Tanah dan Langit: Klasifikasi Simbolisme Yang Dualistik

Manusia pada hakikatnya berasal dari pertemuan langit dan tanah, manusia hidup di atas tanah dan di bawah langit, mati pun kembali ke tanah dan langit. Hubungan antara manusia dan tanah sangatlah erat tidak mungkin dipisahkan, demikian juga hubungan manusia dengan langit. Kelangsungan hidup manusia sangat tergantung dari keberadaan tanah, dan sebaliknya, tanah pun memerlukan perlindungan manusia untuk eksistensinya sebagai tanah yang memiliki makna dan fungsi. Di dalam dunia ilmiah, tanah mempunyai banyak nama di antaranya Podzol, Podzolik, Latosol, Hidromorfik, Aluvial, Organosol, tanah organik, dan tanah mineral. Demikian juga langit sering disebut atmosfer, angkasa dengan unsur-unsur kimianya seperti nitrogen, oksigen, neon, ozon, hidrogen, metan, he¬lium, dan lain-lain.

Bagi orang Bali (baca : Hindu) tanah pada dasarnya mempunyai arti nilai yang sangat tinggi jauh melampaui arti tanah secara harfiah. Di atas tanah manusia dilahirkan, menjalankan kehidupan, dan akhirnya mati. Di samping itu, juga melakukan upacara (Dewa Yadna, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya), sehingga tidaklah berlebihan bila orang membuat istilah tanah palekadan yang mempunyai arti sangat mendalam.

Tanah telah membesarkan, menyuapi, memberi tugas, mengarahkan pikiran dan, mempertemukannya dengan kesulitan-kesulitan. Tanah merasuki tulang dan jaringannya, benak dan jiwanya. Di gunung-gunung tanah memberikannya otot kaki yang membaja untuk mendaki lereng, di sepanjang pantai otot kaki dibiarkan lemah, tetapi sebagai gantinya adalah perkembangan dada dan lengan yang kuat untuk mengendalikan papan dayungnya. Tidaklah berlebihan bahwa tanah Bali telah membentuk manusia dan kebudayaan Bali yang unik, khas, tinggi, dan luhur.

Manusia yang lahir dari pertemuan langit dan tanah dan akhirnya dipercaya untuk mengelola alam dan sumber daya yang ada di dalamnya senantiasa berusaha meningkatkan daya dukung alam lingkungan untuk memenuhi ribuan kebutuhannya yang tak terbatas. Tindakan manusia yang semakin maju yang dilakukan terhadap tanah dan langit akan menguban keseimbangan dan mengurangi kemantapan ekosistem tersebut.

Dewasa ini hampir semua negara dan bangsa menghadapi masalah penglolaan lingkungan hidup dan salah satu komponennya adalah tanah. Masalah utamanya adalah semakin menurunya kualitas/mutu lingkungan hidup. Masalah lingkungan hidup ini diduga muncul sebagai akibat dari perkembangan kebutuhan manusia yang jauh lebih  cepat daripada perkembangan kesadaran manusia tentang keterbatasan alam. Pengetahuan manusia untuk memanfaatkan alam dengan sebanyak-banyaknya jauh lebih cepat berkembang daripada pengetahuan dan sikapnya untuk menyelamatkan, melindungi, dan melestarikan alam.

Mutu lingkungan yang semakin menurun menyebabkan berbagai negara di seluruh dunia mulai membuat kebijaksanaan dan peraturan untuk mengawasi pemanfaatan sumber-sumber alam agar tidak merusak lingkungan hidup. 39 Persoalan ini menjadi sangat menarik untuk diteliti dalam konteks gan masyarakat Hindu, khususnya di Bali. Apakah masyarakat di Bali mempunyai kepercayaan, gagasan, dan ide-ide berkaitan dengan tanah dan langit? Apakah mereka memiliki penafsiran berkenaan dengan simbolisme tanah dan langit? Bagaimana kepercayaan, gagasan, dan makna simbolis itu diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari mereka? Tentunya banyak lagi persoalan-persoalan yang dimunculkan dari keberadaan tanah dan langit ini, dilihat dari disiplin masing-masing.

Bagi seorang insinyur tambang, tanah merupakan benda yang menimbuni pelikan tambang yang merupakan penghalang dan harus disingkirkan. Bagi seorang usaha pengembang, tanah dipinggir jurang, dipinggir-pinggir sungai, dirawa-rawa merupakan tempat yang baik untuk membangun karena lebih efektif dan menguntungkan. Bagi seorang petani tanah merupakan habitat bagi tumbuhan dan bagi seorang antropolog yang senantiasa mengamati perilaku manusia, maka penafsiran simbolisme terhadap keberadaan tanah menjadi tugas perhatiannya. Tulisan ini akan terfokus pada aspek yang terakhir, yaitu penafsiran simbolisme tanah dan langit.

Penafsiran Simbolisme Tanah dan Langit

Ernest Cassirer (1944), seperti juga Levi-Strauss, melihat bahasa dan simbolisme sebagai karakteristik esensial budaya manusia dan kemudian mendefinisikan spesies manusia sebagai animal symbolicum. Oleh sebab itu, representasi simbolik merupakan fungsi sentral kesadaran manusia yang menjadi dasar bagi pemahaman kita tentang seluruh kehidupan manusia : bahasa, sejarah, seni, mite, dan agama.

Meminjam pola berpikir Raymond Firh (1973) membedakan antara index, tanda (signal), Icon, dan simbol, kita mencoba menerapkannya di dalam melihat persoalan tanah dan langit. Index adalah sebuah tanda yang secara langsung berkaitan dengan apa yang ditandai, bagian terhadap keseluruhan, pertikular kepada general. Contohnya, jejak kaki seekor ayam, api dari adanya asap, debu dari adanya tanah. Tanda (signal) dianggap sebagai aspek dinamis dari index. Icon adalah tanda yang digunakan ketika ditafsirkan atau dimaksudkan adanya hubungan "persamaan sensoris" (sensory likeness), misalnya lukisan tentang langit dan tanah (pemandangan) adalah ikonik. Terakhir simbol, yaitu sebuah tanda yang memiliki rangkaian hubungan yang kompleks, tetapi tidak ada hubungan langsung atau kesamaan antara tanda dengan objek yang ditandai. Hubungan itu didasarkan pada konvensi dan mungkin tampak arbitrer, misalnya, Ibu perthiwi adalah simbul bumi/ tanah dan ayah adalah simbol langit.

Menurut Cassirer dikutip dari Brian Morris (2003) bahwa tanda dan simbol memiliki dua dunia wacana yang berbeda. Tanda masuk dalam dunia ada yang bersifat fisik, ia adalah "operator" di dalamnya terdapat hubungan 'intrinsik' atau 'natural' antara tanda dengan apa yang ditandai. Simbol di sisi lain adalah 'artifisial', 'penunjuk' dan termasuk dalam dunia makna manusia. Dengan demikian pengetahuan manusia pada dasarnya adalah simbol, Ibu Perthiwi adalah simbol dari tanah, dan akasa ('ayah') adalah simbol dari langit.

Sampai di sini sebenarnya muncul persoalan, yaitu bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Ibu Perthiwi itu adalah simbol dari tanah tanpa terlebih dahulu memahami tentang kepercayaan, gagasan, norma, ide, mite, pengetahuan, atau konvensi masyarakat pendukung kebudayaan tersebut? untuk memberi jawaban terhadap persoalan ini, kita harus terlebih dahulu menelusuri teks-teks Hindu yang dipakai rujukan di dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Agama Hindu dalam kitab-kitab sucinya sudah sejak zaman dahulu sangat memperhatikan masalah lingkungan, wawasan kesejagatan, dan menyadari posisinya di alam jagat raya ini. Unsur-unsur yang membangun jagat raya ini sangat diperhatikan oleh umat Hindu. Unsur-unsur tersebut adalah pratiwi (tanah), Apah (air), teja (api), bayu (angin), dan akasa (angkasa). Panca maha bhuta dibentuk oleh unsur halus yang disebut panca tan matra, yang terdiri atas gandha (bau), rasa (rasa), sparsa (sinar), rupa (rupa), dan sabda (suara). Unsur-unsur yang merupakan objek indria ini diharapkan berada dalam suatu struktur yang harmonis (somya). Ajaran inilah yang kemudian memunculkan konsep-konsep yang lebih opersional, seperti konsep segara-gunung, tri hita karana, tri mandala, tri angga, dan sebagainya.

Di dalam kitab suci Weda, seperti yang dinyatakan dalam mantram "Bumi ini adalah ibu kita, kita adalah putra-putranya" (Atharvaveda XII : 1, 12), "Bumi adalah ibu dan langit adalah ayah kita" (YajurvedaXXV:17). "Om Yam Prthivi-parama-tirthamrtaya namah svaha" (Prthivi-Stuti dalam Stuti dan Stava : 396), serta "Engkau adalah bumi, air, api, juga angin, angkasa, dan alam sunya yang tertinggi, pun pula yang berwujud dan tak berwujud" (Siva-stava : 4). Kutipan-kutipan kitab suci ini sekaligus menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia sangat berutang kepada jagat raya dan senantiasa harus menghormatinya. Demikian juga dalam lontar Bhuwana Kosa ada disebutkan "Ini yang disebut tiga dunia, yaitu tanah, angkasa, surga yang juga disebut indra loka, dikatakan oleh Batara, yang berwarna merah merupakan mani-festasi dari Aghora, yang bernama Aghora ditempatkan oleh Sang Resi di dalam pusar. Ong, Ang aksara sucinya." (Bhuwana Kosa, II.1, Brahma Rahasyam, Dwitiyah Patalah).

Tanah atau pratiwi tempat manusia hidup dinyatakan sebagai kumpulan semua unsur panca maha bhuta (ikang prethiwi ya patimbunan ng tatwa kabeh). Oleh karena itu, tanah menempati posisi yang sangat penting. Ketika bhuta yadnya diadakan (dari) tingkatan terkecil sampai yang terbes senantiasa digelar di sebuah 'natar', yaitu langit dan tanah, ayah dan ibu bertemu. Hubungan manusia dengan tanah juga diumpamakan seperti "kadi manik ring cecupu ".

Manusia diumpamakan sebagai manik (janin), sedangkan alam sebagai cecupu (rahim). Perumpamaan ini mengandung makna bahwa manusia hidup di tengah-tengah alam dan alamlah yang memberikan makan kepada manusia, seandainya manusia mengambil makanan tanpa batas dan sembarangan, maka alam ini akan hancur dan akhirnya manusia budaya, dan agamanyapun akan hancur. Kutipan-kutipan di atas sekaligus menunjukkan bahwa apa vang tersurat dalam kitab suci adalah pesan-pesan suci yang mengandung makna simbolik yang jauh mendalam di balik kata-kata itu, kini menjadi tugas kita untuk menafsirkan simbol-simbol itu sehingga pesan-pesan suci bisa masuk ke setiap kehidupan manusia yang beraneka ragam.

Membaca kembali kitab suci adalah persoalan bagaimana menafsirkan kembali gagasan-gagasan, ide-ide, nilai-nilai yang terkandung dalam setiap bait suci itu serta merefleksikannya dalam kehidupan manusia kini. Fachrizal (2002) dan Cragg. (1971) mengatakan bahwa wahyu bukanlah seorang pengkhotbah yang bicara panjang lebar mengenai segala sesuatu hingga hal-hal detail. Setiap wahyu memerlukan peran aktif manusia sebab manusialah yang membaca dan menafsirkan maknanya. Salah satu keistirrtewaan ayat-ayat Tuhan adalah dapat ditafsirkan sesuai dengan konteks kehidupan manusia. Wahyu selalu merupakan tanggapan atas situasi masyarakat tertentu.

Kitab-kitab suci Hindu akan lebih bermakna apabila ditempatkan pada situasi kontemporer yang secara riil dihadapi oleh manusia. Tanpa hal tersebut akan membuat stagnasi dan menutup kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kitab suci sebagai Sruti (wahyu) Tuhan tentulah meliputi seluruh aspek kehidupan ini dari abad ke abad dan dari zaman ke zaman. Tidak ada sisi kehidupan yang lepas dari genggaman dan petunjuk Tuhan. Itulah sebabnya yang menjadi tantangan manusia Hindu kini adalah bagaimana menangkap petunjuk tersebut. Kajian-kajian simbolis diharapkan bisa memberikan jalan keluar yang kontekstual terhadap pemaknaan apa yang ada di balik ayat suci itu.

Sebuah ayat suci adalah tanda yang memiliki rangkaian hubungan yang kompleks, tetapi tidak ada hubungan langsung atau kesamaan antara tanda dengan objek yang ditandai. Hubungan itu didasarkan pada konvensi dan mungkin tampak arbitrer. Dengan demikian, penafsiran simbolis menjadi sangat signifikan agar mempunyai makna sesuai dengan kehidupan masyarakat saat ini. Sebagai contoh misalnya apa yang terdapat dalam kitab (Atharva-veda XII: 1,12). "Bumi ini adalah ibu kita, kita adalah putra-putranya", (Yajurveda XXV:27)."Bumi adalah ibu, dan langit adalah ayah kita". Ayat-ayat ini bukanlah signal, index atau icon, namun ia adalah simbolis. Tugas kita sekarang adalah menangkap dan menafsirkan petunjuk-petunjuk tersebut sehingga menjadi signifikan dan relevan dalam kehidupan kita.

Apabila kita cermat memperhatikan, ternyata simbol-simbol itu sebenarnya sudah diterapkan dalam segala kehidupan masyarakat Bali, mulai dari ritual, penataan ruang, pola makan, pola kehidupan sehari-hari, dan sebagainya. Di samping itu, adanya natah, perempatan pada setiap pola pemukiman orang Bali, adanya upacara bersaji mulai dari mesaiban yang dilakukan setiap hari sehabis memasak di dapur, sampai dengan ritual pengorbanan darah binatang peliharaan dari yang terkecil sampai yang kompleks.

Agar lebih sederhana memahami apa yang ada di dalam teks-teks suci Hindu yang berkaitan dengan klasifikasi simbolik tanah dan langit, kita mencoba menggambarkan seperti model berikut:

LANGIT
AYAH
   II

   II  NATAR MANUSIA

   II

PERTHIWI
IBU

Dalam model ini kita bisa melihat adanya klasifikasi simbolis yang dualistik (langit-tanah), juga bisa dilihat simbolis kosmologi yang tripartit (langit-manusia-tanah), namun juga bisa dipandang sebagai suatu yang mono (tunggal) semuanya itu bersumber pada yang satu, yaitu Tuhan. Dalam konteks tulisan ini, kita sementara memfokuskan perhatian pada simbolisme dualistik yaitu masing-masing berpasangan (bi¬nary pair) secara analogis dihubungkan oleh prinsip dualisme yang saling berhubungan atau dengan istilah Levi Strauss (1965) disebut binary opposition atau oposisi pasangan.

Skema binary opposition masyarakat Bali dapat digambarkan sebagai berikut:
Kaja === Kelod
Kangin === Kauh
Tegeh === Lebah
Lemah === Peteng
Gunung === Segara
Kadiatmikan === Kawisesan
Muani === Luh
Bapa === Meme
Putih === Selem
Luan === Teben
Suci === Leteh
Krama Muani === Krama Luh
Api === Yeh
Purnama === Tilem
Akasa === Perthiwi
Matarahi === Bulan

Kata-kata ini senantiasa berhubungan, berpapasan, dan mengandung makna simbolis di baliknya. Kata ini tidak akan berarti apa-apa kalau tidak dihubungkan dengan kata yang lain (pasangannya). Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa suatu gejala, peristiwa, atau benda tidak akan berarti/bermakna apa-apa tanpa dihubungkan dengan peristiwa, gejala, atau benda yang lain. Disamping itu, sekaligus juga menunjukkan bahwa pendekatan fungsional tidak bisa dilepaskan dengan pendekata'n struktural. Artinya, kajian makna tidak bisa dilepaskan dari kajian fungsi karena kadang-kadang fungsi itulah makna atau sebaliknya.

Banyak juga pertanyaan tentang hal ini, yaitu yang mana lebih dahulu kajian makna atau fungsi? 'Ibu perthiwi' tidak bermakna apa-apa kalau tidak dihubungkan dengan pasangannya, yaitu 'ayah', 'kelod' tidak bermakna? apa-apa kalau tidak dihubungkan dengan pasangannya, yaitu 'kaja', 'luan' tidak bermakna apa-apa kalau tidak dihubungkan dengan pasangannya yaitu 'teben'. Apabila sudah dihubungan dengan elemen atau pasangannya, maka dia baru bisa dikatakan berfungsi. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa kajian makna akan mengawali apabila kita mengkaji fungsi. Gagasan dan pengetahuan adalah simbol, yang akan menata sikap dan perilaku manusia dan pada akhirnva akan menghasilkan benda hasil karya manusia vang bersifat fisik (fungsi). Cara berpikir seperti ini menunjukkan bahwa gagasan (simbol) itulah yang lebih dahulu ada dan baru diikuti oleh benda (fungsi).

Binary Opposition dalam masyarakat Bali bisa bersifat mutlak, namun bisa juga bersifat relatif. Yang bersifat mutlak, misalnya luh/muani (laki perempuan), hidup/mati, hitam/putih, sedangkan yang bersifat relatif, misalnya, kaja/kelod, luan/teben, kiri/ kanan. Disebut relatif karena adanva pjj^ak 'ketiga', misalnya kaja menempati kedudukan kaja terhadap kelod, tetapi kelod menempati kedudukan kaja terhadap yang lain yang ada di sebelah kelod.

Konsep elementer pembagian ke dalam dua golongan relatif telah menimbulkan konsep akan adanva golongan ketiga yang bisa menempati kedua kedudukan dalam kedua pihak dari suatu pasangan binary. Pihak ketiga itu dalam cara berpikir bersahaja dianggap merupakan suatu golongan antara yang memiliki ciri-ciri dari kedua belah pihak, namun tidak tercampur, tetapi saling terpisah dalam keadaan yang berlainan. Demikian, timbul gagasan rangkaian tiga dalam kebudayaan Bali, sebagai contoh misalnya kaja/tengah/kelod, bumi/manusia/langit, Siwa/sadasiwa/paramasiwa.

Lebih lanjut pembagian alam semesta secara konsentral bisa juga menjadi lima, sembilan, dan seribu (sahastra dala). Hal ini adalah contoh dari klassifikasi yang berdasarkan struktur simbolis dualisme yang konsentrikal. Hal ini akan menjadi sangat menarik apabila kita memperhatikan konsep-konsep dalam padma bhuana, padma kembang, dan padma kuncup, yaitu konsep dik-widik yang telah diterapkan dalam agama dan budaya di Bali. Dalam pelaksanaan ritual (segehan, caru, dan tawur) akan kentara sekali penerapan klasifikasi simbolik dualisme. Dalam penataan ruang pekarangan rumah (dapur/paon ditempatkan pada arah 'kelod', sedangkan pemerajan ditempatkan pada arah 'kaja'). Dalam penempatan pura yang membentengi kesucian Bali yang tersebar di seluruh Pulau Bali (Pura Besakih, Pura Lempuyang, Pura Andakasa, Pura Batukaru, dan Pura Batur menempati, posisi dik, sedangkan pura Gowa Lawah, Uluwatu, Pucak Mangu, dan Besakih penempati posisi widik).

Akan tetapi Pura Besakih bisa berposisi sebagai binary relatif yaitu pada saat tertentu berposisi sebagai tengah (Siwa) dan pada saat yang lain berposisi sebagai Sambu. Struktur simbolis dualisme yang konsentrikal juga bisa dilihat pada konsep padma kembang dan padma kuncup dalam ritual agama Hindu di Bali. Ketika kuncup semuanya itu menjadi satu, namun dipihak lain ketika kembang akan menempatkan posisinya masing-masing.

Dasar pemikiran analisis simbolik dengan menggunakan sistem katagori dua, tiga, lima, sembilan, dan sebagainya telah menjadi kajian yang sangat menarik para tokoh antropologi karena berlaku secara universal dalam berbagai suku bangsa didunia. Kajian-kajian para tokoh antropologi, seperti Levi Strauss (1963), Durkheim (1937), Malinowski (1967), dan Geerzt (1964) dapat dijadikan rujukan, sebagai alat atau pisau bedah untuk melihat fenomena riil pada segala aktivitas masyarakat Hindu di Bali. (Bersambung)

Source: Ida Bagus Dharmika l Warta Hindu Dharma NO. 493 Januari 2008