Tat Twam Asi

Petikan sloka dalam Candogya Upanisad ini sering diungkapkan berbagai kalangan khususnya dalam hubungan harmoni antar sesama. Tat twam asi telah bermetaformosis, karena sesungguhnya adalah ajaran rahasia tentang Atman dan Brahman kini telah membumi menjadi ajaran etika dijadikan landasan dan pondasi dalam berprilaku. Sederhananya pada tataran sosial tat twam asi di artikan bahwa kamu adalah aku, aku adalah kamu, hal inilah menjadikan horizon sosial bahwa manusia sama posisinya untuk saling menghormati, saling menyayangi dan saling menghargai. Dengan demikian kejahatan, kecurangan, ketidakjujuran pada sesama sejatinya dengan menghina, memfitnah, menyakiti orang lain sejatinya adalah memfitnah diri kita sendiri.

Ajaran tat twam asi inilah menaungibriuk sapanggul, salunglung sabayantaka, paras paros dan asah asih asuh yang merupakan nilai luhur bahwa orang lain adalah diri kita juga. Namun bukan berarti pula apa yang menjadi dan atau terdapat pada orang lain serta merta menjadi miliki kita, namun yang menjadi prinsip dalam hal ini adalah hak asasi sebagai manusia yang hidup saling menghormati, karena sejatinya manusia disebut manusia ketika ada hubungan sosial (pergaulan, perkumpulan).

Kemudian pada tataran brahma widya, tat twam asi adalah kemanunggalan Atma dengan Brahman sebagaimana tersurat dalam Candogya Upanisad "Sa ya eso nima aitadatmyam idam sarvam, tat satyam, sa atma, tat twam asi, sveda keto iti, bhuya eva ma bhagavan vijnapayaty iti, tatha, saumnya, itihohaca", (itu yang mana merupakan esensi halus, seluruh jagat ini adalah untuk dirinya sendiri, itulah kebenaran. Engkau adalah itu oh Sveta Ketu, mohon junjunganku ajarkanlah hamba lebih jauh lagi. Baiklah sayangku kata beliau). Singkatnya secara teologis bahwa tat twam asi artinya engkau adalah itu atau itulah engkau. Dapat dipahami bahwa upanisad yang artinya duduk dekat di bawah guru dalam hal ini untuk menjelajahi ajaran ketuhanan patut di tuntun guru, sehingga murid, anak tidak salah kaprah.

Ketika "engkau adalah itu" tak dapat diuraikan dengan kata kembali inilah ajaran puncak, "tan kagrahita dening manah mwang indhya" tidak terjangkau oleh pikiran. Realitas sejati "itu" yang menjadi sumber segala ini diterangkan dengan kata sunya "sunyi" dan niskala, tidak terbagi, inmaterial dan gaib. la yang sunya, niskala inilah yang dicari oleh penekun yoga dengan sikap dan prilaku diam tenggelam dalam samadhi. Samadhi adalah persatuan sempurna dari yang dicintai, pecinta dan kecintaan, suatu keadaan kelupaan segalanya, suatu keadaan peresapan yang lengkap.

Maitri Upanisad "sebagai api yang kehabisan bahan bakar, terpadamlah dalam sumbernya sendiri" Pencapaian tingkat samadhi akan mengalami kebahagiaan yang tak teruraikan dengan kata, bahasa, kecuali harus dialaminya sendiri dalam batinnya. Dengan demikian samadhi bukan lagi pengendalian pikiran pada tahap-tahap sebelumnya. Tahap-tahap yang mendahului hanya sarana untuk mencapai tujuan akhir.

Sumber: Wartam Edisi 8 l Oktober 2015