ada rasa senang setelah lama merantau ke kota, kemudian pulang kampung dan ikut mabarang bisa menyentuh jempana hingga memperebutkannya. Sementara jempana yang runtuh, disucikan kembali di-pundut dan malinggih kembali di masing-masing Pura Panti. Tokoh mayarakat lainnya, Nengah Sukada menambahkan, dengan tedunnya Ida Batara dalam proses mabarang, maka diharapkan warga selalu bisa hidup rukun dan sejahtera.

Karena dalam proses mabarang, juga terkandung nilai-nilai moral. Dengan per-tarungan sengit memperebut-kan jempana atau joli yang menjadi simbol Ida Batara, kedua belah pihak dilarang menyimpan dendam karena adu fisik atau oleh karena masalah apa pun ketika selesai melaksanakan tradisi mabarang.

Source: Bagiarta, Koran Bali Post, Sabtu Paing 5 September 2015