Tirai Tipis: Uttpti Stiti Pralina

Uttpti-Stiti-PraIina, lazim disebut Tri Kona, yaitu tiga sifat Kemahakuasaan Tuhan (Sang Hyang Widhi). Menciptakan, memelihara, dan melebur ialah tiga sifat Kemahakuasaan Tuhan yang tiada ada luput dariNya. Ketiganya melekat dalam perwujudan Tuhan sebagai Tri Murti.

Sejak kelas dua sekolah dasar, pemeluk agama Hindu berusaha diperkenalkan dengan konsep tri murti. Pelajaran Agama Hindu Sekolah Dasar kelas II, materi bagian kedua mengajarkan tentang “Tri Murti”. Suatu konsep rumit dalam agama Hindu. (1) Materi pelajaran diawali dengan doktrin, bahwa sebelum memulai pekerjaan diawali dengan berdoa yang ditujukan kepada Sang Hyang Widhi. Sebelum belajar diawali dengan sembahyang memuja Sang Hyang Widhi untuk mohon doa restu dalam belajar.

Materi pelajaran lalu dilanjutkan dengan menguraikan (2) Pengertian Tri Murti; (3) Bagian Tri Murti; (4) Tri Murti dan Sakti-Saktinya (5) Cerita Dewi Uma; (6) Cerita Raja Bali dan Orang Cebol; diakhiri dengan (7) Rangkuman. Struktur didaktis seperti ini memang diarahkan untuk memahami pengembangan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan formal.

***

Apakah anak kelas dua telah telah memahami bentuk komunikasi triadik dalam konsep tri murti usai mempelajari materi pelajaran itu dalam pendidikan formal di sekolah dasar? Ekspektasi untuk itu sebaiknya ditinggalkan saja karena sedemikian susahnya memahami bagaimana esensi “Yang Tunggal” menjadi “Yang Banyak” dan “Yang Banyak” Menjadi “Yang Tunggal” seperti “the thingker” yang berusaha memahaminya sambil natakin jagut sepanjang hidupnya.

Brahman “Yang Tunggal” lalu menjadi tri murti “Yang Banyak” pada saat yang bersamaan “Yang Banyak” nikel menjadi “Yang Tunggal”. Konsep ini berhubungan dengan konsep yang disebut “dik widik” dalam agama Hindu atau “padama kuncup dan padma mekar”. Pelaksanaan agama Hindu di Indonesia, memahami konsep tersebut dengan merealisasikannya dalam bentuk konkret, tidak melulu dalam tataran filsafati yang hanya hidup di dalam tekstologi. Namun, diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai kegiatan kontemplatif dengan perwujudan bentuk-bentuk fisikal sebagai realisasinya. Hildred Geertz menyebutnya dengan pengandaian yang tepat: what is philosophy Java, is theater in Bali. Apa yang diformulasikan dalam bentuk filsafati agung di Jawa, diwujudnyatakan atau direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari di Bali.

Setiap jenis upacara yang dilakukan dalam kehidupan beragama oleh pemeluk agama Hindu di Indonesia senantiasa mewujudkan konsep utptti, stiti, dan pralina. Sekecil apapun bentuk upacara itu. Semua bentuk kegiatan upacara yang dikelompokkan menjadi upacara bhuta yadnya, manusa yadnya, pitra yadnya, rsi yadnya, dan dewa yadnya atau lazim disebut panca yadnya selalu direalisasikan dalam kontemplasi dengan memuja tri sakti dalam wujud “KemahakuasaanNya”. Tidak hanya itu, kontemplasi berkelanjutan dengan perwujudan “nawa sanga Setiap piodalan di pamerajan atau di pura, simbol-simbol dewata nawasanga lengkap dengan kober 9 warna dan sembilan senjata dihadirkan untuk memuliakan “Yang Banyak” sekaligus “Yang Satu”. Manggala Karya merealisasikan simbol-simbol “Yang Banyak” dan “Yang Tunggal” itu dengan berbagai simbolis benda-benda sakral dilengkapi dengan banten yang cukup. Kemudian Sang Yajamana melakukan puja uttpti-stiti-pralina dalam siklus upacara itu.

Dengan demikian, setiap upacara yang dilakukan sesunguhnya berhubungan komunikasi triadik yang intens. Tidak saja dalam tataran komunikasi visual, namun juga dalam konstelasi komunikasi spiritual. Di sanalah terjadi bangun kontemplasi yang diwujudkan oleh komunikasi spiritual triadik. Pertama antara Manggala Yadnya, Yajamana, dan Tapini, serta masyarakat pendukungnya (pamedek). Selanjutnya antara individu masing-masing menatah kontemplasi dengan sarana dan prasarana banten sebagai pangurip simbol-simbol semesta filsafat “Yang Banyak” dan “Yang Tunggal”. Sehingga terjadilah “ramya” menuju “sunya” sebagai wujud hakikat kehidupan. “Yang Banyak” menimbulkan “ramya ” lalu “Yang Tunggal” merefleksikan “Yang Tunggal” karena hakikat kehidupan sesungguhnya merupakan ralisasi “dinamika menuju kedamaian”, menuju shanti lan jagddhita.

Susastra Hindu mewartakan bahwa uttpti-stiti-pralina atau tri kona sebagai sifat Kemahakuasaan Tuhan. Tiada tempat, tiada ruang, dan tiada waktu yang luput dari pengaruhnya, bahkan benda berwujud (maunsia dan seisi alam semesta) maupun tiada wujud (maya) pun tidak luput dari kendalinya. Bayang-bayangNya selalu menyertai denyut kehidupan manusia dan alam semesta.

Apalagi dari sudut pandang sosio-religius tirai tipis uttpti-stiti-pralina menunjukkan bahwa hakikatnya tiada terbantahkan sehingga memunculkan adagium yang mudah dipahami. Lahir-hidup-mati adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh siapapun. Manusia, alam semesta, bahkan para dewa sekalipun. Tiada yang abadi di dunia ini.

Namun, oleh karena ada yang mati, lalu ada yang lahir dan hidup dalam spektrum tertentu, maka adagium itu diperhalus dengan apa yang disebut perubahan (changes). Semua pada gilirannya akan berubah sepanjang waktu. Bahkan ada yang menyebutkan “yang kekal itu sesungguhnya perubahan.

Apa benar begitu? Tentu saja perspektif sempit akan menyebutkan demukian adanya. Bagi agama Hindu “perubahan” memang akan terjadi terus-menerus sepanjang waktu. Akan tetapi, “perubahan” itu bukan tiada berulang. Konsep “cakra ning gilingan” roda perputaran kehidupan memang selalu berubah. Di dalam perputaran “cakra ning gilingan” itu ada yang berubah dan ata yang luput dari perubahan.

Siapakah yang tidak berubah itu?

“Sesuatu” yang tidak berubah itu sesungguhnya nampak jelas dari tirai tipis uttpti-stiti-pralina. Hakikat Brahman, Tuhan yang Mahaesa lagi Mahakuasa itu tidak akan pernah berubah sepanjang waktu, sepanjang zaman, bahkan melintasi pralaya. Setelah sekian manwantara memang segalanya akan melesap kembali ke Diri Brahman sehingga terjadilah (pralina). Setelah itu, setelah satu putran penciptaan (uttpti) dilebur (pralina)—maka penciptaan (uttpti) dimulai lagi. Setelah penciptaan (uttpti) usai, maka dimulailah pemeliharaan (stiti). Begitulah selanjutnya, akan terjadi lagi peleburan (pralina) untuk kemudian dilakukan proses penciptaan (uttpti), lalu pemeliharaan (stiti) dan (pralina). Inilah bunyi mantram

Om. narayana evedam sarvam
yad bhutam yac ca bhavyam
niskalanko niranjano nirvikalpo
nirakhyatah suddo deva eko
narayana na dvityo sti kascit

Artinya:
Ya Tuhan, Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, kotoran, perubahan dan tak dapat digambarkan. la yang satu tidak ada yang kedua yaitu Narayana.

Tentu saja untuk memudahkan pemahamannya, perubahan zaman menjadi contoh yang paling mudah. Kalau orang melihat dokumen masa lalu pada zaman dravida (zahiliah), zaman “kegelapan) maka orang akan menganggap mereka itu “bodoh”, animis, pemuja berhala, tidak percaya akan Tuhan dan seterusnya. Akan tetapi, bagi agama Hindu, setiap zaman memang “berubah” sesuai karakteristiknya. Oleh karena itu, Srimad Bhagavatam skanda 7 bab 5 sloka 23 menyebutkan:

sravanam kirtanam visnoh
smaranam padasevana
arcanam vandanam dasyam
sakhyam atmanivedanam

(Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, dapat dilakukan dengan cara sravanam (mendengar tentang Tuhan dan lila-Nya atau kegiatanNya), kirtanam (memuji Tuhan), smaranam (mengingat-ingat Wujud Tuhan), padasevanam (menyentuh atau melayani kaki padma Tuhan), arcanam (melakukan pemujaan dengan perantara area), vandanam (berdoa dengan membaca sloka-sloka), dasyam (mengabdi dan sebagai pelayan Tuhan), sakhyam (melakukan bhakti dengan cara menganggap Tuhan sebagai sahabat atau kawan), dan atmanivedanam (menyerahkan diri kepada Tuhan tanpa mengharapkan sesuatu).

Oleh karena itu, dengan cara apapun orang memuja Tuhan, jangan dicemooh atau dipersalahkan karena sesungguhnya Tuhan menerima dengan cara apapun manusia memujaNya.

Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada
Source: Majalah Wartam, Edisi 40, Juni 2018