Teropong Astrologi 20-05-08

20 Mei 1908 dalam astrologi Hindu jatuh pada Budha Pon Watugunung dan pada waktu itu adalah transisi dari sasih Jyesta ke sasih Sada dalam Surya Pramana. Sasih Jyesta dan Sasih Sada, dalam nama-nama bulan masehi ada dikisaran bulan April-Mei. Pada teks atau Lontar Wariga Sasih Jyesta-Sada, dalam padewasaan disebut sebagai sasih Mala yaitu sasih yang kurang baik dipergunakan dalam upacara Panca Yajna, baik itu Dewa Yajna, Pitra Yajna, Manusa Yajna, Rsi Yajna juga Bhuta Yajna. Dan dibulan April-Mei adalah musim transisi dari musim hujan ke musim panas.

Posisi matahari condong ke Utara atau pergerakan matahari condong ke Utara yang disebut Uttarayana. Karena posisi dan pergerakan matahari, serta masa transisi musim itulah Teks Wariga memandang sasih itu sebagai sasih Mala, sasih yang kurang menguntungkan dalam peredaran musim. Banjir besar serta panas yang luar biasa, dan banyak orang sakit karena cuaca yang tiada menentu, itulah awalan transisi ini. Dengan demikian dari posisi Surya Pramana, 20 Mei 1908 termasuk pedewasaan yang kurang menguntungkan.

Selanjutnya dari sisi Astrologi Kalender Pawukon, 20 Mei 1908 jatuh pada Budha Pon Watugunung, dikaitkan dengan perayaan atau hari suci Hindu, Budha Pon Watugunung adalah salah satu rangkaian dari hari raya Saraswati. Rangkaiannya adalah I (pertama) disebut Kajeng Kliwon Pamelas Tali, jatuh pada Redite Kliwon Watugunung, yang ke-II (dua) disebut Candung Watang jatuh pada Coma Umanis Watugunung, yang ke-III (tiga) disebut Urip Adawuh jatuh pada Anggara Pahing Watugunung, yang ke-IV (empat) disebut Urip Kalantas, jatuh pada Budha Pon Watugunung, yang ke-V (lima) disebut Penegtegan jatuh pada Wrehaspati Wage Watugunung, yang ke-VI (enam) disebut Pangredanan jatuh pada Sukra Kliwon Watugunung, yang ke-VII (tujuh) disebut Saraswati yang jatuh pada Saniscara Umanis Watugunung, dan yang ke-VIII (delapan) disebut Banyu Pinaruh yang jatuh pada Redite Pahing Sinta. Dari 8 (delapan) rangkaian hari raya Saraswati tersebut Budha Pon Watugunung disebut Urip Kalantas. Urip Kalantas artinya kehidupan yang berkelanjutan.

Terkait dengan 20 Mei yang diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional, dari sisi teropong kalender pawukon adalah momen tepat seagai tonggak awal peringatan Kebangkitan Nasional. Oleh pendahulu bangsa pemilihan padewasaan Budha Pon Watugunung mempunyai harapan yang cerdas agar kesinambungan pembangunan manusia terus berjalan, dengan harapan selalu bangkit dari keterbelakangan (urip kalantas). Dalam mitologi Watugunung Runtuh, yang kebetulan juga bertepatan dengan wuku 20 Mei 1908 yaitu wuku Watugunung, diceritakan raja Watugunung yang karena kesalahannya dia tumpas oleh para Dewa, namun demikian berkali-kali dibunuh, selalu raja Watugunung hidup kembali.

Mitologi ini menginspirasi dari rentetan sejarah bangsa Indonesia yang berkali-kali dijajah oleh para penjajah bangsa selalu bangkit dan berjuang untuk selalu merdeka, bebas dari penjajahan, bebas dari keterikatan bangsa lain yang memiskinkan bangsa dan negara Indonesia. Dengan demikian sekali lagi, jika dikaji kata urip kalantas, urip itu artinya kehidupan, dan kehidupan yang dimaksud adalah pembangunan disegala bidang. Kalantas mempunyai arti selanjutnya atau berkesinambungan tanpa putus. Ini sebagai tonggak awal Kebangkitan Nasioal menginspirasi bangsa kita untuk selalu melek, eling atau ingat bahwa perjuangan sebagai bangsa tidak akan pernah tidur atau berhenti untuk berjuang dan berjuang. Itu pesan moral yang dititipkan oleh para pendiri bangsa ini kepada generasi berikutnya, maka acap kali peringatan dilakukan kita harapkan selalu urip kalantas lanjutkan perjuangan, karena perjuangan bangsa tidak akan pernah berhenti disatu titik, melainkan terus mengalir. (semoga).

Oleh: Ida Kade Suariloka
Source: Majalah Wartam, Edisi 27, Mei 2017