Telinga dan Bunyi Sunyi

Entah untuk apa sesungguhnya telingan itu diciptakan. Kata orang-orang bijak, telingan diciptakan untuk mendengarkan suara-suara. Mungkin saja demikian adanya, sebab telinga saya mendengar banyak hal ketika memikirkan tulisan ini. Ada suara motor, mobil, orang berteriak, burung, ketokan palu, dan masih banyak lagi. Anehnya, saya merasa tahu bahwa suara teriakan yang tadi terdengar adalah suara seorang ibu yang memanggil anaknya. Begitu pula suara ketokan palu itu, saya merasa tahu bahwa itu adalah suara dari tetangga yang sedang bekerja. Telingan tidak pernah bertanya, suara apa yang hendak masuk ke dalamnya. Ia mendengarkan tanpa pernah menanyakan suara dari keturunan mana, soroh apa, wangsa siapa, dan seterusnya. Telinga mendengarkan, karena dia telinga. Begitu hukumnya.

Telinga pun jika dipikir-pikir, ada beberapa jenis. Selain telinga yang mendengar, ada telinga yang tidak mendengar. Telinga yang tidak mendengar adalah telinga yang telah lenyap kemampuannya. Kemampuan mendengar yang dimiliki telinga, menurut shastra disebut srotendriya. Jika kemampuan itu telah sama sekali hilang, manusia tidak bis mendengar meski masih memiliki telinga. Jika kemampuan mendengar itu masih aktif, manusia masih bisa mendengar meskipun kedua telinganya ditutup.

Tutuplah kedua lubang telinga dengan kedua tangan sambil memejamkan mata. Lakukan hal itu ketika sedang sendirian di tempat yang sepi. Logikanya, menutup telinga adalah untuk menghindari suara-suara. Sementara itu, saat telinga ditutup, ternyata ada juga suara-suara yang didengar. Suara itu tidak datang dari luar tubuh, tapi dari dalam. Bunyinya tidak jelas, jika dicari persamaan suara itu di luar tubuh, suaranya mirip seperti suara laut. Barangkali ada laut di dalam tubuh manusia.

Membicarakan perihal telinga, tentu penting pula membicarakan perihal suara. Kedunya seperti sepasang kekasih, mirip smara dan ratih. Mengenai telinga dan suara ada sebuah lontar yang mengatakan begini, ‘Sang Hyang Adnyana Sandhi genahnia ring tengahing langit, di bolong ane 7, ngaran, ling, ngaran munyi’; terjemahan bebasnya kurang lebih begini, ‘Sang Hyang Adnyana Sandhi tempatnya di tengah-tengah langit. Di langit itu ada tujuh lubang, dan masing-masing lubang itu bersuara. Tidak dijelaskan selanjutnya, bagaimana suara pada masing-masing lubang itu. Samakah suara atau bunyinya?

Membaca pernyataan yang disebutkan tadi, mestilah dengan pelan-pelan. Lebih tepatnya hati-hati. Jadi mari baca pernyataan tersebut dengan hati-hati, maka jadinya akan seperti ini. Kata Adnyana jika dicari-cari di dalam kamus, bisa berarti pengetahuan, yang dengan sendirinya juga berarti dekat dengan pikiran. Sedangkan kata Sandhi berarti pertemuan. Adnyana Sandhi berarti pertemuan pikiran. Pertemuan pikiran itu dipandang sebagai hal yang mistik, dan arena kemistikannya, maka dihormati sebagai pengatetahuan. Oleh sebab itu, disandangkan dengan kata Sang Hyang. Tempat bertemunya segala macam pikiran disebut Sang Hyang Adnyana Sandhi.

Manusia berpikir dengan otak, sebab pikiran adalah kemampuan yang dimiliki oleh otak. Di dalam otak manusia segala macam pikiran berkumpul. Baik pikiran-pikiran yang bersifat sattwam, rajah, atau tamah. Jika pada otak, segala macam pikiran itu berkumpul, mungkinkah otak itulah yang disebut sebagai Sang Hyang Adnyana Sandhi? Jika benar Sang Hyang Anyana Sandhi itu adalah otak, berarti ‘langit’ yang dimaksudkan dalam teks lontar Tutur Muladara adalah tempat otak itu berada.

Otak berada di dalam rongga kepala. Bukan karena pernah melihat otak sendiri, tapi karena demikianlah yang pernah diajarkan oleh guru-guru biologi di masa lalu. Begitulah manusia yang terlampau menderita, bahkan otaknya sendiri pun tidak pernah dilihatnya. Hal itu juga menjelaskan batas-batas mata. Mata tidak bisa melihat segala organ yang ada di dalam tubuh. Mata hanya melihat yang ada di luar tubuh , itu pun jika berada pada jarak yang tepat. Rongga kepala itulah yang disebut dengan langit. Sang Hyang Adnyana Sandhi yang ada ditengah-tengah langit, itu artinya otak yang ada di dalam rongga kepala.

Ada tujuh lubang di langit, berarti ada tujuh lubang di kepala. Di kepala ada dua lubang mata, dua lubang hidung dan satu lubang pada mulut. Semua lubang itu berjumlah tujuh  dan dikatakan bersuara. Untuk mendengarkan suara-suara itu, sebaiknya tutuplah kedua lubang telinga, kedua lubang mata, lubang mulut, kendalikan nafas yang ke luar masuk melalui lubang hidung, kemudian diam. Tidak dijelaskan di dalam teks Muladara bagaimana suara dari masing-masing lubang yang disebutkan itu. Begitulah teks, selalu ada ruang-ruang kosong yang menuntut agar diisi pengalaman, bukan hanya pembacaan. Singkatnya, untuk mengetahui bagaimana suara dari ketujuh lubang itu, sebaiknya dicari-cari sendiri, tentu pengalaman adalah guru yang baik.

Menurut shastranya, suara pun ada banyak jenisnya. Mulai dari yang paling halus, sampai dengan yang paling kasar. Contoh suara yang kasar adalah suara yang keluar dari alat ucap. Tentu ada suara yang paling halus, yang disebut dhwani. Suara itu adalah suara di dalam muladara, demikian ajarannya. Suara yang didengar dari dalam Bumi disebut dengan bhuh loka sruti,. Suara yang didengar dari air, kemudian disebut arnawa sruti. Suara atau sraddha di dalam Aji Sangkya disebut sebagai unsur halus dari akasa. Suara yang berasal dari akasa ini disebut dengan byomantara gosa. Percampuran ketiga suara-suara itu menjadi tidak jelas.

Suara yang didengar oleh telinga manusia, memiliki rupa atau wujud. Rupa atau wujud inilah yang dikenal dengan sebutan aksara. Aksara artinya tidak termusnahkan. Aksara sungguh banyak jenisnya, maka sebaiknya kita bicarakan aksara-aksara yang dekat-dekat terlebih dahulu. Salah satu aksara yang dekat adalah aksara Bali. Aksara Bali ada beberapa jenis yakni wreastra, swalalita, wijaksara, dan modre. Semua jenis aksara itu, memiliki ciri-cirinya tersendiri yang tidak akan dijelaskan pada tulisan ini. Telah banyak literature-literatur yang bisa dirujuk untuk kepentingan tersebut. Penjelasan yang diberikan oleh literature-literatur yang bisa dirujuk untuk kepentingan tersebut. Penjelasan yang diberikan oleh literature-literatur tersebut, pastilah lebih mampu memberikan keterangan yang baik untuk memahami ciri-ciri yang dimaksud. Sebagai bahan pikiran, perlu kiranya dipikirkan kembali perihal aksara modre yang suaranya sulit didengarkan. Suara aksara modre dikatakan seperti campuran aksara air, api, dan juga angina. Apa maksudnya?

Suara atau sabdha adalah unsur halus di dalam akasa. Akasa adalah salah satu unsur dari lima unsur besar (panca maha bhuta). Kelima unsur itu, memiliki unsur halus (panca tan matra). Ketika manusia berpikir, juga dapat didengar suara-suara yang memenuhi kepala. Suara yang didengar, umumnya adalah suara dirinya sendiri, meskipun tidak sedang bersuara. Hal yang sama juga  terjadi ketika manusia sedang membaca tulisan tertentu tanpa suara yang muncul dari alat ucap. Ada semacam suara yang menggema di kepala. Penjelasan bahwa rongga kepala adalah langit (akasa) setidaknya menjadi penawar atas pertanyaan mengapa ada suara di dalam kepala. Langit atau akasa adalah tempat adanya sabdha tan matra.

Sampai disana, pembicaraan mengenai suara menjadi sangat kompleks. Tidak hanya tentang suara-suara yang sanggup didengarkan langsung oleh telinga terbuka, namun juga tertutup. Ada satu lagi suara yang tampaknya  dekat dengan pengetahuan berpikir manusia, terutama yang menenggelamkan dirinya ke dalam samudra shastra. Suara genta pinarah pitu, yakni suara genta yang dibagi tujuh. Suara genta pinaruh pitu, adalah bunyi Ong. Bunyi Ong adalah bunyi  yang berada di dalam tubuh, maka disebut dengan pranawa. Kata pranawa  segera mengingatkan kita dengan kata prana (bayu). Bukankah bayu yang bergerak itu menghasilkan suara, dan menurut sastranya, suara-suara itu memenuhi ketujuh lubang yang ada di langit tubuh manusia. Keterangan semacam itu, menandakan adanya pengetahuan mengenai tubuh yang mendalam. Membacara lontar Muladara, mengingatkan kita untuk mengenali tubuh sendiri. Mengenali tubuh sendiri adalah  jalan sunyi. Sambil berjalan di jalan sendiri, mari dengarkan suara-suara sepi, bunyi-bunyi-bunyi.

Oleh: IGA Dharma Putra
Source: Majalah Wartam Edisi 31, September 2017