Strategi Pembelajaran Agama Hindu

Salah satu fungsi guru adalah meningkatkan mutu dan kwalitas pembelajaran yang diterapkan dalam kegiatan proses belajar dan mengajar dengan mengembangkan dan menganalisa kurikulum yang berlaku. Pembelajaran merupakan upaya atau usaha dalam menerapkan sistem proses belajar dan mengajar, yakni perangkat obyek-obyek yang terdiri dari komponen-komponen yang saling bergantung. Dalam menganalisa situasi penerapan kegiatan proses pembelajaran di Sekolah Menengah, maka pemanfaatan komponen-komponen yang perlu ditingkatkan oleh seorang guru Pendidikan Agama Hindu dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik adalah:

1. Mengadakan analisa yang jelas mengenai relevansi dan kaitan antara kompetensi standar, kompetensi dasar, materi pokok dan indikator-indikator hasil pembelajaran yang diharapkan.
2. Kemampuan membimbing penga-laman belajar dan keaktifan belajar peserta didik.
3. Kemampuan menggunakan ber-bagai sumber dan media belajar.
4. Kemampuan menggunakan dan menerapkan metode dan tehnik mengajar yang lebih berdaya guna dan berasil guna.
5. Kecermatan mengadakan analisa terhadap kesulitan-kesulitan belajar dan kebutuhan belajar peserta didik, dan
6. Mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.

Pada umumnya kegiatan proses pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian suatu kompetesi, mengisyaratkan bahwa seorang guru Pendidik Agama Hindu hendaknya menguasai sejumlah kemampuan mengenai perencanaan, cara mengorganisasi dan pelaksanaan proses pembelajaran itu sendiri. Karena itu maka seorang guru dapat memperkaya wawasannya terhadap klasifikasi sistem pembelajaran yang ingin diterapkan ke dalam kegiatan proses pembelajaran Pendidikan Agama Hindu sesuai dengan KTSP.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal dan efisien serta efektif, maka seorang guru hams menetapkan strategi pembelajaran yang diterapkan. Pada umumnya ada beberapa cara menetapkan strategi pembelajaran, yaitu:

1. Strategi yang berorientasi pada tujuan. Tujuan disini biasanya adalah aspek tingkah laku yang diharapkan. Jadi ukurannya adalah tingkah laku yang bagaimana diharapkan setelah peserta didik memperoleh pengalaman belajar.
2. Strategi yang berorientasi pada peserta didik. Apabila yang menjadi ukuran adalah peserta didik, aka strategi yang digunakan adalah untuk memenuhi kebutuhan peserta didik sesuai dengan minat dan kemampuannya, dan
3. Stategi yang berorientasi pada materi. Apabila di dalam pembelajaran itu materi pembelajaran yang diutamakan, maka strategi yang digunakan adalah mengutamakan materi pelajaran.

Berdasarkan kriteria prinsip strategi di atas, maka seorang guru Pendidik Agama Hindu dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran diharapkan menggunakan strategi belajar mengajar yang berorientasi pada peserta didik yang mengutamakan penanaman nilai-nilai penghayatan dan pengalaman ajaran agama Hindu yang diwujudkan dalam bentuk sikap dan tingkah laku. Karena demikian, maka dalam meningkatkan profesi belajar mengajar, maka seorang guru hendaknya mampu mengembangkan matra efektif dengan tujuan untuk meningkatkan keyakinan yang ditanamkan.

Dalam kegiatan proses belajar mengajar Pendidikan Agama Hindu di SMA, susunlah strategi belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik materi pokok atau materi pelajaran yang diajarkan. Tekankanlah bahwa Pendi-dikan Agama Hindu dalam penerapannya selalu berupaya membina keutuhan, kebulatan dan kesinambungan dalam wujud pembinaan konsep nlai-nilai ajaran agama, terutama yang berkaitan dengan materi pelajaran, seperti :

(1). Sejarah Agama Hindu,
(2). Kepemimpinan,
(3). Yajna,
(4). Hari Suci,
(5). Tempat Suci,
(6). Kitab Suci, dan
(7). Susila, sehingga terbentuk manusia yang memiliki wawasan dan cakrawala berpikir yang luas, krilis dinamis, rasional, memiliki moralitas dan integritas yang tinggi dan mampu mengembangkan pola hidup yang selaras, serasi dan seimbang, baik antara jasmani dan rohani, material dan spiritual, dunia dan akhirat, maupun antara kehidupan pribadi dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam strategi tersebut, nilai-nilai dasar agama yang dikembangkan perlu dijabarkan kedalam rumusan yang lebih operasional yaitu nilai-nilai instrumen yang dapat mempengaruhi pola pikir dan sikap pengembangan prilaku peseta didik. Nilai-nilai dasar yang dimaksud adalah Sraddha dan bhakti (iman dan takwa) serta budipekerti yang luliur yang dapat ditumbuhkembangkan melalui kemantapan beragama. Sedangkan nilai-nilai instrumen merupakan penjabaran dari nilai-nilai dasar yang dapat dikaji kompetensi dasar yang dapat dianalisa melalui indikator-indikator yang ditanamkan.

Pengembangan Pendidikan Agama Hindu pada Tingkat Sekolah Menengah pada prinsipnya agar memperhatikan hal-hal seperti berikut : (1). Tingkat pengembangan dan kemampuan peserta didik. (2). Sikap dan prilaku serta pengetahuan pesrta didik. (3). Target perolehan hasil belajar yang dinyatakan dalam KTSP Pendidikan Agama Hindu Sekolah Menengah Atas. (4). Kondisi lingkungan belajar peserta didik. (5). Aspirasi peserta didik dan masyarakat yang bersangkutan. (6). Proyeksi harapan peserta didik dan kehidupannya. (7). Kemampuan, pengalaman, kreativitas, persiapan, metode, pendekatan, kondisi fisik dan emosional guru yang bersangkutan. (8). Kegiatan proses belajar mengajar yang menuntut peserta didik lebih efektif, dan (9). Bahan atau materi yang harus dikaji dan diserap oleh peserta didik.

Disamping hal tersebut, juga diharapkan dalam penerapan kegiatan proses pembelajaranan, dapat meng-gunakan dan menentukan metode-metode yang tepat, sehingga pelaksanaan pembelajar dapat terlaksana dengan efektif dan efisien serta berdaya guna dan berasil guna. Sebagai suatu sistem, program pembelajaran mengandung sejumlah komponen, antara lain tujuan, bahan, peserta didik, guru, metode, situasi dan evaluasi. Kesemuanya saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Karena demikian dalam mengembangan suatu kegiatan pembelajaran seorang guru pendidik agama Hindu harus memperhatikan sistem pembelajaran itu dengan sebaik-baiknya, seperti tujuan apa yang hendak dicapai dalam pembelajarannya, materi pokok apa yang perlu diberikan, metode atau alat mana yang digunakan, prosedur apa yang ditempuh dalam mengevaluasi kemajuan belajar peserta didik dan lain sebagainya.

Semuanya itu menjadi agenda bagi seorang guru untuk memadukan komponen-komponen tersebut, sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat mencapai tujuan yang optimal. Sebagaiman ayang diketahui bahwa dalam keseluruhan kegiatan pembelajaran seorang guru merupakan pemegang peranan yang penting, yaitu sebagai pendidik yang bertanggung jawab atas berasil tidaknya proses pendidikan. Seorang guru Pendidik Agama Hindu wajib mengetahui batas-batas ruang lingkup materi yang telah dimiliki dan dikuasai oleh peserta didik, tingkatan dan tahapan materi seperti kawasan kemampuan kognitif, efektif dan psikomotor fungsi psikofisik, seperti, mengamati, mengingat, berpikir, sikap, motivasi dan lain-lainnya. Seorang guru Pendidik Agama Hindu hendaknya mampu memilih strategi pembelajaran yang sesuai dan memadai serta men dukung tercapainya tujuan pembelajaran yang maksimal.

Dalam memilih strategi pembelajaran ini seorang guru hendaknya mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan dinamis, artinya untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang optimal, maka seorang guru harus tanggap, kritis dan kreatif dalam menemukan dan menciptakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Umpama, pada salah satu kondisi tertentu, seorang guru Pendidik Agama Hindu dalam menyajikan bahan atau materi tidak menyampaikan dalam bentuknya yang final. Artinya, seorang guru perlu juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan menemukan sendiri dengan menggunakan tehnik pendekatan pemecahan masalah. Misalnya seorang guru mulai pembelajaran dengan bertanya mengajukan persoalan, atau menyuruh peserta didik membaca atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan. Kemudian peserta didik diberikan kesempatan mengidentifikasi berbagai permasalahan, sebanyak mungkin memilihnya yang dipandang menarik dan fleksibel untuk dipecahkan.

Permasalahan yang dipilih tersebut selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan. Selanjutnya, untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya parnyataan tersebut peserta didik diberikan kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan. Semua nformasi itu diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasikan, bahkan kalau perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat pendugaan tertentu. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran tersebut pertanyaan atau pernyataan yang telah dirumuskan kemudian dicek, apakah terjawab, terbukti atau tidak, Tahap selanjutnya adalah berdasarkan hasil verifikasi tadi guru menarik kesimpulan tertentu.

Pada situasi yang lain, seorng Guru Pendidik Agama Hindu mungkin memilih penyajian bahan pembelajaran dengan menggunakan sistim expository learning. Dalam hal ini guru menyajikan bahannya dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi. sistematik dan lengkap sehingga peserta didik tinggal menyimak dan mencermatinya secara tertur dan tertib. Secara garis besar cara ini dimulai dengan: (1) preparasi, yakni guru menyiapkan bahan selengkapnya dengan sistematis dan rapi, (2) apersepsi, yakni guru bertanya atau memberikan uraian singkat untuk mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan diajarkan, (3) presentasi, yakni guru menyajikan bahan dengan cara memberi ceramah atau menyuruh peserta didik membaca bahan yang telah dipersiapkan, dan (4) resitasi, yakni guru bertanya dan peserta didik menjawab sesuai dengan bahan yang dipelajari, atau peserta didik yang disuruh menyatakan kembali dengan kata-kata sendiri pokok-pokok yang telah dipelajari.

Adanya variasi sistem pembelajaran ini mencerminkan adanya suatu kecenderungan tarif penguasaan bahan ini dengan mengingat adanya pariasi kemampuan (intelektual dan bakat) dari peserta didik yang variatif. Karena demikian, maka bahan pelajaran harus terinci dan diorganisasi kedalam satuan-satuan tertentu sampai kepada satuan-satuan terkecil yang bermakna dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari satuan yang lebih besar. Dalam hal ini, seorang guru Pendidik Agama Hindu harus mengembangkan pola pembelajaran terprogram yang menitikberatkan adanya upaya membantu peserta didik agar ia sanggup mencapai perwujudan dirinya sesuai dengan kemampuan dasar dan keunikan yang dimilikinya. Karena demikian guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dengan pengolaan suasana belajar yang mampu menimbulkan gairah belajar peserta didik.

Pengelolaan suasana belajar yang baik dapat dilakukan dengan cara pengelolaan kelas atau pengaturan ruang belajar. Hal ini merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Pengelolaan kelas merupakan bagian dari proses belajar mengajar yang perlu disestiaikan dengan metode, bahan, media dan lain-lainnya dalam kerangka untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Dengan demikian dalam pengelolaan kelas seorang guru perlu mengembangkan kemampuan dan sikap serta nilai yang berhubungan dengan sistim pengorganisasian keas yang baik. Seorang Guru Pendidik Agama Hindu perlu memperkaya wawasan mengajarnya dengan beberapa kemampuan didalam mengelola kelas ini sehingga proses belajar mengajar yang dilakukannya dapat mencapai sasaran seoptimal mungkin.

Dalam pengorganisasian kelas terdapat dua hal yang turut menentukan berhasil atau tidaknya suatu proses belajar mengajar, yaitu pengaturan kelas dan pengajarannya itu sendiri. kedua hal tersebut akan saling mempengaruhi. Kelas yang diatur secara tepat dapat menciptakan suasana yang wajar, tanpa tekanan efektif. Suasana demikian merupakan titik awal keberhasilan pembelajaran. Untuk dapat terciptanya suasana belajar yang menggairahkan serta memungkinkian terjadinva komu-nikasi dua arah, maka diperlukan pengorganisasian kelas dengan memperhatikan hal - hal sebagai berikut:

(1) Pengaturan ruan belajar, yakni suatu usaha untuk menciptakan suasana belajar yang aktif, perlu memperhatikan pengaturan ruang belajar. Pengaturan itu hendaknya memungkinkan peserta didik untuk berkelompok dan memudahkan guru secara leluasa membimbing dan membantu peserta didik dalam belajar. pengaturan ruang belajar hendaknya memperhatikan hal-hal berikut; (a) Bentuk dan luas ruang kelas, (b) Bentuk dan ukuran bangku atau kursi dan meja peserta didik, (c) Jumlah peserta didik pada tingkat kelas yang bersangkutan, (d) Jumlah kelompok dalam kelas, dan (e) Jumlah peserta didik dalam tiap kelompok;

(2) Pengaturan belajar kelompok, yaitu pengaturan peserta didik secara susunan anggota kelompok perlu diperhatikan, yaitu antara lain: jumlah kelompok dalam satu.kelas dan jumlah anggota dalam tiap kelompok ditentukan oleh banyaknya peserta didik dalam kelas, jenis kegiatan dan luas ruang. Jumlah anggota per kelompok tersebut dapat bervariasi tergantung pada jenis kegiatan yang akan dilakukan. Dengan demikian ada jenis kegiatan yang menutut pengelompokan peserta didik secara berpasangan, bertigaan, berempatan, bahkan ada jenis kegiatan yang memerlukan pengelompokan peserta didik dalam dua atau tiga kelompok besar.

Berbagai faktor seperti kemajuan belajar tiap peserta didik, kebutuhan anak-anak tertentu, kepentingan sosialisasi peserta didik yang sulit bergaul turut diperhitungkan guru dalam penentuan dan pemindahan anggota kelompok. Dalam belajar Pendidikan Agama Hindu yang dilakukan secara berkelompok, hendaknya setiap anggota kelompok berperan serta dalam melaksanakan tugas. Peran serta itu handaknya dinyatakan secara jelas. Dengan demikian untuk memudahkan belajar berkelompok, maka penyusunan meja dan kursi di dalam kelas harus sedemikian rupa, sehingga guru dan peserta didik dapat bergerak secara leluasa dan tidak merasa kaku.

Kegiatan belajar akan berjalan secara terarah dan mencapai tujuannya, apabila dalam proses pembelajarannya tersedia berbagai fasilitas yang diperlukan. Fasilitas tersebut pada umumnya bersifat fisik material maupun yang bersifat mental psikologis. Sehubungan dengan itu, maka seorang guru pendidikan Agama Hindu dalam pengelolaan belajar mengajar memiliki tugas dan fungsi yaitu;

(a) Merencanakan instruksional, yaitu alat atau media untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan operasional belajar;
(b) Mengorganisasi belajar dengan baik, hal ini merupakan usaha menciptakan wadah dan fasilitas atau lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan dan mengandung serta mendukung tercapainya tujuan pembelajaran secara optimal;
(c) Menggerakkan peserta didik yang merupakan usaha memancing, membangkitkan dan mengarahkan motivasi belajar peserta didik. Penggerak atau motivasi disini pada hakikatnya bermakna lebih daripada memerintah, mengarahkan, mengaktualkan dan memimpin;
(d) Supervisor atau pengawas, yaitu usaha mengawasi, menunjang, membantu, menugaskan dan mengarahkan kegiatan belajar peserta didik sesuai dengan perencanaan instruksional yang telah didesain sebelumnya.

Apabila diperhatikanbahwa dalam rangka meningkatkan hasil belajar dalam bentuk pengaruh instruksional, maka seorang guru Pendidikan Agama Hindu hendaknya pandai memiilih apa isi bahan pengajaran dan bagaimana proses pembelajaran itu seyogyanya dikelola. Dalam hal ini perlu dibedakan dua jenis belajar, yaitu belajar konsep dan belajar ketrampilan proses. Belajar konsep menekankan perolehan dan pemahaman fakta dan prinsip, lebih banyak bergantung pada apa yang diajarkan oleh seorang guru dan lebih bersifat kognitif. Sedangkan belajar ketrampilan proses, adalah belajar ihwal bagaimana bahan pelajaran itu diajarkan dan dipelajari.

Apabila ihwal belajar ketrampilan proses itu dikaitkan dengan pembelajaran yang berbasis kompetensi, maka akan tampak berbagai kesamaan konseptual, dengan ciri-cirinya yang menekankan pada ; (1) pentingnya kebermaknaan belajar untuk mencapai hasil belajar sesuai dengan kompetensi yang diharapkan; (2) Pentingnya keterlibatan peserta didik di dalam proses belajar; (3) Belajar adalah proses dua arah yang dapat dicapai oleh peserta didik; dan (4) kompetensi yang diharapkan, disamping yang berkaitan dengan kognitif (pengetahuan) dan efektif (sikap), juga psikomotor (ketrampilan) secara seimbang.

Tugas utama guru pendidikan Agama Hindu adalah menciptakan suasana pembelajaran agar terjadi interaktif belajar-mengajar yang dapat memotivasi peserta didik untuk belajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Seorang guru seyogyanya memiliki kemampuan untuk melakukan interaksi belajar mengajar yang baik. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki adalah kemampuan untuk mengatur proses belajar mengajar (PBM). Peserta didik akan dapat belajar dengan baik dan penuh gairah dalam suasana yang wajar, tanpa tekanan dan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar. Untuk menciptakan suasana belajar yang dapat menumbuhkan gairah belajar dan meningkatkan prestasi belajar peserta didik, diperlukan adanya upaya pengorganisasian proses pembelajaran yang memadai. pengorganisasian proses pembelajaran ini adalah rentetan kehiatan yang harus dilakukan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajarannya yaitu; (1) tujuan pembelajaran, (2) waktu; (3) pengaturan peserta didik dalam belajar.

Tujuan pembelajaran ini merupakan pangkal tolak keberhasilan dalam pelaksanaan pembelajaran. Semakin jelas tujuan pembelajaran yang dirumuskan, maka akan semakin mudah seorang guru dalam membuat perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran itu sendiri. Perlu diperhatikan dalam merencanakan dan merumuskan tujuan pembelajaran yaitu kemampuan dan nilai-nilai apa yang hendak dikembangkan pada diri peserta didik; apakah dalam rangka pencapaian tujuan tersebut dapat dilakukan dalam waktu sekaligus atau secara bertahap; apakah waktu yang tersedia cukup memadai dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Selanjutnya adalah waktu yang tersedia untuk setiap pertemuan dalam program untuk setiap semester dan untuk program pembelajaran satu tahun yang harus ditentukan di dalam kalender pendidikan. Disini diperlukan adanya kecermatan dalam pengaturan waktu yang tersedia. Dengan pengaturan waktu, pelaksanaan pembelajaran diharapkan peserta didik dapat melakukan berbagai kegiatan belajar dalam rangka mewujudkan tujuan pembelajaran. Karena demikian waktu yang tersedia hendaknya diisi dengan kegiatan - kegiatan yang bermanfaat dan efektif.

Dalam pengaturan belajar peserta didik dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta didik itu sendiri. Ada peserta didik yang dapat belajar sendiri, dan ada yang dapat belajar dengan cara berkelompok. Di dalam penyusunan anggota kelompok, hal-hal yang harus diperhatikan antara lain: (1) Kegiatan belajar apa yang akan dilaksanakan, individual atau kelompok (2) siapa yang menyusun anggota kelompok (guru, peserta didik atau guru dengan peserta didik), (3) atas dasar apa kelompok itu disusun, dan (4) apakah kelompok itu selalu tetap atau berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan cara belajar peserta didik. Semuanya ini agar dijadikan pertimbangan-pertimbangan di dalam pengaturan peserta didik di dalam belajar, sehingga proses pembelajaran dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya serta tercapainya tujuan pembelajaran yang optimal.

Disamping di dalam kelas, peserta didik juga perlu dibimbing dengan belajar ketrampilan proses, yaitu proses pembelajaran yang harus dilakukan oleh para peserta didik dengan cara melakukan praktek-praktek, terutama yang berkaitan dengan materi-materi yang menuntut sebuah ketrampilan, seperti praktek sembahyang, praktek Yajna, yoga, melakukan meditasi dan lain sebagainya. Patut disadari bahwa pembelajaran proses ini adalah pembelajaran yang melibatkan berbagai aktivitas peserta didik. Untuk itu seorang guru pendidikan Agama Hindu harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan peserta didik. Salah satu cara adalah dengan jalan melaksanakan dharmayatra atau thirtayatra atau juga karyawisata.

Cara-cara ini dapat dilakukan dengan membawa peserta didik untuk belajar di luar ruangan kelas menuju tempat yang kira-kira peserta didik dapat melakukan sesuatu kegiatan pembelajaran yang sangat bermakna dan ada kaitannya dengan materi pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah. Dengan demikian pengetahuan dan pemahaman para peserta didik bertambah berkat pengalamannya selama melaksnakaan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Dalam kegiatan ini, seorang guru diharapkan mampu mengembangkan pola-pola pembelajaran yang mencerminkan adanya suatu kesatuan sistem, berkesinambungan, variatif dan dinamis. Dengan demikian, suasana belajar akan lebih bersifat integratif dengan fenomena belajar aktif peserta didik diharapkan memiliki dimensi konseptual dan operasional praktek-praktek pengetahuan keagamaan yang diterapkan pada kehidupan nyata.

Oleh: Made Awanita
Source: Warta Hindu Dharma NO. 538 Oktober 2011