Siwarartri: Anugerah Siwa

Anugerah Siwa Siwa ratri yang jatuh pada purwanining tilem sasih kapitu, merupakan hari suci yang sangat istimewa, dimana Siwa sebagai pelebur segala dosa memberikan grasi pada para "pemburu " yang naik pada pohon "kesadaran" bilva dan menghindari serangan binatang buas "sad ripu", dengan sadar melakukan jagra semalam suntuk sambil memetik daun bilva kemudian melemparnya pada kolam "sang diri" dimana terdapat sebuah Siva Lingga nora ginawe.

Anugeraha merupakan aktivitas dari Bhatara Siwa sendiri dan Untuk memahami lebih jauh tentang 'anugraha' ini dapat ditelusuri dalam Kakawin Arjunawiwaha. Untuk menguji keteguhan hati Arjuna, Bhatara Siwa mengutus bidadari tercantik di kahyangan untuk menggoda Arjuna. Bidadari adalah simbol Shakti (maya) yang diciptakan untuk 'mengaburkan' kesadaran jiwa. Selain itu, Bhatawa Siwa juga menciptakan ilusi berupa babi hutan yang dipanah oleh Bhatara Siwa dan Arjuna secara bersamaan, dan menjadi rebutan. Setelah Arjuna berhasil mengatasi ilusi-ilusi (maya) ini, maka muncullah Bhatara Siwa dalam wujud asli-Nya untuk memberikan anugerah Pasupati atau Cadusakti. Syair-syair pemujaan terindah kepada Siwa dihaturkan Mpu Kanwa dalam Kakawin Arjunawiwaha, yaitu sembah yang utama dan hanya ditujukan kepada Siwa tiada yang lain ('....wahyadyatmika sembahning hulun ijong ta tan hana waneh...").

Siwa sebagai pemberi anugerah ini juga dijelaskan dalam berbagai teks kesusasteraan Hindu yang lain, misalnya dalam Ramayana. Tapa-brata yang teguh dari Rahvana berbalas dengan anugerah kekuatan dan kesaktian yang tiada tanding. Begitu juga cerita tentang Niwatakawaca yang dianugerahi kekuatan yang tak terkalahkan dalam triloka menunjukkan bahwa Siwa tidak pernah membeda-bedakan siapapun pengikutnya yang telah melaksanakan ajaran-ajarannya. Problematika konsep 'karmaphala' dan 'anugeraha ' ini bahkan telah mendapat justifikasi dalam Siwastawa dan Bhagawadgita, sebagai berikut.

Asucirwa sucir wapi,
sarwa kama gato'pi wah,
cintayed dewa Isanam,
sabahyambhyantara sucih.

(Orang, apakah ia suci atau
tidak suci, bahkan diliputi
oleh nafsu sekalipun, bila ia
tekun memuja Siwa,
ia menjadi suci lahir-bathin)
(Siwastawa, 7).

Api cet su duracaro,
bhajate mam ananya bhak,
sadhur ewa sa mantaw yah,
samyag wyawasito hi sah.

(Bahkan orang yang terjahat sekalipun,
bila ia memusatkan pikirannya untuk memuja-Ku,
ia mesti dipandang sebagai orang yang baik,
karena bertindak menuju yang benar')
(Bhagavadgita, IX.30).

Kedua sloka di atas menegaskan bahwa pemujaan yang dilaksanakan dengan penuh kesungguhan hati dan rasa tulus ikhlas akan membebaskan seluruh karma buruk, semata-mata karena anugerah Siwa. Sebuah ungkapan filosofis yang dapat dijadikan renungan bahwa 'agama bukan hanya milik orang baik, tetapi ia adalah milik semua orang yang menginginkan kebaikan'. Dengan memahami konsep anugraha sebagai bagian dari aktivitas kemahakuasaan Siwa, problematika Siwaratri yang selama ini dapat sedikit tercerahkan. Tiada yang tidak mungkin dalam anugerah Siwa.

Siwaratri: Memuja dan Berburu Anugerah Siwa

Berpijak pada prinsip-prinsip Siwaisme prinsip dualisme-paradoks (binari oposisi) yang menjadi aspek utama dari Rudra-Siwa atau Siwa-Shakti menjadi basis dalam menyampaikan pesan estetitis-religius Siwaratri-kalpa. Esensi paradoks inilah yang hendak dipahami dalam memuja Siwa.

Siwa artinya yang memberikan keuntungan, yang baik hati, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang, dan yang membahagiakan (Monier, 1990:1074). Ratri artinya malam, gelap. Masalah paradok Siwaratri adalah oposisi berpasangan antara siwa dan ratri. Kata siwa menunjukkan "siang, kesadaran, cinta kasih, kebenaran, kedamaian dan segala yang bernilai luhur lainnya". Siang adalah interprestasi waktu manusia sadar diri (tutur, atangi). Sedangkan kata ratri menandakan "malam, kealpaan, papa, kekerasan, serta segala bernilai rendah lainnya". Malam yang gelap adalah simbol kelupaan diri atau ketaksadaran (papa, aturu, raga).

Dalam Wrhaspatitattwa 34 dijelaskan bahwa manusia dibelenggu oleh raga atau indriya yang dinyatakan sebagai orang yang aturu (tidur) dan inilah yang disebut papa. Sementara itu, kalpa berarti periode atau waktu. Waktu (kala) adalah tanpa batas, bersifat siklis, dan menguasai sepanjang garis eksistensi kehidupan manusia. Terang-gelap, baik-buruk, dan seterusnya akan senantiasa membayangi seluruh kehidupan manusia, karena ia berada dalam hati setiap insan. Kakawin Ramayana menyebutkan "...ragadi musuh maparo, ri hati ya tonggwa-nia, tan madoh ring awak" (...yang disebut dengan musuh, di hatilah tempatnya, tidak jauh dari badan). Musuh dalam diri adalah sadripu, yaitu kegelapan yang menyebabkan belenggu-belenggu atman (papa). Sadripu mewakili sifat-sifat 'kebinatangan' utama yang ada dalam diri manusia. Dalam Siwaratrikalpa diceritakan bahwa Si Lubdhaka adalah pemburu binatang (sato), seperti harimau (mong), babi hutan (wek), gajah (gaja) dan badak (warak). Melenyapkan sadripu dalam diri adalah bekal utama melakukan pemujaan kepada Siwa, seperti disampaikan Ida Ketoet Dj lantik dalam Sucita-Subudi "...ku-kusing sadripu dadgi..." (asap sadripu yang terbakar).

Dalam konteks yang berbeda juga dapat dipahami bahwa perburuan Si Lubdhaka dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Di sini, teks Siwaratrikalpa menyampaikan paradoks tentang 'pembunuhan' (asubha-karma) dan 'kewajiban' (subha-karma). Permainan kata Mpu Tanakung dari 'sato' atau 'satwa' (binatang) menjadi 'sattwa' (kebenaran, kebajikan) mengungkapkan makna simbolis tentang transformasi sadripu. Sato (binatang) sebagi simbolis sadripu (guna-rajas-tamas), akan menjadi kekuatan bila ditransformasi menjadi 'sattwa' (guna-sattwam). Satwam, rajas, tamas adalah shakti-maya (kekuatan) yang ada dalam diri manusia. Ia dapat menjadi sumber dari segala belenggu (papa), tetapi ketika guna sattwam yang dominan akan bersifat membebaskan "...panentasakena ring su-bhakarma juga ikang su-bhakarma, phalaning dadi wwang" (...leburlah ke dalam perbuatan baik segala perbuatan buruk itu, begitulah gunanya menjadi manusia) (Sarasamuccaya 2).

Wacana perburuan anugerah Siwa dalam Siwaratrikalpa dimulai dari perjalanan Si Lubdaka ke arah airsanya (timur-laut) dengan membawa panah. Dalam konsep Siwaistis, timur-laut (kaja-kangin) adalah arah suci dalam pemujaan Siwa. Dilanjutkan dengan cerita Si Lubdhaka yang menaiki pohon Bilwa dan memetik satu demi satu daunnya agar tetap terjaga. Tanpa disadari, dalam danau (ranu, danu) di bawahnya terdapat sebuah lingga yang tidak pernah dibuat (lingga nora ginawe). Dalam konteks bhakti dapat dipahami bahwa cerita Si Lubdhaka melakukan pemujaan tanpa sadar, merupakan wujud pemujaan Siwa yang paling utama. Hal ini dapat dirujuk dalam teks Arjunawiwaha ketika Arjuna mendapatkan anugerah Siwa berupa Pasupati, yakni "stutinira ta ('an') tulus, sinahuran paramartha Siwa..." (pemujaannya yang begitu tulus, mendapatkan jawaban dari Bhatara Siwa...). Ini melambangkan yogasastra Mpu Tanakung, yaitu pemujaan kepada Siwa dalam kesadaran yang konstan (samadhi). Dalam keadaan samadhi (kesadaran penuh dan konstan) inilah Hyang Siwa menampakkan diri-Nya yang disimbolkan dengan lingga nora ginawe pada danau yang jernih. Cerita ini dapat dimaknai lebih dalam dengan menyimak satu bait Kakawin Arjunawiwaha, sebagai berikut.

"Sasi wimba haneng gata mesi banyu,
Ndan asing suci nirmala mesi wulan,
Iwa mangkana rakwa kiteng kadadin,
ri sang ambeki yoga kiteng sakala "

Artinya:

Ibarat cahaya bulan di tempayan berisi air jernih,
Pada air yang tenang dan jernih itulah banyangan bulan tampak,
Demikianlah sesungguhnya penampakan Tuhan dalam kehidupan,
Kepada orang yang melaksanakan yoga, Beliau menampakkan diri.

Kemudian sastra suci Bhagawadgita menyuratkan Kemampuan membedakan yang nyata dengan yang maya hanya mungkin diperoleh sebagai anugrah Siwa semata dimana Gita menyebutnya sebagai Buddhi-Yoga.

tesam satata-
yuktanambhajatam priti-
purvakam
dadami buddhi-yogam tamyena mam upayanti te

Terjemahan:
Kepada mereka yang dengan tekun memuja-Ku dalam cinta kasih bhakti,
Aku memberikan Buddhi-Yoga,
kecerdasan spiritual yang baik,
kepada mereka yang memungkinkan mereka datang kepada-Ku
(BG. X.10)

Maka Siwa ratri adalah sebuah proses penyadaran diri akan adanya sang diri sejati yaitu atman sebagai Siwa terdekat. Ia yang maha suci hanya mungkin dijumpai dengan kesucian saja, dan kesucian lahir dari sebuah bhakti yang tulus yang diwujudkan dalam sadhana (praktek spiritual).

Selanjutnya, ketika Si Lubdhaka telah meninggal dan atma-nya dibawa ke Siwaloka terjadilah percakapan antara Bhatara Yama dan Bhatara Siwa tentang alasan Si Lubdhaka mendapatkan anugerah Siwa. Bhatara Siwa menjelaskan tentang keutamaan Brata Siwaratri, yaitu upawasa, monabrata, dan jagra. Dijelaskan bahwa siapapun yang melaksanakan Brata Siwaratri dengan benar disertai dengan pemujaan tulus ikhlas kepada Siwa, maka Siwa akan memberikan anugerah kepadanya dan mendapatkan tempat di Siwalaya atau Siwaloka. Secara simbolis dapat dipahami bahwa Brata Siwaratri berhubungan dengan upaya penyucian trikaya, yaitu manah (pikiran), wak (perkataan), dan kaya (perbuatan). Upawasa (tidak makan-minum) berhubungan dengan pengendalian perbuatan, monabrata (tidak berbicara) adalah pengendalian ucapan, dan jagra (tidak tidur, selalu sadar) adalah pengendalian pikiran agar selalu tertuju hanya kepada kesucian (Siwa).

Demikianlah teks Siwaratrikalpa menguraikan tentang pemujaan kepada Siwa untuk mendapatkan anugerah-Nya. Siwaratri adalah malam peleburan papa (keterbelengguan) melalui brata ('pengendalian diri'), punya ('pembebasan'), dan bhakti ('pemujaan') yang ditujukan sepenuhnya kepada Siwa. Melalui pelaksanaan Siwaratri yang benar, niscaya anugerah Siwa akan diperoleh. Siwaisme mengajarkan jalan tengah bahwa moksa tidak hanya dapat dicapai dengan tapa, brata, yoga, dan samadhi, tetapi juga melalui bhakti. Penjelasan ini kiranya dapat merangkum seluruh pengalaman religius umat Hindu dalam melaksanakan malam Siwaratri sesuai dengan kualitas diri.

Source : I Gede Adnyana, S.Ag-Bontang l Wartam Edisi 11 - Januai 2016