Tantular, Sutasoma dan Ahimsa

Panggung dan festival budaya beraroma kebhinekaan akhir-akhir ini begitu massif. Hamper di setiap sudut kota dan kampong merayakan kembali Bhinneka Tunggal Ika dan kesaktian Pancasila. Berbagai simbolik digemakan sebagai pengingat makna Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di media sosial (medsos) lebih ramai lagi. Bertalu-talu, bersahut-sahutan, seperti biasanya. Pokoknya guyub kolosal.

Banyak orang seperti baru tersadar. Setelah lelah saling sikut, terutama diarena politik, ada yang hilang dari peradaban bangsa. Menghargai, tenggang rasa, tepo seliro, bermusyawarat, mulai pudar. Panggung ego, fanatisme, hingga radikalisme menenggelamkan serat ajaran pendiri bangsa. Jika ditarik jauh ke belakang, pintu kebebasan melalui era reformasi, membuat hidup bernegara seolah nirtujuan. Akhirnya, kompleksitas masalah menjadi semakin akut, meski itu semua juga harus diakui sebagai ampas-ampas setiap orde.

Pada orde baru, khusus Pancasila pernah mengalami kejayaan ketika dibenamkan ke suksma setiap warga Negara melalui penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dan matapelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Saying memang, P4 dan PMP yang begitu ideal hanya menjadikan Pancasila sebagai ideology semata, buka way of life yang setiap saat menjadi buku manual. Ketika jaman berganti, kesaktian Pancasila yang hanya dielu-elukan dalam acara formal dan seremonial, akhirnya sudah tidak meranen lagi. Kini pancasila seolah “merana”, kesepian dan tinggal politik identitas yang semakin hari makin menguat, sehingga Pancasila juga perlu akhirnya “dihibur” dengan berbagai perayaan.

Nasib nahas Pancasila bukan hanya getir pada saat orde baru dan reformasi. Waktu kelahirannya, siapa pencetusnya, di mana dan dari mana Pancasila digali, masih menyisakan banyak pertanyaan, juga keraguan. Pun, ketika 1 Juni mulai tahun 2017 ini dirayakan secara resmi, ekspetasi terhadap Pancasila malah makin tinggi, seperti panacea yang mampu menyembuhkan segala penyakit. Padahal, sukses dan gagalnya Pancasila tergantung dari individu warga negaranya. Implementasi Bhinneka Tunggal Ika juga setali tiga uang. Ironis.

Jika merunut ulang disematkannya sesanti Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara, yang bersama-sama Pancasila, UUD 1945 dan NKRI menjadi pondasi kokoh nusantara, terlihat jelas kontemplasi mendalam mahakawi Mpu Tantular untuk melewati batas waktu. Apa yang disuratkannya ke dalam Kakawin Sutasoma telah menyiratkan banyak maknawi. Kesanggupan untuk hidup dalam keragaman, kesiap-sediaan menerima orang berbeda yang bahkan tidak dikehendaki kehadirannya, atau merayakan perbedaan, menjadi nilai universal yang bersifat esoterik.

“Pandangan dunia” Mpu Tantular melesat jauh ke depan melewati harapan-harapannya di masa lalu, saat tirani dan oligarki kerajaan begitu ketat. Pikiran cemerlangnya lalu bertemu dengan sikap etik globalisasi saat ini. Menghargai perbedaan atau hidup tanpa diskriminasi adalah sikap hidup bersama, yang jika dikhianati  seolah kita kelihatan balik ke jaman purba, jaman di mana Sutasoma dikarang. Tagihan sikap etik yang universal dan humanis itu teremanasikan sepenuhnya dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Bhinneka Tunggal Ika adalah melting pot saat keragaman nusantara seolah berada dalam satu tungku yang kadang bisa memanas, lain waktu meneduhkan. Kebenaran yang ditampilkan dengan ragam ideology bersumber di ujung terowongan yang terang: Dharma (kebenaran). Tak lengkap jika tak mengujarkannya dengan bhinneka tunggal ika tan hana dharma manggruwa. Keragaman nusantara juga ibarat hidangan prasmanan, setiap orang punya selera subyektif untuk memanah makanan favoritnya, namun yang tak boleh dan tak bisa dalam adab ke indonesiaan adalah menyanjung tinggi makannya paling bergizi, lalu merendahkan yang lain.

Memberikan penghargaan pada keragaman yang khas, unik dan intrinsic juga menjadi pandangan mulia dalam Hindu melalui ahimsa. Tidak melukai, tidak menyakiti, tidak membunuh, tidak melakukan kekerasan kepada siapapun, bahk kepada isi alam tidak saja harus dilakukan nyata, tetapi juga harus dimulai dari niat dan pikiran. Tidak ada hak satu manusia menganggap manusia yang lain lebih rendah hanya karena ia merasa berbeda suku, agama, ras, dan golongan.

Kini dunia sudah seperti rumah bersama, seluruh anak kehidupan menjadi keluarga besar. Kita bias terhubung dengan siapa saja, tak berjarak waktu dan tempat, tanpa batas perbedaan. Ahimsa menjadi tools yang ideal, seidealistik gagasan milik Mpu Kuturan melalui Bhinneka Tunggal Ika saat berada di tengah keanekaragaman.

Dengan demikian, Bhinneka Tunggal Ika, juga butir-butir Pancasila, sebagaimana ahimsa haruslah menjadi reflex social. Jika aktualisasi Bhinneka Tunggal Ika dan ahimsa masih seperti mesin mekanik yang bergantung sepenuhnya pada remoute control, ajaran moral itu hanya akan menjadi utopia, mimpi belaka. Tapi tentu saja, dalam kebudayaan paternalistic seperti Indonesia, keteladanan dari pemimpin dan tokoh menjadi sangat penting. Mpu Tantular, tokoh sentral lahirnya Kakawin Sutasoma, dan Mahatma Gandhi yang membidani perjuangan nirkekerasan melalui ahimsa sudah menjadi panutan dan memberikan contoh sempurna. Nah, bagaimana dengan kita?

Oleh: I Nyoman Segara I Atropolog IHDN Denpasar
Source: Majalah Wartam, Edisi 28, Juni 2017