Toya Anyar

Siklus air memperlihatkan bahwa matahari sebagai sumber energi telah dengan setia dan disiplin menyinari air laut yang sangat luas itu, air laut kemudian menguap karena sinar itu, menjadi awan, titik air dan hujan. Air hujan jatuh ke bumi, mengalir menjadi air tanah, danau, sungai dan akhirnya kembali ke laut. Sebagai sebuah sistem daur air ini senantiasa bergerak tanpa pernah henti, yang memberikan implikasi terhadap kesejahteraan ma-nusia di bumi ini.

Sebagai penganut ekosentrisme yang berpandangan bahwa manusia adalah bagian dari sistem alam itu, manusia tidak bisa melespaskan diri dari fenomena alam. Bahkan para sastrawan, para panglingsir kita tempo dulu telah dengan arif menggambarkan fenomena alam ini dalam berbagai karya satranya, beliau senantiasa memperhatikan tentang keberadaan air yang difungsikan untuk kegiatan yadnya maupun untuk memenuhi kebutuhan seharihari masyarakat.

Sebagai contoh dapat digambar aktivitas-aktivitas ritual yang kemudian membentuk peradaban air yang dituangkan dalam berbagai karya sastra seperti yang termuat dalam kakawin Rasmi Sancaya sebagai berikut: Rarab ing mendung riris alit hatur camaniya sumrak rebuk ing pudak dawuh ing watw aputih ketelesan Iwirgandha mrik minging puspa ning pidada rurw anjrah ing pasisi sekambang uran ika wah lanyu. Artinya gerimis kecil yang ditaburkan oleh mendung bagaikan tirta pesucian yang dipercikkan. Sedangkan sari bunga pudak yang terurai jatuh di atas batu yang putih yang bersatu dengan air gerimis bagaikan bunga-bunga dalam pemujaan. Sungguh harum bunga pidada yang jatuh berserakan di pantai bagaikan bunga-bunga yang ditaburkan yang sangat indah. Bait kekawin ini memberikan gambaran tentang rasa hormat, rasa bakti terhadap dasar eksistesi air yang telah diwujudkan dalam kehidupan ini secara mentradisi.

Kita tentu telah menyadari bahwa dalam menjalankan kewajiban di dalam kehidupan ini tidak akan bisa jalan apabila tidak ada air, dan tentunya juga bahwa air tidak akan mengalir apabila tidak ada hujan, itulah sebabnya daur air sangat diperhatikan dalam hidup ini. Lebih lanjut manusia menciptakan nilai, norma dan aturan (sistem budaya) dalam menjaga kualitas air, ada beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan oleh umat, misalnya dilarang membuang kotoran ke air, berkata yang bukan-bukan, membuang kotoran dan kencing di air terutama air yang diam (tidak mengalir) karena akan memberikan pengaruh atau umpan balik tidak baik bagi kesehatan manusia, air sangat dihormati oleh umat Hindu. Sumber-sumber air sangat dijaga kualitas dan kebersihannya, dan juga larangan untuk menjual air. Masyarakat Hindu membuat peradaban melalui peradaban air yang telah dimiliki dan dijalankan dalam kehidupan ini, bahwa air itu tidak semata-mata sekala namun juga bisa dimaknai niskala oleh masyarakat Hindu di Bali.

Dalam Ayurweda bahwa air (udaka) sering juga dipergunakan untuk obat, atau pelarut yang menyertakan obat. Terutama air yang mendapatkan sinar matahari secara penuh pada siang hari dan sinar bulan pada malam hari air seperti ini yang sering disebut dengan air amasuda. Beberapa jenis air sangat diperhatikan oleh masyarakat terutama dalam aktivitas ritual, yang secara rutin difungsinnya sebagai toya anyar yaitu air yang diambil dari sumber-sumber air yang difungsikan untuk melengkapi upacara yadnya.

Dalam setiap desa Pakraman di Bali ditemukan beberapa sumber air yang difungsikan oleh masyarakat dalam rangka kegiatan yadnya yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di desa pakraman, terutama kegiatan ritual di tempat suci, merajan atau sanggah mereka masing-masing. Sumber-sumber air yang ada di desa pakraman ini sangat terpelihara dan disucikan oleh masyarakat desa pakraman. Ritual yadnya yang secara rutin dilaksanakan di pura kahyangan tiga dan juga pura lainnya yang dimiliki, telah juga memfungsikan toya anyar, toya ning, air suci ini untuk kegiatan melasti, ngemejiang, dan aktivitas lainnya di desa pakraman.

Aktivitas-aktivitas warga desa Pakraman dalam rangka mewujudkan rasahormat terhadap dasar eksistensi kepada air ini sangat nyata kita temui dalam kehidupan masyarakat Bali, hampir setiap saat dan kesempatan masyarakat mewujudkan rasa hormat itu. Danghyang Astapaka sebagai Maha Rsi yang membangun kesucian Bali telah mempunyai pesraman di Bukit Mangu, di desa Toya Anyar, sumber air suci yang difungsikan oleh masyarakat Bali. Demikian juga daerah yang memiliki sumber air sering menamakan daerah sumber air mereka dengan Toya Anyar.

Dalam masyarakat Hindu dikenal beberapa mithos tentang air, terutama yang berkaitan dengan korban suci. Dengan membuat sumber-sumber air seperti telaga, sumur adalah salah satu cara untuk berkorban terutama kepada tetangga, masyarakat secara umum. Dengan bersedekah air kepada tetangga, atau umat lainnya akan memberikan manfaat dan timbal balik bagi kehidupan peningkatan spiritual kita. Demikian juga usaha-usaha untuk menjaga kesucian dan kelestarian sumber-sumber air di desa pakraman terutama air yang senantiasa difungsikan untuk toya anyar bagi masyarakat terutama yang difungsikan pada saat yadnya akan memberikan manfaat yang besar bagi desa dan masyarakat yang bersangkutan.

Kearifan lokal yang secara mentradisi telah dilakukan oleh masyarakat lokal atau masyarakat desa pakraman di dalam melestarikan sumber air yang ada di desa itu, usaha ini harus tetap dilaksanakan. Adanya usaha-usaha yang menyebabkan masyarakat menjadi alienansi agar ditinggalkan, seperti misalnya menjual sumber-sumber air untuk kepentingan usaha kapitalisasi, komodifikasi terhadap air hendaknya perlu diwaspadai. Sumber-sumber air yang sudah dilestarikan oleh desa pakraman dengan berbagai bentuk yadnya dan usaha-usaha cerita rakyat (mithelogi), dan larangan lainnya untuk menjaga sumber air ini harus tetap dijalankan. Kebutuhan toya anyar yang difungsikan ketika kegiatan yadnya di rumah tangga, dan pura masing-masing adalah nyata dan semakin penting, oleh sebab itu menjadi kewajiban kita untuk menjaga sumber-sumber toya anyar itu, yang tentunya bisa diwariskan kepada generasai berikutnya.

Oleh: Ida Bagus Dharmika
Source: Wartam, Edisi 22, Desember 2016