Taburan Amerta Brahma Muhurta di Pagi Hari

Brahma-muhurte ya nidra
Sa punya-ksaya-karini
Tam karoti dvijo mohat
Pada-krcchrena sudhyati
(Smrti Ratnavali, Acarendu hal.17)

"Tidur pada waktu Brahma Muhurta di pagi hari merupakan penghancur segala kemuliaan. Dia yang tertidur di pagi hari Brahma Muhurta hendaknya menyucikan dirinya dengan melakukan perta-paan yang bernama Pada-krccha Prayascitta."

Tradisi Veda sangat menekankan keutamaan bangun pagi-pagi. Waktu penuh berkah di pagi hari tersebut dinamakan Brahma Muhurta. Pada detik-detik Brahma Muhurta di pagi hari orang hendaknya bangun dari tempat tidurnya, melakukan kewajiban pagi di toilet, mandi, dan melakukan sembahyang Sandhya pagi, bermeditasi kepada Dewi Yamuna atau Dewi sungai suci lainnya, dan kepada Tuhan YME. Ketika matahari terbit, orang hendaknya mandi di sungai suci Yamuna -brahme muhurta uttkaya dhyatva devim kalindqjam, arunodaya ve-layam nadyam snanam samacaret (Garga Samhita 4.18.14).

Tradisi leluhur menganjurkan agar orang selalu bangun pagi-pagi. Dalam bahasa Jawa ada is-tilah "Yen tangi ojo ngenteni ayam kluruk" yang artinya: kalau bangun pagi jangan menunggu ayam berkokok (karena rezekinya akan dipatuk ayam). Apa pun istilah yang dipergunakan, atau cara yang dipergunakan oleh leluhur kita untuk mengingatkan orang akan pentingnya bangun pagi, itu semua pasti diarahkan pada kemuliaan hidup kita sebagai manusia, baik kemuliaan hidup dunia material maupun demi kemajuan spiritual.

Tradisi Veda menyebutkan pagi hari itu dengan istilah Brahma Muhurta. Ia merupakan waktu "emas" bagi umat Sanatana Dharma, agama sempurna yang langgeng abadi. Brahma Muhurta artinya waktunya Tuhan. Dengan kata lain, Brahma Muhurta adalah waktu di pagi hari yang sangat berharga untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Brahma Muhurta merupakan waktu-waktu berakhirnya malam, detik-detik akhir orang beristirahat malam, alias waktu tepat untuk bangun pagi. Waktu yang tepat untuk Brahma Muhurta adalah 1 jam 30 menit sebelum matahari terbit. Di era internet dan ponsel cerdas ini, data mengenai waktu terbitnya matahari di berbagai belahan dunia bisa didapat dengan mudah. Bangun di detik-detik Brahma Muhurta memberikan segala jenis kemuliaan datang menyapa. Dis-ebutkan bahwa tidak akan ada kemiskinan atau "seret rezeki" bagi mereka yang terbiasa bangun pagi di saat-saat Brahma Muhurta.

Para leluhur bangsa Indonesia sangat menekankan bangun pagi dengan penekanan kemurahan rezeki. Dewi Laksmi, Dewi Uang/ harta akan datang pada mereka yang rajin bangun pagi. Canakya Niti Sastra mengajarkan orang yang berpakaian kotor, di giginya melekat kotoran, yang makan terla-lu banyak, yang berkata-kata keras dan kasar, dan yang menggunakan waktu antara matahari terbit dan terbenam dengan tidur (suryodaye castamite sayanam vimuncati srir yadi cakrdpanih), walaupun ia hebat dan agung bagaikan Sang Hyang Cakrapani (Tuhan) tetapi Dewi Laksmi (rezeki) akan menjauh darinya.

Brahma Muhurta merupakan detik-detik penuh karunia, khusus-nya dalam pembentukan kemuliaan dunia dan spiritual. Pada saat Brahma Muhurta, keadaan pikiran orang berada dalam keadaan terbaik, tenang, damai, kurang tekanan dan gebuan serta kerlap-kerlipnya pikiran. Keadaan pikiran yang tenang damai akibat dari Brahma Muhurta merupakan keadaan yang sangat tepat untuk mempraktikkan praktik-praktik spiritual. Disebutkan, praktik spiritual yang dilakukan di siang, sore, atau malam hari kalah reaksi karunia dengan saat-saat Brahma Muhurta.

Sekali lagi, sesuai den-gan namanya, Brahma Muhurta, waktunya Tuhan, bukan hanya orang-orang yang menginginkan kemuliaan material berupa kesehatan dan rezeki, bukan hanya mereka yang mengumumkan kemuliaan bangun pagi, melainkan orang-orang suci dan kitab-kitab suci juga sangat menekankan kemuliaan bangun pagi. Brahma Muhurta merupakan waktu paling tepat untuk meninggalkan kemala-san demi menyambut kecantikan, ketampanan, kekuatan, pengetahuan, kesehatan, kecerdasan, serta . kadyatmikan (spiritual). Hukum Bhuwana Agung-Bhuwana Alit atau macrocosmos-microcosmos menyatakan bahwa yang terjadi di alam semesta terjadi juga di dalam diri manusia. Ketika matahari terbit di pagi hari maka di dalam diri manusia juga terjadi terbitnya energi.

Bangun pagi di saat Brahma Muhurta sangat ditekankan oleh kitab Ayur Veda. Orang yang menginginkan kesehatan dan panjang umur hendaknya selalu bangun di pagi hari di saat Brahma Muhurta (brahma muhurte uttisthet swastho raksarthamayusah). Orang yang tetap tertidur di pagi hari pada saat-saat penuh karunia bernama Brahma Muhurta, sebenarnya ia sedang menghancurkan segala kemuliaan dirinya (brahma muhurte ya nidra sa punyaksaya-karini). Para Resi yang menulis kitab-kitab suci tersebut sangat menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan rezeki demi mendapatkan hidup dan kehidupan yang lebih mulia selama hidup di dunia ini.

Sesungguhnya juga, ajaran-ajaran Veda selalu didukung oleh alasan "scientific" di belakangnya. Ketika orang meneliti dengan baik dan jujur terhadap ajaran-ajaran Veda, maka mereka akan menemukan alasan sangat masuk akal di halik ajaran-ajaran tersebut. Orang sebenarnya hanya perlu mengikuti, mempraktikkan, dan menerapkan di dalam kesehariannya. Dengan cara seperti itu, orang akan mendapatkan manfaat penuh dari ajaran-ajaran Veda dan juga akan banyak menyelamatkan waktu tidak dibuang-buang dalam kera-guan serta pencarian sia-sia.

Pada saat-saat Brahma Muhurta di pagi hari udara tidak menga-lami polusi dan sangat baik untuk membersihkan paru-paru, karena tersedia oksigen yang terbaik yang bisa didapatkan. Menurut penelitian, disebutkan bahwa oksigen di pagi hari adalah yang terbaik (41%), sangat bermanfaat untuk membersihkan paru-paru. Perolehan oksigen yang terbaik ini sangat mempengaruhi kesehatan badan dan pikiran Asupan oksigen segar pada sel-sel darah putih dapat meningkatkan immunisasi tubuh.

Di dunia, khususnya di India, sangat banyak orang melakukan olah raga jalan pagi di jalan atau di taman. Menurut Ayur Veda, bangun pagi-pagi di saat Brahma Muhurta lalu jalan-jalan pagi akan menyebabkan kekuatan "sanjivani sakti" beredar menyeluruh ke dalam tubuh. Sanjivani sakti adalah kekuatan amerta yang memberikan kesehatan serta umur panjang. Jalan-jalan pagi di udara bersih akan mengaktifkan peredaran sanjivani sakti di dalam tubuh.

Pikiran dan badan di pagi hari menjadi fresh, segar. Udara juga sangat bersih dan lingkungan damai. Pagi hari merupakan saat paling tepat dimanfaatkan untuk melakukan praktik-praktik agama spiritual. Melakukan gerakan Yoga Surya Namaskar di pagi hari, khususnya ketika matahari mulai terbit dapat memberikan kesehatan bagus. Matahari terbit di pagi hari membawa 7 jenis sinar yang memberikan kesehatan, usia panjang, dan segala kemuliaan hidup. Semakin naik matahari semakin berkurang kekuatan karunia 7 sinar tersebut. Pada siang hari tinggal sinar pemanas saja. Jadi, pagi hari merupakan saat yang sangat indah untuk membangun hidup yang sehat, panjang umur melalui praktik Yoga, Sembahyang (Puja, Upasana), dan Dhyana (meditasi).

Ada pertanyaan, "Apakah perlu mandi sebelum melakukan sembahyang Sadhana?" Ketika pertanyaan tersebut disampaikan oleh mereka yang dari negara-negara Barat, dan/atau oleh mereka yang berasal dari negara-negara yang dingin bersalju, maka pertanyaan menjadi sebuah pertanyaan yang normal dan wajar. Akan tetapi, jika pertanyaan tersebut disampaikan oleh mereka yang berasal dari negara-negara tropis, maka ia menjadi sangat aneh, bahkan ketika pertanyaan tidak sehubungan dengan kegiatan keagamaan spiritual.

Berbicara perihal kebersihan, maka mandi menjadi keharusan. Berbicara perihal kesehatan, maka mandi juga merupakan sebuah ke-biasaan yang sangat sehat. Terlebih lagi, sehubungan dengan kegiatan agama dan/atau spiritual, maka mandi adalah sebuah keharusan. Jika tidak penting dan bermanfaat, maka kitab suci tidak mungkin akan memberikan perhatian khusus ter¬hadap kepentingan mandi.

Kitab-kitab suci sangat mengagung-agungkan kemuliaan mandi, terlebih-lebih khususnya mandi pagi, karena pagi merupakan waktu penuh berkah untuk melakukan praktik-praktik agama spiritual (pratah snanam prasamsanti). Resi Sankaracarya memberikan perumpamaan, jika orang ingin menghilangkan kotoran-kotoran badannya, maka ia harus mandi dengan air setiap hari (mala nirmocanam pumsam, jala-snanam dine dine). Mandi, menurut Maharesi Daksa akan membantu menjaga kebersihan lahir batin sehingga yang bersangkutan akan sangat terbantu dalam praktik agama spiritualnya. Hanya setelah mandilah orang layak melakukan sembahyang, japa-mantra, dan aktivitas agama spiritual lainnya (pratah snayi japadikam).

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Umanis 18 September 2016