Tradisi di Ubun-Ubun Jagat "Danau di Atas Kepala"

Windu juga dimaknai oleh tradisi sebagai sebuah danau yang ada di ubun-ubun setiap kepala manusia. Pada Danau Windu itulah diyakini terdapat kumpulan air-hidup (amrta). Air Danau Windu dikatakan mengalir ke seluruh tubuh melalui sungai-sungai yang tiada lain adalah nadi-nadi. Ada banyak sekali sungai-nadi dalam tubuh. Namun demikian, diajarkan ada tiga sunga-nadi yang utama. Ada yang menyebutnya Ida, Sumsumna, Pinggala. Ada yang menyebutnya Suranadi, Gangga, Yamuna. Ada pula yang menyebutnya Brahma, Ishwara, Wishnu. Dalam lukisan-lukisan mistis, sungai-sungai itu digambarkan mengalir dari Danau Windu berkelak-kelok melewati gugusan Tujuh Gunung, akhirnya sampai di sebuah samudera yang terletak di bawah perut. Berbeda dengan sungai pada umumnya, sungai mistis ini bukan hanya jalan mengalirnya air dari atas ke bawah, juga sebagai jalan membubungnya api dari bawah ke atas.

Sebuah danau di atas kepala! Menarik sekali memang cerita tentang manusia yang kemana-mana membawa danau di atas kepalanya. Cerita menjadi lebih menarik lagi, ketika ada bulan purnama hinggap di danau ubun-ubun itu. Bulan Purnama itu juga diyakini sebagai perwujudan lain dari Windu. Air dan bulan memang selalu dipasangkan. Air itu wujud dari Amrta, dan bulan itu sumber dari Amrta. Keduanya turun menuju sebuah terminal bernama ubun-ubun. Dari terminal itulah air-kehidupan didistribusikan dalam kemasan mantra-mantra. Begitulah pakem ceritanya. Dan ini bukanlah cerita baru, melainkan kisah purba yang masih hidup sampai sekarang. Karena ternyata banyak orang melakoninya, maka cerita itu hidup terus, dan terus hidup, tidak mati-mati, sebagaimana amerta itu yang memang berarti ”tidak mati”.

Dari pakem cerita itu berkembanglah berbagai cerita yang dibuat orang tentang Bulan dan Air itu. Misalnya, ada cerita tentang orang yang menurunkan Bulan Purnama itu dari ubun-ubun menuju Hati. Di sana di dalam gua hatinya, Bulan Purnama itu disimpan sebagai layaknya intan permata mulia. Diyakininya intan itu sebagai kekayaan yang tidak akan bisa dicuri oleh orang lain. Bahkan kekayaan itu konon bisa dibawa sampai mati. Menarik sekali ketika membayangkan ada orang ke mana-mana selain membawa sebuah danau di atas kepalanya, juga menyimpan sebuah Bulan Purnama di dalam hatinya.

Itu baru satu cerita tentang Danau dan Bulan. Ada pula berbagai cerita yang dibuat orang tentang perjalanan air dari danau itu. Salah satu cerita menyebutkan ada orang yang menjulurkan lidahnya. Tujuannya agar ia mendapatkan air-kehidupan yang mengalir dari danau ubun-ubun, yang menetes melalui sungai rahasia yang ada di ujung hidung. Air kehidupan yang berhasil ia tampung di lidahnya itu, kemudian ditelannya. Disebutkan di dalam cerita, orang itu bahkan berusaha menekuk ujung lidahnya agar sebisa mungkin menyentuh ujung hidung. Tujuannya, barangkali agar tidak ada satu tetes Amrta pun yang terjatuh ke tanah.

Ada pula cerita yang lain. Ada orang menghidupkan api rahasia yang ada di dalam pusernya untuk membakar segala jenis mala dalam dirinya. Setelah upacara pembakaran itu selesai, ia turunkan air dari danau ubun-ubun itu untuk mematikan api. Sisa-sisa abu pembakaran digunakannya sebagai bhasma yang ditoreh di tengah-tengah jidatnya. Dan masih ada pula cerita yang lain, tentang orang yang mempertemukan Bulan Purnama dengan Matahari di dalam hatinya.

Tradisi Bali memiliki banyak cerita tentang apa yang disebut sungsang. Air mengalir dari atas ke bawah. Itulah salah satu rumus sungsang penciptaan. Atau, itulah salah satu kebenaran sungsang alam. Gerakan dari atas ke bawah itu disebut sungsang. Air kehidupan itu mengalir dalam posisi sungsang. Bahkan Danau Windu itu pun konon sungsang.

Apa yang disebutkan di atas adalah sekelumit cerita tentang jagat kecil yang bernama badan kasar dan badan halus. Tradisi juga memiliki banyak cerita tentang Danau, Amrta, Bulan, yang berhubungan dengan jagat besar. Di jagat besar bernama Bali, juga ada sebuah danau yang tersembunyi di balik kabut di sebuah ketinggian yang dingin. Entah sejak kapan Danau Batur itu terpilih oleh tradisi sebagai danau yang diposisikan di ubun-ubun (uttara) jagat.

Source: Ibm. Dharma Palguna l Balipost Minggu, 30 Mei 2010