Siwa Nataraja: Filsafat dan Estetikanya

1. Pendahuluan

Eksistensi Siwa Nataraja sebagai sebuah fenomena agama, filsafat, spiritualitas dan budaya di dalam kebudayaan India, khususnya India Selatan memang menarik direnungkan manakala kita ingin mengembangkan seni yang dihajatkan untuk pembebasan. Konsep Siwa Nataraja dapat memberikan arah yang jelas proses kreatif dalam berkesenian. Di tengah-tengah aktivitas berkesenian yang berorientasi kepada pasar, kiranya memahami kembali landasan seni yang tidak hanya untuk kesejahteraan masyarakat, menyucikan alam semesta, tetapi juga untuk pendakian diri, mendekatkan diri kepada asal mula semua keberadaan menjadi tidak hanya penting tetapi memang mendesak perlu dilakukan penyadaran kepada insan seni. Jika hal ini terus dilakukan, maka berkesenian apapun jenis dan medianya akan menjadi penghalang dan beban pendakian menuju maha purusa artha. Alhasil, sia-sialah waktu, energi dan dana terbuang begitu saja, jika dilihat dari perspektif rohani.

Dengan pembukaan di atas, maka tulisan ini ingin membahas (1) latar sejarah yang melahirkan Siwa Nataraja, (2) filsafat yang melandasai konsep Siwa Nataraja,dan (3) nilai estetika dan mistik yang terkandung di dalam Siwa Nataraja. Pada bagian akhir akan diberikan kesimpulan umum. Berikut ini topik-topik dimaksud dicoba dibahas.

2. Latar Belakang

Ikonografi Siwa dalam wujud Nataraja demikian banyak jumlahnya dalam berbagai bentuk, bahan, gaya, zaman merasuki semua kesenian India. Bayangan Siwa sedang menari dalam postur yang eksotik dan artistik segera hinggap di dalam benak kita. Seni patung, pahat, lukis, drama, tari, arsitektur, dan lain-lain mendapatkan inspirasi dan landasan filsafat dan estetika dari konsep Siwa Nataraja, Siwa sebagaipenguasa tari, sebagai penari kosmis. Hampir semua museum di India mengkoleksi patung Siwa Nataraja dalam berbagai bahan dan ukuran. Koleksinya tidak hanya berasal dari dalam negeri India tetapi dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Boleh dikatakan Siwa Nataraja adalah maskot atau lambang estetika India yang sekarang telah merambah dunia.

Kapila Vatsyayana, seorang kritikus seni besar mengungkapkan kekagukammnya dan mengatakan, "Lebih dari 2000 tahun, patung Siwa yang sedang menari telah membuat para pujangga, pematung, pelukis, musisi kagum; sementara drama, puisi, patung dan lukisan telah mengabadikan mitos eternai ini; ini adalah seni pertunjukan India yang telah bertindak sebagai sebuah tali hidup dengan zaman sekarang" Demikian kuat spirit yang terpancar dari konsep ini memberikan ilham dan inspirasi penekun seni berkarya memuliakan umat manusia. Apa yang jelas di sini adalah kesenian bermula dan berakhir pada suatu kekuatan tertinggi yang senantiasa menjadi idaman setiap seni. MBcuatan itu diberi nama Siwa. Dengan uwnikian kesenian India mempunyai landasan yang kuat dengan arah dan sasaran yang sangat jelas. Ibarat fondasi sebuah bangunan yang siap menyangga beban. Nataraja bertindak sebagai pijakan, memberi inspirasi dan motivasi bagi para seniman dalam berkarya baik disadari atau tidak.

Bangsa Dravida yang mendiami wilayah India Selatan, khususnya Tamil Nadu telah berhasil menggali dan mengembangkan Nataraja yang bersumber dari kitab-kitab Àgama. Sekalipun Siwa Kashmir (Trika) di Kashmir dan Wira Siwa (Lihgayata) di wilayah Karnataka dan sebagaian Wanarashtra Selatan menerima otoritas kitab-kitab Agama, namun di tangan orang-orang suci, inetelektual, seniman bangsa Dravida lahir agama dan filsafat Saiva Siddhànta telah mengembangkan konsep Siwa Nataraja yang begitu tinggi nilainya. Barangkali Agama Saiva Siddhanta mempunyai pengikut terbesar di antara agama-agama yang berkembang di India sekarang. Dinasti-dinasti kerajaan yang pernah muncul dalam panggung sejarah India Selatan pada zaman pertengahan, seperti Pallava, Calukhya, Cola dan sebagainya sangat mendukung kehidupan agama, seni dan budaya.

Dinasti-dinasti itu mempunyai andil yang sangat besar di dalam kehidupan agama, seni dan budaya yang diwarisi sampai sekarang. Kesenian di sini bersifat kuil sentris, artinya seni berkembang didalam konteks kegiataan keagamaan yang berpusat di kuil-kuil. Ada semacam spirit yang kuat bahwa setiap penguasa ingin membuktikan kejayaannya dengan membangun monumen-monumen spiritual seperti kuil-kuil dan kesenian. Dinasti Cola yang berkedudukan di Thanjavur tercatat dalam panggung sejarah India telah banyak sekali berbuat tidak hanya di bidang politik dan ekonomi, tetapi juga kebudayaan dengan membangun begitu banyak kuil untuk memuja Siwa dengan arsitektur yang khas India Selatan. Gopuram kuil nampak begitu megah, agung dan suci. Sepintas Gopuram sebagai pintu utama memasuki kuil mirip dengan gelungkori pura-pura di Bali. Raja-raja pada awal abad ke -11 Masehi tercatat telah membangun banyak kuil untuk memuliakan Siwa.

Kuil Rajarajesvara di Thanjavur barang kali yang terbesar dan megah di India Selatan. Salah satu arca besar Siwa dipuja di sini adalah Adavallan (Penguasa Tari). Yang perlu dicatat lagi di sini adalah pada zaman dinasti inilah (abad ke 11-13 M.) konsep Nataraja ini dikonkretkan menjadi bentuk visual sebagai perwujudan rasa bhaktidm religiusitas yang mendalam. Abad pertengahan ini boleh dikatakan abad kebangkitan kebudayaan bangsa Dravida sebagai wujud dialog antara tradisi Weda dan Saiwa Agama. Ini merupakan penemuan yang orisinal dan menjadi tidak hanya kebanggaan bangsa Dravida tetapi India (Bharata) secara keseluruhan.

Sejak itu Siwaisme berkembang pesat dan pengaruhnya tidak hanya dirasakan di dalam negeri India sendiri, tetapi juga telah merasuk ke luar India, seperti di Asia Tenggara. Kamboja, Laos, Vietnam, Myanmar (Burma), Thailand, Malaysia pernah pada suatu zaman silam Siwaisme berkembang secara meluas. Kuil Angkor Vat di Kamboja sangat kental dengan elemen-elemen Siwaisme. Jawa pada zaman Jawa Tengah dan Timur (sekitar abad ke 7 sampai dengan 10 Masehi) sangat kuat mendapat pengaruh India Selatan. Beberapa relief di dinding luar Candi Prambanan (abad ke-9 Masehi) memperlihatkan wujud Siwa sebagai penari. Begitu juga arca utama pada Candi Siwa memperlihatkan bentuk lihga-nya dengan posisi natyahasta. Konsep Siwa Nataraja selanjutkan ditanggapi oleh seniman Bali dengan bentuk dan ekspresi khas Bali.

Siwa Nataraja sebagai sebuah konsep lahir dari paham Siwaisme khususnya Saiva Siddhanta yang berkembang di India Selatan pada abad ke-12 Masehi, namun sebagai sebuah ajaran, Siwaisme sudah ada pada peradaban lembah sungai Sindhu yang pra Weda, kendatipun paham ini pada awalnya belum maju, sistematik atau mapan seperti sekarang. Wujud Siwa dalam bentuk Pasupati seperti tergambar dalam materai-materia tanah liat dan benda-benda lain yang terkait dengan pemujaan kepada Siwa dan dewi ditemukan di Harappa dan Mohenjodaro memperlihatkan bahwa paham ini memang sudah berkembang jauh sebelum bangsa Arya datang ke India (Bharata). Sejak itu dua paham besar Siwaisme dan Weda berkembang berdampingan, saling meminjam istilah, ada kalanya satu lebih dominan dari yang lain, dan sebaliknya. Keduanya berinteraksi melakukan dialog dan melahirkan suatu peradaban Weda yang selalu konteksual dengan zamannya.

3. Siwa -Lingga

Siwa identik dengan lihga. Siwa disimbolkan dengan lihga. Yang perlu direnungkan adalah mengapa lihga. digunakan sebagai sibol Siwa, mengapa bukan yang lain? Jika kita mencoba memahami hakikat Siwa seperti dilukiskan di dalam kesusastraan Weda, khususnya di dalam kitab-kitab Upanisad, maka kita segera1 bisa memahami mengapa linga digunakan sebagai simbol Siwa. Kata 'linga' telah digunakan untuk mengacu kepada Purusa kosmik sebagai 'alihga' dalam pengertian bahwa ia tidak mempunyai tanda atau karakteristik pembeda apapun.

Svetasvatara Upanisad, sumber pertama yang memberikan ekspos filsafat ajaran Siwa juga menjelaskan realitas tertinggi dalam cara yang sama. Rudra/ Siwa yang tak terbatas, yang menjadi sumber dan penopang segalanya adalah tak dapat dipahami melalui alat-alat pengetahuan (pramana), atau singkatnya tidak dapat dijamah oleh akal (tarka) dan perasaan (rasa) manusia. Beliau nirguna (tanpa sifat), nirvisesa, nirvikara (tanpa bentuk), dan seterusnya. Apa yang mempunyai tanda-tanda pembeda dapat dikonsepkan, dapat divisuaikan di dalam pikiran, yaitu apa yang dapat dikonsepkan harus mempunyai sebuah nama (nama) dan bentuk (rupa). Tetapi apa yang tidak dapat dikonsepkan. tidak dapat diwujudkan dengan suatu bentuk yang ditandai oleh tanda-tanda jati diri. Oleh karena ada keinginan dirasakan untuk menemukan suatu bentuk/bayangan untuk pemujaan suatu deva yang dipilih, maka linga dipikirkan sebagai simbol atau bentuk yang paling sesuai. Pemuja Siwa berfkir Siwa tidak dapat direpresentasikan dengan suatu simbol atau bentuk karena ia adalah tanpa bentuk dan juga pada saat yang sama Siwa adalah semua bentuk.

Tradisi Saiwa Siddhanta lebih lanjut mengembangkan konsep Siwa dengan bentuk dan tanpa bentuk. Dari pada berhenti dengan bentuk dua dimensi Siwa, mereka menambahkan satu lagi. Mereka berpegang bahwa Siwa adalah tanpa bentuk, dengan bentuk dan dengan-dan-tanpa bentuk. Pada tataran permukaan, ungkapan ini nampaknya sebuah kontradiksi. Bagaimana mungkin suatu yang berbentuk bisa pada yang sama tak berbentuk? Para pengikut ajaran Saiva Siddhanta berpegang bahwa bentuk Siwa adalah sebuah bentuk anugrah (anugraha) dan manifestasinya, oleh karena itu, berbeda menurut kedadaan. Ketika dikatakan bahwa Siwa tanpa bentuk, hal ini dimaksudkan memberikan penekanannya pada aspek transendental-Nya.

Pada saat yang sama, Siwa dikatakan mempunyai bentuk yang ia asumsikan bagi keuntungan jiwa-jiwa. Bentuk-bentuknya menjadi beraneka rupa, misalnya Uma Mahesvara. Daksisamurti, Asta Murti, Tri Murti Ardhanarisvari, Panca Aksara. Siwa-Sakti, dan sebagainya. sesuai dengan fungsinya. Beliau bisa dipanggil dengan berbagai bentuk. Dalam kitab-kitab purana, misalnya Siwa Purana, Siwa diberi bentuk dengan seribu nama (sahasranama). Salah satu bentuk Siwa yang menjadi perhatian kita adalah Siwa Nataraja. Siwa Nataraja adalah salah satu bentuk Siwa yang divisualkan sebagai penari kosmis untuk kepentingan jiwa-jiwa agar mereka dapat lepas dari belenggu samsara.

Siwa Nataraja yang diwujudkan dalam bentuk tiga dimensi oleh seniman mengandung makna yang sangat dalam sebagai konkretisasi ajaran Saiwa Siddhanta. Di sini terdapat banyak simbol yang sarat makna. Gerakan-gerakan tangan, kaki, badan, jemari tangan, jemari kaki, kepala, rambut, roman muka, dan sebagainya menandakan makna filsafati, estetika, dan mistik. Konsep Siwa Nataraja ini berkaitan dengan konsep Pancakrtya, Panca Aksara. Panca Brahma, dan Pranawa, konsep-konsep mendasar di dalam ajaran Saiva Siddhanta. Pemaknaannya menjadi sangat penting di dalam upaya setiap seniman melakukan perjalanan rohani. Memang ajaran agama Hindu sarat dengan simbol yang perlu dikupas secara estetika, spiritual dan etika. Apa yang tersirat di dalam tersurat? Makna (meaning) apa yang ada di dalam suatu bentuk (form)? (Lanjutan)

Source: I.B Putu Suamba l Warta Hindu Dharma NO. 486 Juni 2007