Sudah Merdekakah Pendidikan Hindu?

Pendidikan seharusnya dise-lenggarakan dalam rangka membebaskan manusia dari bebagai persoalan hidup yang melingkupinya. Oleh karena itu, pendidikan menurut Freire (2002:12—13) merupakan salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi manusia yang sesungguhnya agar terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan, sampai pada ketertinggalan. Berangkat dari gagasan Freire tersebut, maka manusia sebagai pusat pendidikan seharusnya mampu menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan yang dapat mengantarkan manusia menjadi mahluk yang merdeka dan bermartabat.

Namun, dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara sering terjadi saling sandra antara politik dengan pendidikan, politik dengan agama, politik dengan kebudayaan, dan lain-lain. Pertanyaannya, ketika pendidikan disandra oleh politik, maka akan dibawa kemanakah peserta didik itu, dan seperti apakah profile lulusan yang diharapkan? Untuk menjawab pertanyaan ini, teori psikologi yang dikemukakan Spranger, seorang ahli psikologi pada tahun 1920-an, tampaknya dapat digunakan untuk memetakan persoalan ini.

Menurut Spranger ada enam tife manusia, yakni (1) manusia teoritis; (2) manusia estetis; (3) manusia politis; (4) manusia ekonomis; (5) manusia sosialis; dan (6) manusia religius. Dasar yang digunakan Spranger untuk mengklasifikasi tife manusia seperti itu, adalah nilai-nilai tertentu yang menguasai jalan pikiran, perasaan, dan tingkah laku manusia bersangkutan dalam menjalani kehidupannya di dunia ini. Misalnya, manusia politis adalah manusia yang senantiasa mengabdikan hidupnya untuk kepentingan politik (kekuasaan) semata. Sementara manusia religius adalah manusia yang mengorientasikan perjalanan hidupnya yang memuncak dalam nilai tertinggi, yakni nilai Ilahi, dan begitu seterusnya (Susetyo, 2005:53—54).

Dengan mengacu pada Freire (2002); Spranger (dalam Susetyo, 2005) dan jika dikaitkan dengan tema kajian ini, yakni sudah merdekakah pendidikan Hindu, maka dapat dideskripsikan sebagai berikut. Sebelum menjawab pertanyaan apakah pendidikan Hindu sudah merdeka atau belum, terlebih dahulu perlu dipahami bahwa dasar pengetahuan/pendidikan Hindu adalah Veda. Sebab Veda merupakan pustaka suci yang merupakan sumber dari segala pengetahuan, baik itu pengetahuan rohani maupun pengetahuan sains. Hal ini terbukti dari luasnya kandungan nilai yang terdapat dalam kitab suci Veda, yang acapkali membuat decak kagum para Ilmuan Barat ketika membacanya. Dalam pandangan para ahli, kitab suci Veda dibingkai oleh dua aspek pengetahuan, yakni pengetahuan kerohanian yang disebut juga paravidya dan pengetahuan sains yang disebut aparvidya.

Menurut Donder (2004; dan 2006) bahwa pengetahuan Veda dapat menelan semua konsep pengetahuan manusia, dan jika ditelaah, digali, dan dicerna secara lebih dalam tanpa ego, maka di dalam Veda akan dapat ditemukan berbagai konsep ilmu pengetahuan, seperti ilmu fisika, kimia, astronomi, biologi, kedokteran, psikologi, politik, agama, dan sebagainya. Kemudian untuk menjawab sudah merdekakah pendidikan Hindu, tampaknya telebih dahulu perlu juga dipahami kata merdeka itu sendiri, baik secara leksikal, maupun secara struktural. Secara leksikal kata merdeka itu berarti bebas; atau mampu berdiri sendiri (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1995:648). Sedangkan secara struktural kata merdeka dapat dimaknai sesuai konteksnya.

Berdasarkan paparan di atas, maka menurut hemat penulis pendidikan Hindu saat ini dapat dikatakan sudah merdeka. Sebab, sampai saat ini tidak ada ham-batan bagi siapapun umat di muka bumi ini untuk memahami, dan mendalami ilmu pengetahuan yang bersumber pada Veda. Demikian pula, tidak ada larangan bagi siapa pun umat di muka bumi ini untuk melaksanakan ajaran Veda dalam praktik kehidupannya sehari-hari. Namun, di dalam kenyataannya mungkin saja masih ada di antara umat yang merasakan bahwa pendidikan Hindu belum merdeka. Hal demikian wajar sebab manusia mempunyai perspektif (sudut pandang) yang berbeda satu sama lainnya.

Jika kata kemerdekaan itu, dimaknai sebagai suatu kebebasan, tentu jawabannya pendidikan Hindu sudah dapat dikatakan merdeka. Akan tetapi ketika kata merdeka itu dimaknai "mampu berdiri sendiri" maka jawabanya adalah relatif. Artinya, pendidikan Hindu dikatakan merdeka ketika umatnya yang mempelajari ilmu pengetahuan mampu memerdekakan dirinya, dari rasa kebodohan, ketertindasan, sampai pada rasa keter tinggalan. Untuk bisa mencapai hal itu, manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan perlu menyeimbangkan (mengharmoniskan) antara pengetahuan duniawi dengan pengetahuan rohani (paravidya dan aparavidya). Namun, sebaliknya ketika umat yang mempelajari ilmu pengetahuan dari Veda belum mampu membebaskan dirinya dari segala rasa kebodohan, ketertindasan, dan ketertinggalan, maka pendidikan Hindu belum bisa dikatakan merdeka.

Harmonisasi pengetahuan duniawi dengan pengetahuan rohani dapat dijelaskan sebagai berikut. Dengan pengetahuan duniawi, manusia akan dapat memenuhi segala kebutuhan jasmaninya, sedangkan dengan pengetahuan rohani manusia dapat memenuhi kebutuhan rohaninya. Terkait dengan persoalan tersebut dan untuk bisa mendapatkan pengetahuan, baik pengetahuan duniawi maupun pengetahuan rohani, manusia harus berupaya secara sungguh-sungguh dan dengan kepercayaan diri yang mantap untuk mempelajari kedua bentuk ilmu pengetahuan tersebut.

Sejalan dengan itu Svami Vivekananda pernah menyatakan bahwa "kepercayaan pada diri sendiri dan kepercayaan kepada Tuhan merupakan rahasia yang agung". Untuk memahami apa yang ada di balik rahasia yang agung ini, manusia perlu memperdalam kedua bentuk pengetahuan tersebut, yakni pengetahuan duniawi dan pengetahuan rohani. Terkait dengan hal itu, melalui pendidikan Hindu umat perlu memantapkan rasa percaya pada dirinya sendiri dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh karenanya, pendidikan Hindu dikatakan merdeka, ketika umat yang mempelajari ilmu pengetahuan di dalamnya memperoleh kebebasan untuk membina rasa percaya pada dirinya sendiri dan rasa percaya kepada Tuhan. Sebab adanya kepercayaan pada diri sendiri diyakini akan dapat menimbulkan keyakinan terhadap kedewataan yang ada dalam diri mereka sendiri. Dengan kata lain, pendidikan Hindu dikatakan merdeka apabila dalam aplikasinya dapat menyeimbangkan pengetahuan duniawi dengan pengetahuan rohani (pengetahuan atma atau Atma Vidya). Dalam kaitan itu, Maharsi Vyasa mengatakan "Para Deva adalah contoh ilmuan yang dapat menyeimbangkan kedua pengetahuan tersebut".

Oleh: I Ketut Suda, Guru Besar Sosiologi Pendidikan UNHI Denpasar
Source: Wartam, Edisi 18, Agustus 2016
 
7/Wartam/edisi 18/Agustus/2016