‘The Golden Management’ Hindu

Manajemen adalah suatu fenomena yang telah ada sejak adanya seseorang menggunakan orang lain untuk memenuhi keinginannya. Dalam hal seni, manajemen merupakan suatu keterampilan seseorang untuk mencapai hasil nyata sesuai dengan yang diharapkan. Jadi hakekat seni dalam menajemen adalah suatu keberhasilan yang nyata dan baik walaupun sifatnya relative (tergantung pada orang, waktu, tempat, dan keadaan).

Dewasa ini manajemen juga telah dipandang sebagai sebuah ilmu karena telah dapat memenuhi kaidah-kaidah keilmuan, yaitu dapat diuraikan secara sistematis, mengandung prinsip, dalil, rumus, hukum, dan teori yang diperoleh dari hasil pengalaman, pengamatan, pemikiran, dan penelitian secara objektif, universal serta dapat dibuktikan kebenarannya berdasarkan kenyataan yang ada. Artinya ilmu, adalah sesuatu yang didapat dipelajari dan diajarkan sedangkan hakekat ilmu, adalah sebagai suatu kenyataan yang objektif, logis, dan universal.

Oleh sebab itu betapapun majunya manajemen sebagai suatu ilmu sifat seninya tidak mungkin hilang, manajemen akan tetap selaku ilmu yang berseni (artistic science) disamping seni yang ilmiah (scientific art). Orang memimpin apa saja asal tahu apa yang diperlukan dan dapat memenuhinya sehingga akan menjadi seorang pemimpin yang baik. Seseorang yang memimpin usaha swasta dan atau pemerintahan hanya berbeda dalam lingkupnya saja tetapi dalam banyak hal sama.

Dalam teori modern, Follet (1940) mendefinisikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Sedangkan Stoner (1988) mendefenisikan manajemen sebagai suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan berbagai sumber daya organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang diinginkan. Defenisi manajemen seperti ini yang dikemukakan oleh Stoner tersebut pada dasarnya sependapat dengan defenisi manajemen yang dikemukakan oleh Tery (1944) yang menyatakan, bahwa manajemen sebagai suatu tindakan untuk melaksanakan sesuatu melalui orang lain. Artinya tindakan tersebut melalui perencanaan dan pengorganisasin, pengarahan, dan penggerakan serta koordinasi dan pengawasan.

Disimpulkan manajemen akan selalu berhubungan dengan segenap usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan diharapkan melalui orang lain berdasarkan target terhadap sasaran-sasaran tertentu dengan menggunakan stategi yang dibuat berdasarkan prinsip-prinsip manajemen ilmiah dan praktis serta dengan mudah memanfaatkan berbagai fasilitas dan sumber daya yang tersedia dengan sebaik-baiknya.

Nah, dalam agama Hindu manajemen intinya terletak pada kepemimpinan. Meskipun istilah manajemen kalau ditelaah secara lebih mendalam, sebenarnya memiliki perbedaan dengan istilah kepemimpinan, walau keduanya sulit untuk dipisahkan. Kepemimpinan intinya adalah suatu system yang mengoordinasikan kemampuan untuk mengadakan perencanaan dan kemampuan menggerakkan, serta dapat mengadakan pengendalian atau pengawasan. Ada juga yang mengatakan kepemimpinan adalah tindakan- tindakan seseorang menurut tugas dan fungsi pokoknya bagi seorang pemimpin. Selain itu, kepemimpinan juga merupakan seni untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau manusia sehingga tergerak untuk mengikuti kemauannya dengan ikhlas untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam Nitisastra terdapat nilai-nilai kepemimpinan yang universal, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, baik laki-laki ataupun perempuan. Oleh karena itu akan selalu relevan untuk tempat dan waktu dimana saja dan kapan saja. Nilai-nilai kepemimpinan dalam Nitisastra lebih dari sekedar sumber filsafat (tattwa), etika/moral (susila), karena di dalamnya terkandung pula nilai-nilai spiritual untuk mencapai kebahagiaan yang tertinggi (moksartham jagadhita ya ca iti dharma).

Seorang pemimpin sebuah organisasinya tidak lepas dari kepemimpinan handal yang ada pada dirinya sendiri, juga tak bisa lepas dari pengendalian diri atau control panca indrianya sendiri, baik jasmani maupun rohani. Batapapun pandainya, jika tanpa pengendalian diri, tanpa keseimbangan jiwa dan memiliki kecerdasan spiritual, maka dipastikan berdampak merosotnya tujuan organisasi. Kita bisa belajar menjadi pemimpin dari para tokoh masa lampau yang diuraikan dalam kitab-kitab suci Veda atau naskah-naskah suci kuno. Misalnya saja Yudistira dalam Mahabharata, merupakan pemimpin yang menjalankan manajemen pengelolaan Negara sesuai ajaran agama Hindu yang dianutnya. Yudistira seorang raja yang baik, terbukti kehidupan rakyat Indra Prastha yang makmur. Benteng pertahanan Indra Prastha yang kuat dan ia memiliki para pendamping yang siap membantu jalannya pemerintahan, seperti Bima, Arjuna, Nakula, Sahadewa, dan para Resi Bhagawan sebagai penasehat.

Suatu ketika Yudistira pernah kehilangan control diri, ia kehilangan pengendalian diri dan keseimbangan jiwa serta spiritualnya. Pada saat itu ia diundang untuk bermain dadu, melawan raja Gandara Sakuni, Yudistira menerimanya dengan cepat. Sudah beberapa kali kalah, dan harta yang dipertaruhkan sudah banyak pula, sebenarnya itu sudah cukup menjadi petunjuk. Namun semakin menjadi-jadi, sampai-sampai ia mempertaruhkan kerajaannya. Hanya karena kurangnya pengendalian (control), terburu nafsu menggebu dan hilangnya keseimbangan jiwa serta kehilangan kecerdasan spiritualnya, maka Yudistira kehilangan Indra Prasta di meja judi, atas akal bulus raja Gandara Sakuni.

Cerita tersebut mengandung makna bahwa hendaknya pemimpin tidak kehilangan control diri dan keseimbangan serta harus kuat spiritualitas pada dirinya dalam memimpin. Di atas pundak seorang pemimpin terletak tanggung jawab yang berat. Di tangan pemimpin tergenggam nasib semua orang yang ada dalam organisasi, jika pemimpin gagal dalam memimpin, maka organisasi bisa akan menjadi hancur, dan anggota organisasi bisa menjadi sengsara. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV, 51-56) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang ideal. Maka Asta Brata itulah yang merupakan ajaran dari Manawa Dharmasastra VII.3-4 sebenarnya merupakan The Golden Management dalam ajaran Hindu.

Oleh: Prof. I.B. Raka Suardana
Source: Majalah Wartam, Edisi 27, Mei 2017