Tinta Emas Kekawin Sutasoma

Rwaneka dhatu winuwus wara Buddha Wiswa bhinneki rakwa ring apan keparwwanosen mangkang
Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa

(dikatakan bahwa yang terpilih, Buddha dan Wiswa (Siwa), merupakan dua elemen dasar, tidak tunggal terpisah itu konon, karena dapat segera dibagi dua (padahal) dalam pada itu ke-Jina-an (ke-buddha-an) dan kebenaran Siwa itu tunggal, itu terpisah (tetapi juga) tunggal, tak ada kebenaran yang mendua).

Sepenggal baik Kekawin Sutasoma atau juga disebut Purasadanasanta karya Mpu Tantular berintikan dualism ajaran Siwa dan Buddha berhakekat sama. Dualisme yang saling melengkapi. Bagi penganut salah satu ajarnnya, disarankan saling menyelami ajaran satunya untuk mengecap manis raka kesempurnaan. Seperti tubuh bagian kiri dan kanan beriringan, walau di India penganut Siwa dan Buddha awalnya bertentangan seperti air dan minyak.

Mpu Tantular hidup pada abad ke-14 era Majapahit merangkai ajaran suci kemanunggalan itu dalam bentuk tembang berkisah perjalanan suci Sutasoma. Kakawin Sutasoma merupakan olah kreatif manusia Nusantara. Kearifan yang lahir di tanah Nusantara menginspirasi founding father bangsa Indonesia untuk menjadikan sepenggal kalimat Kekawin Sutasoma, “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi semboyan yang ditorehkan pada pita cengkraman Garuda Pancasila. Di sana tergantung harapan agar perbedaan keberagaman, kultur, etnis, ras, golongan, dan agama di Indonesia dapat hidup harmonis.

Kini ketika perbedaan suku, ras, agama, golongan dijadikan alat memupuk disharmoni, konflik dan permusuhan. Ketika perbedaan sungguh berbeda, bukan integral satu sama lainnya. Generasi degradasi toleransi. Generasi tersandera ruang maya fanatisme. Menusia pecemburu, selalu takut jika minoritas menjadi mayoritas. Melihat fenomena tersebut, perlu kiranya kembali bernostagia dengan nilai-nilai ajaran Sutasoma secara utuh yang (sengaja) dilupakan.

Dahulu, entah mengapa dan bagaimana pena imajinasi Mpu Tantular membedah inti perbedaan Siwa dan Buddha. Kemudian menjadi sejarah agung pemberi nuansa damai bagi orang atau masyarakat yang sungguh-sungguh mengimplementasikan ajaran itu tanpa harus melihat golongan atau agama mana ajaran itu muncul.

Kakawin Sutasoma merupakan kumpulan tembang puja berkisah seorang bernama Sutasoma. Sutasoma berarti putra Soma atau keturunan Soma. Ia merupakan keturunan Dinasti Candra atau Dinasti Soma. Perilakunya menyejukkan seperti cahaya bulan purnama. Dinasti Soma atau Dinasti Candra merupakan leluhur Raja Bharata. Raja Bharata merupakan Raja Kuru. Itu juga leluhur dari Pandawa. Sutasoma dikenal sebagai ksatria berdarah Pandawa, putra Prabhu Mahaketu.

Sutasoma melepas belenggu duniawi, mencari pencerahan dan kebenaran tunggal dalam keberbedaan. Ia meninggalkan istana, keluarga, dan harta benda demi pencerahan. Kisahnya mirip kisah Buddha. Ia diyakini titisan Buddha penyelamat dunia dari kejahatan. Ia ditundukkan angkaramurka di muka bumi. Ia protagonis yang berhasil memberi pencerahan tokoh antagonis seperti Gajah Muka, Naga Raja, Macan dan Raja Purusada. Semua tunduk menjadi muridnya. Raja Purusada awalnya sebagai raja bijak, kemudian menjadi bengis pemakan manusia, akhirnya kembali dijadikan manusia tercerahkan.

Sutasoma tak membunuh musuhnya, walau diserang bertubi. Ia ikhlas menawarkan jiwa raga pada musuhnya. Sejatinya membunuh musuh sangatlah gampang dilakukannya. Sutasoma manusia sakti mandraguna titisan Sang Buddha. Ia penuh kasih seperti dinamika air lemah gemulai membentuk batu karang keras menjadi indah.

Mpu Tantular lihai meramu kisah Sutasoma dengan menyisipkan penyatuan ajaran Siwa dan Buddha. Hasil riset Tantular ini sangat penting sebagai bahan renungan dalam dualism diri maupun dunia yang selalu tampak bertentangan dan dipertentangkan. Kini masih juga diminati oleh penggiat sastra Jawa Kuna, terbukti masih sering dilantunkan dalam aktivitas religious di Bali. Tentunya sampai kini tetap setia menjadi sesanti Bangsa Indonesia. Inilah kehebatan Kakawin Sutasoma menembus ruang dan waktu hingga masih relevan walau lahir dari Rahim Jawa Kuna yang bahasanya telah mati.

Sekali lagi, Kekawin Sutasoma tak hanya menyajikan kisah penyandera imajinasi. Di dalamnya terdapat ajaran kesempurnaan dan toleransi tinggi. Mari sejenak tak hanya bernostalgia, mengenal dan mengetahui isi Sutasoma, namun berlanjut memahami, mengamalkan, dan menjadi Sutasoma itu sendiri. Apakah Anda sudah menjadi Sutasoma? Mari kita tanyakan pada diri.

Oleh: I Made Arista
Source: Majalah Wartam, Edisi 27, Mei 2017