Toya Pawitra

Di dalam teks Nawaruci ada percakapan yang sangat menarik yang perlu kita simak yaitu, percapakan antara Namaruci dengan Bhima yang dinyatakan demikian: kancit mijil sang hyang Acintya-pranesa sarwi angidung-ngidung, Masambhrama : "Bhagea sira, sang wrko-dara, Bhage kamayangan kita prapti mare ri ngong. Mangke ingong wruh ing kita. Melasaken kita, sang wrkodara, ta polih kita maguron-guron ring sri dang hyang Drona. Aja kita oliha kang sabda mahottama, apan kita denpet kapatianira". "bapa Nawaruci, ton sengganenati rasa dentamuwus iri ngon. Denkon mami amet kaanan ing banyu mahapawitra". "Aduh anakku sang Wrkodara, ta aha banyu mahapawitra, anging sang hyang trtha kaman-dalu, pinaka uriping dewata nawasanga, sang hyang amrtajiwani nga, uriping catur lokapala lawan panca rsi (Agastia:4).

Artinya: tiba-tiba datanglah Sang Hyang Acintya yang serba mengetahui sambil menguncarkan lagu suci. Beliau bersabda dengan manis, "selamatlah sang Wrekodara, selamat engkau datang ke-pada-Ku. Sekarang aku me-ngetahaui siapa engkau. Kasihan engkau berguru kepada Sang Hyang Drona dan tidak mendapatkan apa pun darinya. Janganlah mendapatkan pelajaran yang baik, tapi malahan engkau akan dibinasakan". Bapa Nawaruci, janganlah engkau berhiba hati berkata kepadaku. Aku disuruh mencari tempat air penghidupan". Aduh anakku sang Wrekodara, tidak ada air penghidupan kecuali oleh ku. Tidak ada air penghidupan selain air kamandalu yang dijadikan kehidupan Dewa Nawa Sanga. Air penghidupan itu disebut air amretajiwani dan menyebabkan Dewa Lokapa yang empat dan pancaresi hidup". Di dalam kitab Dewa Ruci air penghidupan disebut sebagai Toya Pawitra.

Bima yang dikisahkan dalam cerita ini, disuruh oleh gurunya Bagawan Drona untuk mencari air suci, tirta amreta ke sebuah tempat yang sering juga disebut dengan alas Tibrasara di daerah Candra-muka, yang dihuni oleh dua orang raksasa. Hal ini bisa dimaknai bahwa untuk mencari 'kesucian' dan 'kesejatian' seseorang harus melalui suatu proses kesengsaraan dan penderitaan di dalam kawah Candramuka dan bisa mengalahkan raksasa-raksasa itu yang pada hakikatnya melambangkan nafsu keserakahan dan kekurangan, demikian perumpamaan sering diberikan.

Tabrasara dalam budaya jawa bisa dimaknai bahwa kesengsaraan, kesedihan, kesusahan bermula dari keasyikan. Oleh sebab itu maka disarankan agar kita jangan terikat kepada keasyikan, kebercukupan itu, karena dia akan bisa juga menyebabkan kesedihan, kesengsaraan dan kemiskinan struktural (dimana seseorang selalau merasa kekurangan dan tidak pernah merasakan kepuasan). Bima akhirnya tahu bahwa air suci itu tidak ada di hutan, tetapi sebenarnya berada didasar samudra. Tanpa ragu-ragu sedikitpun dia menuju ke samudra. Ingatlah kepada perkataan Samudra Pangaksama yang berarti orang yang baik semestinya memiliki hati seperti luasnya samudra, yang dengan mudah akan memaafkan kesalahan orang lain.

Kisah kesucian ini menjadi sangat berarti bagi masyarakat Bali secara umum, dan juga telah membentuk peradaban Bali yang diwujudkan dalam berbagai bentuk kesenian baik dalam pewayangan, gaguritan maupun berbagai tarian, sentra tari kisah ini senantiasa dimunculkan oleh para seniman, demikian juga dalam ranah seni patung dan lukis. Dalam kebudayaan Jawa kisah ini juga tidak pernah dilupakan bahkan Gunung Pananggungan di Jawa Timur disebut dengan Gunung Pawitra karena memiliki kemiripan dengan gunung Semeru dan dilereng gunung terdapat beberapa peninggalan sejarah terutama patirta Jolotundo yang sangat terkenal itu.

Pragmatisme
Untuk memperoleh toya pawitra harus melalui suatu proses yang sangat sulit penuh dengan kesengsaraan dan ujian yang sangat berat, ketika ujian ini bisa dilalui maka ketika itu Dewa Ruci memberikan anugrah toya pawitra sebagai toya kesucian dan toya kehidupan, demikian cerita suci yang sudah sangat popular dalam masyarakat Bali. Namun belakangan ini banyak sekali kita melihat fenomena yang sebaliknya, bahwa kehidupan ini dilalui dengan pragmatism, paham yang serba cepat dan hanya untuk memenuhi kepentingan diri sendiri paham ini merupakan ikutan dari paham globalisasi, tidak hanya mempengaruhi tujuan hidup tetapi juga ideologi.

Tahap-tahap yang dilalui sering tidak melalui jalan yang semestinya dan cenderung mudah dengan berbagai jalan yang sangat menyimpang dari nilai-nilai yang ada. Ditinjau dari segala kebutuhan, manusia modern tidak lagi merasa cukup dipenuhi dengan kebutuhan primer, karena muncul kebutuhan baru seperti kenikmatan, keindahan, kebanggaan dan prestise, itulah sebabnya sering seorang tidak akan memperoleh toya pawitra, toya kehidupan yang abadi dalam dunia ini.

Setiap orang akan mendapat anugrah toya pawitra bila mentaati apa yang menjadi petunjuk sastra agama dengan disiplin, tekun, menghilangkan segala macam penyakit pikiran (benci, marah, loba dan sebagainnya) apabila semuannya bisa dikalahkan maka diyakini seseorang akan mendapat kemenangan dalam hidup ini dan akhirnya memperolah toya pawitra. Bagi seseorang yang mampu membebaskan dirinya dari rasa iri hati, dengki, sirik maka diyakini akan mendapatkan toya pawitra itu. Semoga.

Oleh: Ida Bagus Dharmika
Source: Wartam Edisi 15 Mei 2016