Teologi Menurut Kuturan Tatwa

Sumber naskah tradisional Bali kuno yang sarat dengan petuah ajaran agama Hindu serta mengandung nilai sejarah ataupun nilai budaya Bali salah satunya adalah Kuturan Tatwa. Sumber ini berawal dari sebuah Prasasti Babad Tatwapurana Balidwipa yang menggunakan bahasa Bali Kuna, yang pada bagian awalnya, pada bagian tertentu, dan pada bagian akhir juga ada memakai bahasa Sanskerta. Naskah ini banyak menceritakan kondisi masa lalu Pulau Bali, terutama pada masa kerajaan-kerajaan di bawah keputusan raja Sri Mayadenawa.

Juga diceritakan mengenai masa beberapa raja di Bali seperti : raja Sri Haji Sri Wira Dalem Kesari, raja Sri Ugrasena, raja Sri Candrabhaya Singha Warmadewa, raja Sri Dharma Udayana Warmadewa dengan permaisurinya Ratu Mahendradata Ounapriya Dharmapatni, raja Paduka Haji Sri Dharmawangsa Wardhana Marakatapangkaja Sthana Utanggadewa yang memerintah Bali tahun 944 saka. Maka berikutnya kekuasaan raja Bali dipegang oleh Sri Haji Anak Wungsu lalu digantikan oleh Ratu Sakalendu Kirana lalu digantikan oleh Sri Siradhipa.

Masa seterusnya adalah Sri Jayasakti lalu digantikan oleh Sri Haji Jayapangus, kemudian putra Beliau sebagai penerus bernama Sri Maharaja Ekajaya Lancana sampai pada tahun 1122 saka. Maka selanjutnya yang memerintah adalah raja Sri Adhikuntiketana yang berputra kembar sekaligus menggantikan tampuk pemerintahan Bali yakni Danadhirajaketana dan Sangdana Deiviketu yang sering digelari Masula-Masuli pada tahun 1126 saka, lalu putra Beliau bernama Adhi Dewalancana akhirnya menggantikannya.

Dalam masa berikutnya bahwa raja yang bergelar Bhatara Parameswara Sri Hyangning Hyang Adhidewalancana dapat ditundukkan oleh raja Singasari yakni Prabhu Kretanagara bersama para patihnya. Tampuk berikutnya dipegang oleh raja Patih Kebo Parud, raja Sri Dharma Utungga Warmadewa, raja Sri Tarunajaya, raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten, yang akhirnya pada tahun 1265 saka kerajaan di Bali dikalahkan oleh kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Kriyan Patih Gajah Mada.

Dikisahkan dalam sumber naskah Kuturan Tatwa bahwa pada masa pemerintahan Sri Mayadenawa kondisi kehidupan beragama Hindu di Bali Dwipa sangat terganggu dan tidak kondusif. Banyak kahyangan atau tempat-tempat suci, seperti pura rusak dan hancur berantakan. Namun saat itu syukurlah ada raja yang memerintah Bali bernama Sri Haji Sri Wira Dalem Kesari beserta para Arya, pandita Siwa-Buddha dari India Selatan melakukan perbaikan dan renovasi tempat-tempat suci, yang pada akhirnya dapat kembali menjadi baik serta dapat berfungsi seperti sedia kala. Kondisi saat itu dapat dikendalikan dengan baik dan tertata secara rapi, oleh karena Beliau merupakan cikal bakal raja Bali yang memiliki pengetahuan tentang kebenaran tertinggi, yang disebut sebagai awataranya Sang Hyang jina.

Saat itu pula bahwa kehidupan beragama Hindu dapat berjalan secara harmonis. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa perayaan suci agama Hindu dengan asuhan dari panitia Siwa-Buddha, di antaranya: perayaan hari suci pada Budha Kliwon Sinta yang tujuannya untuk mengupacarai benteng kekuatan dengan perayaan Pagerwesi. Jenis perayaan suci lainnya adalah berupa perayaan pada Saniscara Kliwon Landep yang bertujuan mengupacarai bala tentara perang.

Perayaan lainnya berupa upacara untuk arwah yang gugur di medan pertempuran berupa upacara atau perayaan suci pada Saniscara Kliwon Wariga yang hingga kini dirayakan sebagai Tumpek Uduh. Perayaan lainnya adalah berupa Gulungan pada Budha Kliwon Dungulan dengan cara mengumpulkan sarin tahun sebagai upeti. Perayaan Galungan diawali dengan Sugihan Bali Wraspati Umanis Sungsang (mungkin yang dimaksudkan adalah Wraspati Wage Sungsang) dengan sarana haturan yang ditujukan kehadapan Sang Hyang Widhi dan Dewa-Dewata yang dimeriahkan dengan tarian Bali berupa Baris Jojor, Baris Presi, Baris Wangkang, Baris Cina, Baris Dapdap, serta tarian Bali lainnya.

Dalam meningkatkan terhadap kehidupan beragama Hindu di Bali, maka banyak didirikan tempat-tempat suci di Bali seperti :Pura Tirtha Empul di Tampaksiring, Pura Penataran Sasih, Pura Samuantiga, serta pura lainnya yang dibimbing serta didampingi oleh para rohaniawan Hindu dari Siwa-Buddha. Pada saat itu juga sangat banyak berkembang paksa agama Hindu, seperti: Agama Saiva Siddhanta, Pasupata, Bairawa, Wesnawa, Boddha, Brahmana Resi, Sora, Ganapatya, Indra, Bayu, Kala, dan sebagainya yang sama-sama memiliki pendapat yang berbeda-beda dalam menjalankan upacara agama serta perayaan suci agama. Namun demikian dengan kearifan raja Sri Hari Udayana Warmadewa akhirnya segera mengundang Mpu Kuturan ke Bali sekitar tahun 923 saka, tepatnya pada Budha Kliwon Pahang paro terang ke-6 dapat mendarat di teluk Padang Bali.

Setibanya di Bali, maka Mpu Kuturan melakukan mahasabha antara penganut Siwa-Buddha dengan penduduk Bali Aga guna mewujudkan berdirinya desa pakraman yang dilengkapi dengan tempat suci berupa kahyangan tiga, seperti: Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem di setiap desa pakraman di Bali. Mpu Kuturan juga mengajarkan tentang catur agama, catur lokikhabhasa, membangun Sanggah Kamulan untuk setiap rumah tangga, termasuk juga parahyangan lainnya berupa pura ibu, dadya, dan sebagainya. Dalam hubungan yang lebih luas bagi suasana persatuan dan kesatuan umat Hindu saat itu, maka Mpu Kuturan juga membangun balai pasamuan agung Siwa Budha di Bali yang dinamai Parahyangan Samwan Tiga.

Pada bagian lain juga diceritarakan bahwa Mpu Kuturan juga dititahkan untuk membangun parahyangan sapta giri yang ada di Bali, lengkap dengan upacara pemujaan yakni di Ulun Danu membangun Padmasana, Meru tingkat sebelas, Meru tingkat sembilan, Meru tingkat tujuh, Meru tingkat lima. Meru tingkat tiga, dan sebuah Pasarmuan Agung yang dilengkapi dengan Bale Mundar-Mandir, Papelik, Gedong Perucut, Paruman Agung, Gedong sthananya Sang Hyang Tri Bhuwana, sesuai dengan prinsip ajaran Mpu Kuturan.

Pembangunan bangunan suci berupa Meru, maka Mpu Kuturan telah mengajarkan untuk menanamkan pedagingan badawang nala pada bagian dasar, juga pedagingan bagian tengah serta bagian puncak meru. Selain itu Mpu Kuturan juga mengajarkan untuk pembangunan gedong, membuat arca dewata dengan menggunakan sarana uang kepeng sesuai dengan jumlahnya. Jadi para raja di Bali agar selalu melaksanakan perayaan suci agama Hindu serta selalu berbakti pada setiap tempat suci di parahyangan sapta giri di Bali, yang harapannya agar terwujudnya keamanan, kenyamanan, ketentraman, kemakmuran, serta kesejahteraan bagi masyarakat Bali. Demikian keutamaan pengabdian Mpu Kuturan untuk menata kehidupan beragama Hindu pulau Bali, terutama tentang perayaan di agama Hindu, termasuk juga Beliau telah melakukan upacara yajna yang besar atau mahayajna bertempat di Pura Sakenan dan di Pura Besakih, yang akhirnya Beliau Moksa di Pura Silayukti, Karangasem-Bali.

Bagaimana nilai teologi yang terkandung dalam naskah Kuturan Tahuni Bila dicermati secara saksama isi naskah tersebut, bahwa Mpu Kuturan telah menanamkan ajaran mengenai nilai-nilai teologi Hindu (Brahma Vidya) yang sangat mulia. Melalui tapa, brata, yoga, dan samadhi, bahwa Mpu Kuturan telah mendirikan Sad Kahyangan serta beberapa Dang Kahyangan yang ada di Bali. Pada tempat-tempat suci atau kahyangan jagat itulah umat Hindu diajarkan untuk memuja dan memumukan Hyang Widhi Wasa dengan berbagai prabhawa Beliau atau murti dari Hyang Widhi dalam gelar-Nya yang beraneka yakni Bhatara Bayu, Bhatara Sambhu, Bhatara Brahma, Bhatara Visnu, Bhatara Ludra, Bhatara Isora, termasuk dalam gelar Beliau sebagai Hyang Pasupati.

Kemudian dalam kemuliaan dari raja Bali bernama Sri Kesari Warmadewa yang berstana di gunung Tohlangkir, maka Beliau tuanku raja disebutkan sebagai awataranya dari Sang Hyang Jina (mungkin saja yang dimaksudkan disini adalah Bhatara Visnu, sebagai nama lain dari murti Beliau sesuai dengan makna teologis bagi umat Hindu di Bali saat itu).

Terkait dengan adanya berbagai perayaan suci agama Hindu oleh umat Hindu di Bali saat itu, bahwa Mpu Kuturan telah mengajarkan agar segenap Umat Hindu selalu mengagungkan dan memuliakan bhatara-bhatari, dewa-dewi, termasuk juga meyakini segala sasuhunan yang telah diyakini oleh umat Hindu secara tradisinal di Bali, yang diekspresikan melalui pemujaan, kegiatan ngayah, penampilan beragam seni tradisional berupa jenis tarian baris, dan jenis aktivitas lainnya untuk membangkitkan kehidupan beragama Hindu, guna terwujudnya keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan bersama.

Hal ini dibuktikan dengan adanya peran dari para orang suci di unsur Siwa dan Buddha yang sekaligus sebagai purahita atau rohaniwan kerajaan, guna memberikan nasihat spiritual bagi pemimpin atau raja dalam kelancarannya menjalankan tugas kerajaan. Mulai dari tingkat bawah yakni masyarakat luas hingga sampai pada pemimpin atau raja diajarkan untuk meyakini kemahakuasaan Hyang Widhi dengan berbagai prabawa-Nya.

Berbagai paksa yang hadir di Bali saat itu, juga telah dipersatukan menuju suasana kerukunan yang abadi, hal ini terbukti dari keberadaan dari parahyangan desa pakraman yakni pura desa, pura puseh, dan pura dalem guna memuja dan memuliakan Bhatara-bhatari dalam konsep tri murti yaitu Dewa Brahma yang diwujudkan dengan aksara suci "Ang", Dewa Visnu yang diwujudkan dengan aksara suci 'Ung', dan Dewa Siva yang diwujudkan dengan aksara suci 'Mang', sehingga ketiga aksara suci atau 'Om' yang merupakan nyasa dari pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Source: I Ketut SUbagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 502 Oktober 2008